PONTIANAK — Sebanyak 48 jamaah Umrah Ramadhan yang diberangkatkan oleh PT Muzdalifah Pontianak resmi dilepas di Aula Jabal Uhud, Asrama Haji Kalbar, Sabtu (14/2/2026). Prosesi pelepasan dilakukan oleh Kepala Bidang Bina Haji dan Umrah Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Kalimantan Barat, Moh. Ma’sum Ahmadi, S.Ag, ME, mewakili pimpinan Kanwil.
Direktur PT Muzdalifah Pontianak, H. Kholil, SH, M.Hum mengatakan, program Umrah Ramadhan ini dirancang selama 12 hari dengan fokus utama memperbanyak ibadah di Tanah Suci.
“Bulan Ramadhan memang menjadi waktu favorit jamaah untuk umrah. Di Arab Saudi saat ini sudah terdata sekitar dua juta jamaah dari berbagai negara, dan puncak kepadatan biasanya terjadi pada sepuluh hari terakhir menjelang Idulfitri,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi cuaca di Makkah dan Madinah saat ini relatif sejuk dan dingin sehingga cukup mendukung kenyamanan jamaah dalam menjalankan rangkaian ibadah.
Dalam sambutannya, Moh. Ma’sum Ahmadi memberikan apresiasi kepada PT Muzdalifah Pontianak yang dinilai konsisten menjalin komunikasi serta kerja sama dengan Kanwil Kemhaj Kalbar dalam setiap proses pemberangkatan umrah.
“Kami sangat mengapresiasi sinergi yang selama ini terbangun dengan PT Muzdalifah. Inilah contoh travel yang tertib regulasi dan berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah,” ujarnya.
Ma’sum juga mengungkapkan rencana Kanwil Kemhaj Kalbar untuk mendorong sistem pelayanan satu pintu dalam pelaksanaan umrah. Sistem ini bertujuan memberikan kemudahan, kenyamanan, sekaligus kepastian layanan bagi jamaah sejak proses pendaftaran hingga kepulangan.
“Selama ini masih ada travel yang bermasalah, bahkan sampai wanprestasi dan keluar dari aturan. Ini harus kita hindari bersama agar jamaah tidak dirugikan,” tegasnya.
Ia kemudian menekankan pentingnya prinsip lima pasti yang wajib dipenuhi oleh penyelenggara perjalanan umrah, yakni pasti tanggal keberangkatan dan kepulangan, pasti hotel, pasti pesawat, pasti jadwal kegiatan, serta pasti biaya.
“Jangan sampai jamaah terlantar di Arab Saudi karena tidak ada kepastian tiket pulang, bahkan ada yang harus patungan biaya tambahan. Ada juga kasus hotel tidak tersedia kamar. Hal-hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi,” ujarnya.
Menurutnya, travel umrah perlu mencontoh pola kerja PT Muzdalifah yang selalu menginformasikan dan mengoordinasikan setiap keberangkatan jamaah dengan Kanwil Kemhaj Kalbar.
Selain aspek pelayanan, Ma’sum juga mengingatkan jamaah pentingnya memahami aturan serta budaya di Arab Saudi sebagai tuan rumah penyelenggaraan ibadah umrah.
“Umrah mempertemukan jutaan manusia dari berbagai negara. Kita wajib menghormati budaya setempat. Ada kebiasaan yang di Indonesia dianggap biasa, namun di sana dipandang kurang pantas. Memahami ini penting agar ibadah berjalan khusyuk dan tidak menimbulkan persoalan,” pesannya.
Dengan penguatan sinergi antara pemerintah dan penyelenggara perjalanan umrah, Kanwil Kemhaj Kalbar berharap pelayanan umrah di Kalimantan Barat semakin profesional, aman, serta memberi rasa tenang bagi jamaah dalam menunaikan ibadah di Tanah Suci.**
Editor : Salman Busrah