PONTIANAK POST - Di tengah ibadah puasa Ramadan, para relawan Sahabat Alam Community (SAC) tetap menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan.
Mereka menggelar aksi penanaman pohon serta menebarkan 10 ribu bibit ikan ke sejumlah pesantren di Kubu Raya.
Kegiatan ini bertujuan mendukung kelestarian alam sekaligus membantu penyediaan sumber pangan berkelanjutan bagi para santri.
Sejak pukul 07.00 WIB, relawan SAC sudah memulai aktivitas penanaman pohon. Menjelang siang mereka beristirahat, lalu kembali bekerja hingga sore hari. Ritme tersebut tidak berubah meski sedang menjalankan ibadah puasa.
“Puasa tetap jalan, penanaman juga tetap jalan,” ujar Ketua SAC, Amirullah (43), yang akrab disapa Amir.
Sambil bekerja, Amir menuturkan SAC resmi terbentuk pada 2019, meski aktivitasnya telah dimulai jauh sebelumnya. Pada awalnya, komunitas ini memproduksi bibit pohon seperti trembesi, sungkai, dan berbagai tanaman hutan lainnya. Setelah jumlah bibit mencukupi, mereka mulai melakukan penanaman secara bertahap.
Seluruh kegiatan dilakukan secara sukarela. Seiring waktu, SAC mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. Bantuan tersebut menjadi modal awal untuk menjalankan program secara lebih terarah.
Selain itu, komunitas juga mengembangkan usaha penjualan tanaman agar dana dapat terus berputar sebagai modal pembibitan berikutnya.
Dalam kurun waktu sekitar tujuh tahun, SAC memperkirakan telah menanam lebih dari 100 ribu bibit pohon di berbagai titik.
Tidak hanya pohon hutan, mereka juga menanam tanaman hias dan peneduh jalan seperti pucuk merah, ketapang, akasia, dan mentibar. Fokusnya adalah menciptakan kawasan yang lebih sejuk dan tertata, terutama di tepi jalan dan lingkungan perkantoran desa.
Jumlah anggota aktif komunitas ini sekitar 50 orang yang tersebar di sejumlah desa. Mereka juga rutin memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian alam.
“Saya memang akrab dengan tanaman dan lingkungan karena berkuliah di Fakultas Kehutanan dan menempuh pendidikan SMA di bidang pertanian. Saya ingin kawasan yang gersang, dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan, berubah menjadi hijau dan teduh,” jelas Amir.
Selain penanaman pohon di jalan-jalan utama Kabupaten Kubu Raya, Ramadan tahun ini juga diisi dengan program hortikultura. Sekitar 5.000 bibit sayuran seperti cabai, terong, dan tomat disiapkan untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat.
Tak hanya tanaman, SAC juga mengembangkan program penebaran bibit ikan. Di parit sepanjang sekitar 200 meter di depan kantor bupati, mereka telah menebar sekitar 20 ribu bibit ikan nila, mas, dan lele. Saluran air tersebut sebelumnya dikeruk agar lebih dalam, dipasangi jaring pengaman untuk mencegah predator, serta diatur tingkat keasaman (pH) airnya.
Dalam waktu dekat, penebaran bibit ikan juga akan dilakukan di sejumlah pondok pesantren dan sekolah menengah atas. Setiap lokasi diperkirakan menerima 2.000 hingga 3.000 bibit ikan, dengan total sekitar 10 ribu bibit.
Syaratnya, kolam atau aliran air harus siap dan memenuhi standar agar ikan dapat tumbuh optimal.
Bagi Amir, gerakan ini bukan sekadar penghijauan. Ia menanamkan nilai bahwa menanam pohon merupakan amal jariah.
“Kami Muslim. Menanam pohon itu amal jariah,” katanya.
Namun, upaya penghijauan ini juga menghadapi tantangan, salah satunya terkait pemilihan jenis pohon. Sebagian warga menginginkan pohon buah ditanam di ruang publik. Permintaan tersebut tidak dipenuhi SAC karena dikhawatirkan memicu konflik sosial.
“Pohon buah di ruang publik sering menimbulkan konflik saat musim panen atau ketika buah jatuh ke jalan. Karena itu, kami lebih memilih tanaman peneduh dan penghijauan,” jelas Amir.
Ke depan, SAC berkomitmen melanjutkan program ini secara berkelanjutan. Penanaman, perawatan, dan edukasi masyarakat akan terus berjalan seiring. Mereka juga bekerja sama dengan instansi terkait agar pohon yang sudah ditanam dapat dirawat dengan baik.
“Ramadan bagi kami bukan hanya bulan ibadah ritual. Kami tetap berupaya mendapatkan pahala jariah dengan terus menanam pohon dan berbagi bibit ikan,” pungkas Amir. (mse)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro