Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

DPRD Pontianak Siapkan Pengawasan Ketat Harga Pangan Menjelang Imlek dan Ramadan

Siti Sulbiyah • Selasa, 10 Februari 2026 | 11:42 WIB

 

Ilustrasi sembako.
Ilustrasi sembako.

PONTIANAK POST - Harga kebutuhan pokok menjelang perayaan Imlek dan bulan suci Ramadan 2026 menjadi perhatian. Dua momentum besar ini dinilai rawan memicu lonjakan harga bahan pangan di pasaran.

Anggota DPRD Kota Pontianak, Husin, mengatakan Komisi III DPRD mulai menyiapkan langkah pengawasan guna mengantisipasi kenaikan harga sembako yang kerap terjadi setiap menjelang hari besar keagamaan. Menurutnya, Komisi III akan melakukan kunjungan ke sejumlah pasar.

“Kami di Komisi III akan melakukan kunjungan pasar, terutama di pasar modern dan pasar tradisional,” ujarnya, Senin (9/2).

Ia menjelaskan, pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa harga kebutuhan pokok cenderung meningkat saat Ramadan. Komoditas yang biasanya mengalami kenaikan antara lain gula pasir, tepung, telur, serta sejumlah bahan pangan lainnya.

Selain kunjungan ke pasar, DPRD juga meminta Dinas Perdagangan Kota Pontianak untuk meningkatkan pengawasan terhadap distributor agar tidak menaikkan harga secara tidak wajar.

 “Kami minta Dinas Perdagangan memantau distributor agar tidak menaikkan harga kebutuhan pokok. Ini yang sedang kami kerjakan,” tegas Husin.

Sementara itu, perkembangan harga berbagai komoditas pada Januari 2026 menunjukkan tren kenaikan. Hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar di lima kabupaten/kota mencatat inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 3,33 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 105,57 pada Januari 2025 menjadi 109,09 pada Januari 2026. 

“Adapun Inflasi bulanan tercatat 0,27 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date) juga sebesar 0,27 persen,” ungkap Kepala Bagian Umum BPS Kalbar, Yunita.

Pada Januari 2026, seluruh kota IHK yang berjumlah lima kabupaten/kota di Kalimantan Barat mengalami inflasi y-on-y. Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kabupaten Sintang sebesar 4,52 persen dengan IHK sebesar 109,05. Sementara itu, inflasi y-on-y terendah terjadi di Kota Pontianak sebesar 2,74 persen dengan IHK sebesar 108,00

Komoditas yang dominan menyumbang inflasi bulanan antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, ikan nila, jeruk, sigaret putih mesin (SPM), ikan baung, ikan bawal, serta cumi-cumi. Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi m-to-m, antara lain timun, semangka, ikan tongkol, bensin, dan wortel.

Pemerintah Kota Pontianak mencatat kinerja positif dalam pengendalian inflasi. Inflasi tahunan (year on year) Kota Pontianak pada Januari 2026 tercatat sebesar 2,74 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang berada di angka 3,55 persen.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menjelaskan bahwa secara bulanan (month on month), inflasi Pontianak dari Desember 2025 ke Januari 2026 hanya sebesar 0,07 persen. Angka tersebut dinilai sangat rendah dan masih berada dalam rentang sasaran pengendalian inflasi, yakni 0,5 hingga 2,5 persen.

“Secara umum, inflasi Kota Pontianak menjadi yang terendah di Kalimantan Barat, bahkan lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional. Ini menunjukkan pengendalian inflasi kita berjalan cukup baik,” ujarnya usai mengikuti rapat TPID.

Menurut Edi, tekanan inflasi nasional saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh pencabutan subsidi tarif listrik serta kenaikan harga komoditas non-pangan seperti emas. Sementara untuk kebutuhan pokok di Kota Pontianak, kondisi masih relatif stabil.

“Untuk komoditas pangan seperti ayam ras memang ada sedikit kenaikan, namun itu lebih dipengaruhi faktor psikologis masyarakat menjelang Ramadan dan Imlek. Secara umum, stok dan harga masih aman,” jelasnya.

Ia menambahkan, TPID Kota Pontianak bersama instansi terkait seperti Bank Indonesia, BPS, Pertamina, dan Bulog terus melakukan pemantauan langsung ke lapangan guna memastikan distribusi dan ketersediaan barang tetap terjaga. Saat ini dipastikan semua ketersediaan dan kebutuhan bahan makanan pokok tetap terkendali. 

Edi juga mengingatkan adanya potensi kenaikan harga pada Februari 2026, terutama dari sektor transportasi udara. Hal tersebut diperkirakan dipengaruhi oleh meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang musim mudik serta kedatangan tamu saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh.

“Kita tetap waspada, terutama pada komponen yang sensitif seperti tiket pesawat. Namun secara keseluruhan, kondisi inflasi Kota Pontianak masih sangat terkendali,” tutupnya.(iza/sti)

Editor : Hanif
#harga pangan #sembako #ramadan #imlek #lonjakan harga #dprd pontianak