PONTIANAK POST - Kendati bukan berasal dari etnis Tionghoa, A Pel alias A Pel bergabung sebagai pemain dalam pagelaran naga Merdeka. Tahun ini, ia tetap beratraksi sambil menjalankan ibadah puasa.
“Saya Islam. Ini pertama kalinya saya harus latihan dan tampil dalam pertunjukan naga di bulan Ramadan,” ujar A Pel.
Menurutnya, meskipun terasa berat, ia tetap berkomitmen menjalankan puasa.
“Sebagai Muslim, saya tetap berusaha berpuasa karena sudah menjadi pilihan saya untuk ikut memeriahkan pagelaran naga sekaligus menjalankan kewajiban sebagai umat Islam,” kata pemuda berusia 25 tahun itu.
A Pel menuturkan ketertarikannya pada pagelaran naga bermula saat menyaksikan perayaan Cap Go Meh. Atraksi barongsai dan naga yang meliuk penuh semangat menarik perhatiannya.
Bergabung dengan komunitas yang mayoritas anggotanya berasal dari keturunan Tionghoa bukan hal mudah bagi A Pel. Pada awalnya, ia merasa canggung dan asing.
“Seperti biasa, yang tidak kenal menjadi kenal. Memang dari awal agak canggung, tetapi ternyata sama seperti memulai hubungan baru dengan orang yang belum dikenal,” kenangnya.
Menjadi pemain naga, khususnya sebagai pemain kepala, memiliki tantangan tersendiri. A Pel harus menanggung beban kepala naga yang beratnya dapat mencapai 15 kilogram. Latihan pagelaran naga dilakukan dua kali dalam sepekan dengan persiapan intensif sejak Desember hingga Januari.
“Kalau dibilang berat, pada awalnya memang terasa berat. Namun, setelah rutin latihan dan menjalaninya dengan senang, jadi tidak terasa,” jelasnya.
Bagi A Pel, kondisi fisik yang prima menjadi kunci utama dalam menjalani peran tersebut. Untuk menjaga stamina, ia melakukan latihan fisik secara intens, seperti lari dan angkat beban.
“Biasanya saya latihan lari untuk stamina agar tetap fit saat hari H. Saya juga angkat beban karena sebagai pemain kepala bebannya sekitar 15 kilogram,” ujarnya.
Ia menambahkan, menjadi pemain naga bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga kekompakan tim.
Selain kondisi fisik yang baik, terdapat syarat lain yang harus dipenuhi, seperti izin orang tua dan tinggi badan minimal 165 sentimeter. Namun, yang terpenting adalah kerja sama antarpemain.
“Agar naga terlihat hidup dan meliuk-liuk, kami harus kompak, mulai dari pemain bola api, kepala, ruas, hingga ekor. Pemain musik juga harus selaras agar iramanya terdengar indah,” tutur A Pel.
Selain memeriahkan acara, A Pel merasakan banyak manfaat selama bergabung sebagai pemain naga. Ia memperoleh teman baru, memperluas relasi, serta menambah pengalaman hidup.
“Menambah teman baru, pengalaman baru yang seru, dan tentunya memperluas relasi,” ungkapnya.
Bagi A Pel, Imlek dan pagelaran naga bukan sekadar perayaan, melainkan perjalanan sosial yang mempertemukannya dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Ia belajar tentang kebersamaan, semangat, dan kemampuan beradaptasi dalam kehidupan sosial yang beragam.
“Pengalaman ini mengajarkan pentingnya kerja sama dan menjaga hubungan antarsesama,” pungkasnya. (uni)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro