PONTIANAK POST – Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kemenko PMK, Ojat Darojat, mendorong para wisudawan Universitas Terbuka (UT) Pontianak untuk menyiapkan diri menghadapi disrupsi akal imitasi (artificial intelligence/AI) dan transformasi digital yang kian masif.
Pesan itu disampaikan Ojat dalam orasi ilmiah pada Wisuda UT Pontianak bertema “Berlayar di Tengah Gelombang Digital: UT Pontianak Reaching the Unreached”, Sabtu (8/2).
Menurut Ojat, dunia saat ini berada dalam fase perubahan cepat yang didorong revolusi industri 4.0, Internet of Things (IoT), hingga gelombang AI. Teknologi komputasi kini mampu belajar, bernalar, dan memecahkan masalah layaknya manusia.
“Kita sedang berada di lautan perubahan yang didorong oleh sistem komputasi yang memiliki kemampuan mirip makhluk hidup manusia. Inilah inti dari kecerdasan buatan,” ujarnya.
Ia menegaskan, transformasi teknologi bukan lagi pilihan, melainkan arus utama yang menentukan daya saing individu maupun institusi. Karena itu, lulusan perguruan tinggi harus adaptif dan memiliki komitmen pembelajaran sepanjang hayat.
Mengutip data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025, Ojat menyebut jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 229,4 juta orang dengan rata-rata penggunaan 7 jam 22 menit per hari. Di sisi lain, adopsi AI berlangsung sangat cepat. Aplikasi seperti ChatGPT disebut telah menembus ratusan juta pengguna dalam waktu singkat.
“Cloud computing, big data, Internet of Things, dan komputasi kuantum adalah angin kencang yang terus mendorong kapal kita melaju,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Ojat mengibaratkan lulusan sebagai nahkoda yang harus mampu membaca arah angin dan memanfaatkan teknologi secara tepat. Ia menekankan pentingnya pengambilan keputusan berbasis data, kelincahan (agility), serta kemampuan belajar berkelanjutan.
Menurut dia, kuliah di UT menjadi ruang latihan untuk membangun kemandirian dan ketangguhan, terutama dalam sistem pembelajaran jarak jauh. Mahasiswa dituntut mengatur waktu, mengatasi keterbatasan, serta beradaptasi dengan teknologi.
Selain itu, Ojat mengingatkan agar pemanfaatan AI tetap berlandaskan etika dan nilai kemanusiaan. Teknologi, katanya, harus bersifat human-centric, yakni melayani manusia, bukan menggantikannya.
Ia mencontohkan penggunaan AI di sektor kesehatan untuk membantu analisis MRI dan deteksi dini penyakit sebagai bentuk pemanfaatan positif. Sebaliknya, praktik deepfake dan penyesatan informasi menjadi peringatan akan risiko jika teknologi tidak dikelola secara etis.
“Transformasi digital harus dimulai dari tujuan yang jelas. Pendidikan adalah instrumen untuk meningkatkan martabat dan daya saing bangsa,” tegasnya.
Ojat menutup orasi dengan ajakan kepada para wisudawan agar berani menghadapi tantangan zaman. Menurutnya, gelombang digital tidak bisa dihindari, tetapi harus diarungi dengan kesiapan, keterampilan digital, serta kompas nilai yang kuat.
“Pilihan kita hanya dua: menjadi penonton di tepian atau menjadi nahkoda yang berani membentangkan layar,” pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair