PONTIANAK POST - Di tengah meriahnya perayaan Imlek dan Cap Go Meh, Festival Arakan Naga selalu menjadi pusat perhatian.
Gerakannya memukau ribuan pasang mata. Namun, di balik keindahan itu, terdapat tangan-tangan terampil para perajin yang merakit tubuh naga dari rangka hingga balutan kain. Bahkan, ada perajin yang menempuh proses belajar hingga 13 tahun demi menghadirkan naga yang layak tampil.
Di kediamannya di Gang Kamboja, tepian Sungai Kapuas, Pontianak, Hermanto yang akrab disapa Aseng, berbagi kisah kepada Pontianak Post tentang perjalanan panjangnya dalam membuat replika naga, mulai dari proses belajar hingga akhirnya mampu menghasilkan karya pertamanya tahun ini.
Aseng menuturkan, ia membutuhkan waktu 13 tahun untuk mencapai tahap tersebut. Pada awalnya, ia hanya bekerja sebagai teknisi pemasang lampu naga.
Baca Juga: Tradisi Naga di Pontianak, Bedakan Ritual dan Atraksi dalam Perayaan Imlek–Cap Go Meh
Dari pekerjaan itu, ia semakin memahami struktur dan kerangka tubuh naga. Ketertarikannya pun tumbuh hingga perlahan ia mempelajari cara membuat kerangka naga sendiri.
Menurutnya, membuat kerangka naga bukan perkara mudah, terutama pada bagian kepala, leher, dan ekor. “Bagian ini yang paling sulit. Harus benar-benar teliti saat membuatnya,” ujarnya.
Tahun ini, Aseng memberanikan diri membuat satu ekor naga sepanjang 55 meter untuk tampil di Festival Arakan Naga Pontianak.
“Rasanya cukup bangga,” katanya.
Pengerjaan naga perdana itu dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Bersama dua rekannya, ia menyelesaikan pembuatan dalam waktu beberapa bulan.
Seluruh tahapan, mulai dari perakitan kerangka hingga penyelesaian akhir, dikerjakan di rumahnya.
Baca Juga: Rayakan Imlek dengan Aman, Satgas Preemtif Direktorat Binmas Intensifkan Himbauan di Titik Keramaian
“Semua tahapan pembuatan naga saya kerjakan di rumah,” ungkapnya.
Setelah rampung, pemesan mengaku puas dengan hasil karyanya. Dari mulut ke mulut, nama Aseng mulai dikenal sebagai pembuat naga. Bahkan, untuk tahun depan ia telah menerima lima pesanan pembuatan naga.
Harga pembuatan replika naga bervariasi, bergantung pada panjang serta jumlah bahan yang digunakan. Aseng mematok harga antara Rp25 juta hingga Rp45 juta untuk satu replika naga.
Dalam proses pembuatannya, Aseng juga mempertimbangkan hari baik berdasarkan kalender Tionghoa.
Menurutnya, jika tahapan tidak mengikuti hari yang tepat, kerap muncul kendala, seperti bentuk yang kurang serasi atau pergerakan yang tidak sempurna saat dimainkan.
Baca Juga: Atraksi Sang Kelabang dan Sang Jago Meriahkan Perayaan Imlek 2577 di Singkawang
“Jika tidak memperhatikan hari baik, kadang ada saja kendalanya,” tutur pria berusia 32 tahun itu.
Setelah atraksi di Festival Arakan Naga, replika naga akan “membuka mata” dan kemudian dibakar.
Dalam tradisi Tionghoa, pembakaran dilakukan karena naga dianggap sebagai makhluk langit sehingga tidak boleh disimpan setelah arak-arakan selesai. Hal ini berbeda dengan barongsai yang melambangkan makhluk bumi dan tidak wajib dibakar setelah digunakan.
Aseng menambahkan, jumlah pembuat naga di Pontianak tidak banyak, diperkirakan hanya sekitar tujuh orang. Dari jumlah tersebut, yang benar-benar mendalami pembuatan secara detail hanya dua hingga tiga orang.
Untuk menyelesaikan lima pesanan tahun depan, ia telah menyiapkan tim yang terdiri atas orang-orang yang serius menekuni pembuatan naga.
Baca Juga: Berpuasa Ramadan di Tengah Atraksi Naga, A Pel Tetap Berlatih Demi Kebersamaan
Baginya, seni membuat naga merupakan bagian dari warisan budaya yang harus dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Setelah saya pensiun nanti, harus ada penerus. Dengan begitu, seni membuat naga di Pontianak tetap hidup dan mengalami regenerasi,” tutupnya.
Upaya Menjaga Warisan Seni
Perajin naga lainnya, Edwin, memulai kiprahnya sejak 2019. Saat itu, ia belajar langsung dari seorang maestro bernama Anex.
Setelah sang guru wafat, Edwin memutuskan melanjutkan keterampilan tersebut secara mandiri. Baginya, merangkai naga bukan semata urusan bisnis, tetapi juga upaya menjaga warisan seni yang telah diwariskan kepadanya.
Menurut Edwin, tidak ada ritual khusus dalam membuat replika naga. Ia kerap dibantu sejumlah rekan yang berbagi tugas, mulai dari merangkai kawat hingga memasang sisik. Orang tuanya pun sering ikut membantu merakit rangka kayu dan rotan yang menjadi tulang punggung replika naga.
“Pembuatan satu naga memerlukan waktu sekitar satu hingga satu setengah bulan,” ujar Edwin.
Baca Juga: Volume Sampah di Pontianak Melonjak 20% Selama Imlek, DLH Tambah Jam Kerja Petugas
Edwin tercatat telah memproduksi 10 replika naga, terdiri atas delapan naga besar dengan panjang sekitar 40 meter dan dua naga berukuran lebih kecil dengan panjang sekitar 35 meter.
Meski puncak festival berlangsung pada Februari, pengerjaan pesanan telah dimulai sejak tujuh bulan sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas, mengingat setiap yayasan memiliki permintaan model dan detail yang berbeda.
“Pesanan tidak hanya datang dari Pontianak, tetapi juga dari luar kota. Setiap naga dibuat sesuai karakter dan model yang diinginkan pemesan,” jelasnya.
Nilai seni dan kerja keras tersebut sebanding dengan biaya produksi. Satu replika naga dibanderol antara Rp20 juta hingga Rp30 juta, bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan detail. (iza/yad)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro