Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Krisantus Kurniawan Dorong Sinergi Lintas Sektor dan Produksi Pangan untuk Kendalikan Inflasi Kalbar

Deny Hamdani • Senin, 23 Februari 2026 | 11:41 WIB

 

Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan.
Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan.

PONTIANAK POST – Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan melontarkan kritikannya terkait pola penanganan inflasi yang dinilai selalu berulang setiap menjelang hari besar keagamaan. Ia menegaskan, pemerintah tidak boleh terus-menerus terjebak pada solusi jangka pendek seperti operasi pasar.

“Kita ini macam keledai. Saya setiap tahun ikut rapat inflasi, penyebabnya pasti hari raya besar keagamaan. Selalu dan terus terulang terjadi beberapa komoditi pokok penting naik, ” katanya belum lama ini.

Menurutnya, lonjakan harga bahan pokok menjelang perayaan seperti Imlek, Cap Go Meh, Ramadhan, Idul Fitri hingga Natal selalu terjadi dengan pola yang sama. Beberapa komoditi pokok penting seperti dagig ayam, sapi, kambing, babi, telur, cabai, kedelai, hingga bawang kerap mengalami kenaikan harga signifikan. Akibatnya masyarakat selalu mengeluhkan kenaikan harga tersebut.

"Sering kali bukan lagi kurang, tetapi ada beberapa bahan pokok penting langka sampai berdampak pada kenaikan harga beberapa bahan pokok penting tersebut. Ini yang selama ini tak teratasi,” ujarnya.

Krisantus menilai langkah operasi pasar dan penjualan bahan pangan murah yang kerap dilakukan pemerintah hanyalah solusi sesaat. Ia menyebut pendekatan tersebut tidak menyentuh akar persoalan.

"Operasi pasar itu bukan solusi penyelesaian jangka panjang. Tidak mungkin menjangkau sampai ke daerah-daerah pelosok, terutama masyarakat dengan daya beli rendah,” katanya.

Ia menekankan bahwa pemerintah sebenarnya sudah bisa memprediksi lonjakan kebutuhan setiap menjelang hari besar. Karena itu, menurutnya, strategi yang dibutuhkan adalah penguatan produksi, bukan sekadar intervensi harga ketika gejolak sudah terjadi.

Dalam rapat pengendalian inflasi terakhir, Pemprov Kalbar menyepakati pentingnya kolaborasi lintas sektor dan lintas wilayah. Sinergi tersebut melibatkan dinas kelautan dan perikanan, tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan dan peternakan, pertanian, hingga perindustrian dan perdagangan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

“Bagaimana kita mendorong masyarakat agar memproduksi ayam lebih banyak, telur lebih banyak, ternak sapi, kambing lebih banyak. Tanam bawang, cabai, tomat lebih banyak. Budidaya perikanan juga lebih banyak,” ujarnya.

Menurutnya, peningkatan kapasitas produksi menjadi kunci menjaga stabilitas harga. Dengan pasokan yang cukup, kelangkaan dapat dihindari dan harga tetap terkendali meski permintaan meningkat. Krisantus menegaskan, stabilitas harga sangat berkaitan dengan daya beli masyarakat. Jika produksi meningkat dan pasokan mencukupi, harga akan lebih stabil dan terjangkau. "Maka kebutuhan akan cukup, harga akan stabil, dan daya beli masyarakat mampu menjangkaunya,” katanya.

Ia berharap pola penanganan inflasi di Kalimantan Barat tidak lagi bersifat reaktif, melainkan berbasis perencanaan produksi jangka panjang. Dengan demikian, setiap menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026 serta hari besar lainnya, gejolak harga dapat ditekan tanpa harus mengandalkan langkah darurat. (den)

Editor : Hanif
#sinergi lintas sektor #harga pangan #Wagub Kalbar #Peningkatan Produksi #hari besar