Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tradisi Naga di Pontianak, Bedakan Ritual dan Atraksi dalam Perayaan Imlek–Cap Go Meh

Novantar Ramses Negara • Minggu, 22 Februari 2026 | 21:40 WIB

Sugioto, Ketua Umum Pengprov FOBI Kalbar
Sugioto, Ketua Umum Pengprov FOBI Kalbar

PONTIANAK POST – Tradisi naga dalam rangkaian perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Pontianak masih terus dipertahankan hingga kini.

Dalam praktiknya, terdapat perbedaan antara naga yang digunakan untuk keperluan ritual dan naga yang ditampilkan untuk perlombaan maupun atraksi biasa.

Sugioto, yang juga dikenal dengan nama Rico, menjelaskan bahwa dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, naga merupakan simbol kehormatan dan kejayaan.

Karena itu, pada naga tertentu dilakukan prosesi yang disebut “buka mata”. Prosesi ini dilaksanakan pada hari ke-13 setelah Imlek, menjelang Cap Go Meh yang jatuh pada hari ke-15.

“Buka mata itu mengundang roh naga masuk ke replika naga tersebut,” ujarnya.

Ia menuturkan, prosesi tersebut hanya dilakukan pada naga yang memang disiapkan untuk keperluan ritual. Setelah seluruh rangkaian perayaan selesai, naga yang telah diritualkan biasanya dibakar sebagai bagian dari tradisi penutup.

Namun, tidak semua naga melalui tahapan tersebut. Ia membedakan secara tegas antara naga ritual dan naga perlombaan.

Untuk perlombaan, tidak ada prosesi spiritual dan sudah terdapat regulasi yang mengatur ukuran, berat, serta teknis permainan.

“Kalau naga perlombaan tidak ada ritual. Ada regulasi yang mengatur ukuran dan beratnya,” katanya.

Sugioto, warga Jalan Purnama, Pontianak Selatan, mengatakan bahwa pada naga atraksi yang tidak dilombakan, bentuk dan detailnya relatif lebih bebas.

Ukuran kepala, panjang badan, hingga detail seperti hidung dan janggut disesuaikan dengan kreativitas pembuat serta kemampuan pemain.

Kepala naga berukuran besar dapat dimainkan oleh tujuh hingga sembilan orang karena bobotnya cukup berat.

Atraksi naga umumnya digelar pada malam hari agar gerakan terlihat lebih jelas dengan bantuan pencahayaan.

Selain naga, barongsai juga menjadi bagian dari perayaan. Berbeda dengan naga ritual, barongsai bersifat pertunjukan dan kompetisi tanpa prosesi khusus.

Pria kelahiran Kumpai itu menambahkan, keterlibatannya dalam organisasi pemadam kebakaran berkaitan erat dengan aktivitas atraksi naga.

Ia juga menjabat sebagai Ketua Pemadam Kebakaran Merdeka serta Ketua Pemadam Mitra Khatulistiwa. Menurutnya, kelompok pemadam kebakaran swasta di Pontianak menjadi komunitas yang paling banyak memiliki naga.

Kegiatan atraksi, kata dia, dimanfaatkan untuk menghimpun dana bagi kegiatan sosial dan operasional pemadaman kebakaran.

“Melalui acara seperti ini, kami bisa berpartisipasi. Selain memberikan atraksi, juga menghimpun dana untuk kegiatan sosial,” ujarnya.

Biaya pembuatan satu replika naga bervariasi, tergantung ukuran dan bahan yang digunakan, mulai dari belasan juta hingga sekitar Rp50 juta. Bagian yang paling sulit dibuat adalah kepala naga karena membutuhkan keahlian khusus.

“Tidak semua orang bisa membuat kepala naga,” katanya.

Untuk pendanaan, pengurus biasanya menalangi biaya terlebih dahulu jika dana belum tersedia.

Setelah kegiatan berlangsung dan ada partisipasi masyarakat, biaya tersebut diganti. Jika terdapat kelebihan dana, maka dimanfaatkan untuk kegiatan sosial atau kebutuhan internal komunitas.

Ia menekankan pentingnya regenerasi dalam menjaga keberlanjutan tradisi. Para senior, menurutnya, perlu berbagi keterampilan kepada generasi muda agar tradisi naga dan barongsai tetap terjaga.

“Kita tidak boleh ego. Keahlian itu harus dibagikan supaya tidak terputus,” ujarnya.

Menurutnya, hingga kini proses regenerasi di Pontianak masih berjalan cukup baik. Dengan pembinaan berkelanjutan dan dukungan komunitas, tradisi naga dan barongsai diharapkan tetap menjadi bagian dari agenda budaya tahunan sekaligus memberi manfaat sosial bagi masyarakat. (mse)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#kalimantan #Sugioto #tionghoa #ramadan #imlek #pontianak #naga #cap go meh #tradisi