Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Harga Sawit Kalbar Naik di Awal 2026, Kesejahteraan Petani Meningkat

Siti Sulbiyah • Sabtu, 21 Februari 2026 | 10:42 WIB

Kepala Disbunnak Kalbar, Ignasius IK
Kepala Disbunnak Kalbar, Ignasius IK

PONTIANAK POST - Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Barat, Ignasius IK, menyampaikan bahwa tren harga sawit pada awal tahun hingga menjelang akhir Februari 2026 ini relatif meningkat. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani subsektor perkebunan.

Ia mengungkapkan bahwa harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit saat ini tercatat di atas 3.000 rupiah per kilogram. “Kalau kita lihat harga TBS terakhir masih di atas 3.000 per kg,” ungkap Ignasius, Jumat (20/1).

Kondisi harga yang relatif stabil ini memberikan kabar baik bagi petani sawit di Kalbar, yang jumlahnya cukup besar. Menurutnya, dengan kenaikan harga yang terjadi, pendapatan para petani juga ikut terangkat, sehingga mereka tidak terlalu terbebani oleh kondisi ekonomi saat ini.

“Ya paling tidak dengan situasi di mana harga-harga naik tapi pendapatan juga naik, ya relatif tertolong lah tidak terlalu terbebani masyarakat,” lanjut Ignasius.

Namun demikian, Ignasius juga mengingatkan para petani untuk menjaga kualitas buah sawit mereka. Hal ini sangat penting karena harga yang diterima sangat bergantung pada kualitas TBS, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh ketelusuran asal-muasal bibit yang digunakan. Ia mengingatkan bahwa bibit yang tidak berkualitas dapat mempengaruhi hasil, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

“Kalau kita mulai menanam bibit dengan bibit yang tak bagus, nanti outputnya akan terpengaruh. Oleh karena itu, kita harus berusaha menata kembali cara menanam, memilih bibit yang baik, merawatnya dengan baik, dan menjaga kualitasnya,” jelasnya.

Selain itu, Ignasius juga menyoroti pentingnya pemilihan bibit sawit yang tepat. Ia menyebutkan bahwa seringkali petani mengambil bibit yang jatuh dari pohon sawit, yang umumnya tidak berkualitas. Ketelusuran bibit, terutama yang digunakan oleh petani mandiri, menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan kualitas dan kuantitas hasil kebun sawit.

Dari sisi kesejahteraan, data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat menunjukkan bahwa sektor perkebunan sawit memberikan kontribusi signifikan terhadap nilai tukar petani (NTP). Pada Januari 2026, NTP Kalimantan Barat tercatat sebesar 167,99 poin, dengan subsektor perkebunan rakyat tercatat memiliki NTP tertinggi, yaitu 206,40.

NTP subsektor perkebunan jauh di atas subsektor lainnya. BPS mencatat pada Januari 2026, NTP subsektor tanaman pangan tercatat 100,73 poin, subsektor hortikultura 109,36 poin, dan subsektor peternakan 99,30 poin. Sementara itu, subsektor perikanan dan kelautan juga menunjukkan angka yang cukup stabil, dengan NTP nelayan tercatat 100,20 poin, dan pembudidaya ikan 101,06 poin.

Dengan tren positif ini, Ignasius pun berharap para petani sawit  dapat memanfaatkan momentum ini untuk terus meningkatkan produktivitas dan menjaga kualitas kebun mereka demi keberlanjutan sektor perkebunan di provinsi ini. (sti)

Editor : Hanif
#harga sawit #kesejahteraan petani #kalbar #kontribusi #sektor perkebunan #NTP