PONTIANAK POST - Harga emas naik signifikan sejak awal 2025. Bahkan, kenaikan harga per gramnya mencapai 70 persen. Alih-alih surut, minat masyarakat justru semakin menguat.
Logam mulia itu dipandang sebagai instrumen aman di tengah ketidakpastian ekonomi. Kenaikan harga malah memicu keyakinan bahwa emas tetap investasi menjanjikan.
Investasi emas atau logam mulia masih menjadi pilihan utama sebagian masyarakat sebagai instrumen penyimpan nilai yang aman dan likuid. Soraya salah satunya. Warga Pontianak ini sekitar satu dekade mengenal dan berinvestasi emas.
Kepada Pontianak Post, Jumat (27/2), Soraya menuturkan ketertarikannya pada emas bermula sejak sering melihat berbagai produk logam mulia yang ditawarkan di Pegadaian, mulai dari cicilan emas hingga arisan emas.
“Saya sudah lama kenal instrumen logam mulia, mungkin sudah 10 tahun. Dulu sering lihat produk-produk di Pegadaian. Selain gadai, kan juga ada cicil emas, arisan emas, dan lainnya. Apalagi melihat tren harga emas yang tidak pernah benar-benar turun,” ujarnya.
Soraya mulai aktif berinvestasi emas sejak 2016. Saat itu, harga emas masih berada di kisaran Rp600 ribuan per gram. Kini, menurutnya, harga emas sudah menyentuh hampir Rp3 juta per gram.
“Kalau dibandingkan tahun 2016, harganya masih sekitar Rp600 ribuan per gram. Sekarang sudah hampir Rp3 juta per gram. Kenaikannya sangat signifikan,” katanya.
Baginya, emas merupakan instrumen investasi yang paling likuid. Artinya, mudah dicairkan ketika sewaktu-waktu membutuhkan dana, baik dengan dijual langsung maupun digadaikan.
“Emas itu paling simpel digerakkan kalau ada keperluan. Mau dijual bisa, mau digadaikan juga bisa. Jadi saat butuh uang, kita tidak bingung,” jelasnya.
Dalam praktiknya, Soraya tidak selalu membeli emas secara rutin dalam jumlah besar. Selain membeli logam mulia secara tunai maupun cicilan, ia juga memanfaatkan fitur tabungan emas melalui aplikasi digital Pegadaian.
“Untuk tabungan emas, karena dimudahkan lewat aplikasi, saya sering menyisihkan Rp50 ribu untuk nabung emas. Random saja, kalau lagi ada rezeki langsung top up. Nominal kecil pun tidak masalah, yang penting konsisten,” tuturnya.
Soraya mengaku telah merasakan langsung manfaat dari investasi emas. Salah satunya untuk membiayai hobinya bepergian.
“Saya hobi traveling, dan beberapa kali sumber dananya dari investasi emas ini,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia menilai, di tengah pengaruh kondisi global terhadap harga emas, minat masyarakat untuk membeli logam mulia semakin meningkat. Kenaikan harga yang cenderung signifikan membuat emas dianggap sebagai instrumen lindung nilai yang menjanjikan.
“Saya kira masyarakat sudah sangat yakin, memiliki emas baik logam mulia maupun perhiasan itu menguntungkan. Apalagi sekarang harga emas terus naik karena pengaruh global,” katanya.
Meski demikian, Soraya pribadi lebih menyukai logam mulia dibanding perhiasan. Menurutnya, emas batangan lebih fokus pada nilai investasi, bukan gaya.
“Kalau emas perhiasan kan harus dipakai, nanti terkesan pamer,” ujarnya berseloroh.
Dia pun menyarankan masyarakat yang ingin memulai investasi emas agar tidak ragu, meski dengan modal terbatas.
“Sebaiknya mulai saja dulu. Kalau belum punya dana besar untuk beli tunai, bisa dengan menabung emas lewat Pegadaian, nominal kecil pun bisa. Tapi harus konsisten,” pesannya, sembari mengatakan kunci utama investasi emas bukan pada besarnya nominal awal, melainkan kedisiplinan dan kesabaran dalam menahan aset untuk jangka panjang.
Secara terpisah, Mia, warga Pontianak lainnya, mengaku mulai tertarik berinvestasi emas batangan sejak awal 2011. Saat itu, harga emas masih berada di bawah Rp1 juta per gram. Dengan tekad untuk menabung jangka panjang, dia rutin menyisihkan sebagian penghasilannya setiap bulan untuk membeli emas batangan.
“Memang dari awal niatnya untuk investasi jangka panjang. Jadi bukan untuk dipakai atau dijual cepat, tapi disimpan,” ujarnya.
Mia menuturkan, konsistensi menyisihkan pendapatan menjadi kunci utama. Meski tidak selalu dalam jumlah besar, ia membeli sesuai kemampuan. Seiring waktu, harga emas terus merangkak naik hingga kini berada di atas Rp2 juta per gram. Kenaikan tersebut membuatnya semakin yakin bahwa pilihannya berinvestasi emas batangan sudah tepat.
Menurutnya, emas batangan lebih menguntungkan dibandingkan emas perhiasan. Selain harga yang lebih transparan mengikuti harga pasar, emas batangan juga tidak terbebani biaya tambahan seperti ongkos pembuatan.
“Kalau emas perhiasan biasanya mahal di ongkos upah. Saat dijual lagi, harganya bisa menyusut karena ongkos itu tidak dihitung. Jadi nilainya berkurang,” jelasnya.
Berbeda dengan perhiasan, emas batangan dinilai lebih stabil dari sisi nilai jual kembali. Ia menyebut, selama kondisi emas tetap baik dan disertai sertifikat resmi, proses penjualan kembali relatif mudah dan harga yang diterima mengikuti harga pasar saat itu.
Mia juga melihat emas sebagai bentuk tabungan yang lebih disiplin. Menurutnya, menyimpan uang tunai terkadang lebih mudah terpakai untuk kebutuhan konsumtif. Sementara emas, karena berbentuk fisik dan harus dijual terlebih dahulu untuk dicairkan, membuatnya lebih berpikir panjang sebelum digunakan.
“Kalau uang tunai kadang cepat habis. Tapi kalau emas, kita simpan dan jarang tergoda untuk menjual kecuali memang ada kebutuhan mendesak,” katanya.
Bagi Mia, investasi emas bukan sekadar mengikuti tren, melainkan strategi keuangan yang telah direncanakan sejak lama. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade, dia merasakan langsung bagaimana nilai asetnya bertumbuh seiring waktu. Ia pun mendorong masyarakat untuk mulai berinvestasi sesuai kemampuan, dengan tetap mempertimbangkan tujuan dan jangka waktu yang jelas.
“Yang penting konsisten dan sesuai kemampuan. Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi banyak,” katanya.
Gold Expert PT Pegadaian Area Kalimantan Barat, Radian Fathurahman mengatakan beberapa tahun ke belakang, harga emas terus melonjak. Bahkan puncaknya pernah tembus hingga Rp 3 juta per gram. Bahkan bagi sebagian masyarakat, semakin banyak memilih emas sebagai investasi masa depan.
“Sejatinya harga emas memiliki historis kenaikan harga setiap tahunnya, namun kenaikan sepanjang tahun 2025 (dari Bulan Januari-Desember 2025) sangat signifikan dengan kenaikan harga kurang lebih 70 persen,” ujar Radian kepada Pontianak Post.
Dijelaskan dia di tengah kenaikan harga emas yang cukup signifikan, minat masyarakat yang membeli emas batangan melalui pembiayaan Pegadaian di wilayah Kalimantan Barat cukup besar dikarenakan awareness masyarakat terhadap pentingnya investasi dengan instrumen emas batangan juga cukup meningkat.
Itu terjadi karena emas mengalami kenaikan pesat. Sehingga sebagian masyarakat menilai emas adalah salah satu instrumen investasi yang cukup menjanjikan.
Kata dia, dari data tahun 2025 ada kenaikan sekitar 79 persen jumlah masyarakat yang membeli emas batangan melalui pembiayaan Pegadaian di wilayah Kalimantan Barat bila dibandingkan dengan tahun 2024.
Pada umumnya masih banyak masyarakat yang meminati emas batangan merak Antam, namun belakangan masyarakat juga banyak membeli emas batangan melalui pembiayaan Pegadaian di wilayah Kalimantan Barat dengan merk Galeri 24.
“Seperti yang kami sampaikan, bahwa saat ini daya beli memang sedang diuji dengan kenaikan harga yang tinggi, namun minat masyarakat untuk berinvestasi tetap kuat pada hampir semua segmen masyarakat, apalagi dengan layanan dari Pegadaian, masyarakat tetap dapat berinvestasi dengan emas batangan dengan cara menabung mulai dari 10 ribu di aplikasi Tring! by Pegadaian,” ungkapnya.
Di Pegadaian sendiri untuk bazar atau pameran emas perhiasan juga sering dilakukan. Setiap kegiatan itu, masyarakat cukup antusias. Tidak hanya melihat saja. Mereka melakukan transaksi dengan membeli emas batangan melalui pembiayaan di Pegadaian. Ini membuktikan jika minat masyarakat untuk membeli emas Batangan semakin tinggi.
Terhadap kelangkaan emas, ditambahkannya hanya pada satu brand saja. Namun untuk stok brand lain cukup memenuhi kebutuhan permintaan dari masyarakat.
Bagi masyarakat ingin investasi dengan menabung emas batangan bisa dilakukan di Pegadaian. Dengan harga emas yang semakin melejit, tentunya menabung emas menjadi suatu pilihan bagi masyarakat ke depan.
Minat Tinggi, Stok Terbatas
Minat masyarakat terhadap investasi emas batangan terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut disampaikan oleh distributor emas batangan, Gellis Firdha Auliana, yang telah berkecimpung di bisnis ini sejak 2019.
Menurut Gellis, sejak awal memulai usaha sebagai distributor emas batangan, minat pembeli terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. “Setiap tahun permintaan semakin meningkat,” ujarnya.
Ia menuturkan, tahun 2025 menjadi periode dengan permintaan paling besar. Menariknya, lonjakan tersebut terjadi justru saat harga emas mengalami kenaikan signifikan.
“Tahun 2025 permintaannya paling tinggi. Ketika harga emas semakin naik, orang-orang justru makin penasaran dan tertarik untuk menabung emas,” jelasnya.
Perubahan harga juga memengaruhi ukuran emas yang paling diminati pembeli. Saat harga emas masih berada di kisaran Rp1 juta per gram, rata-rata pembeli memilih ukuran 3 hingga 5 gram. Namun kini, ketika harga emas telah menyentuh angka Rp3 juta per gram, pembeli cenderung memilih ukuran kecil agar tetap bisa berinvestasi sesuai kemampuan
“Dulu orang lebih banyak beli 3-5 gram. Setelah kini emas di angka Rp3 juta per gram, paling diminati 0,5 gram,” kata Gellis.
Terkait alasan masyarakat memilih emas sebagai instrumen investasi, Gellis menyebut faktor kenaikan harga jangka panjang dan kemudahan likuiditas sebagai pertimbangan utama.
“Harga emas dalam jangka panjang sudah pasti naik. Selain itu, emas mudah dijual kapan pun dan dimana pun,” ujarnya.
Namun, meningkatnya permintaan juga berdampak pada ketersediaan stok emas fisik di pasaran. Gellis mengungkapkan bahwa saat ini emas batangan tidak mudah didapatkan. Bahkan pembelian di butik resmi seperti PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dibatasi, di mana satu KTP hanya diperbolehkan membeli maksimal tiga keping emas.
Ia menambahkan, kondisi kelangkaan ini turut mendorong maraknya penawaran emas dengan sistem cicilan oleh perbankan dan pegadaian, serta emas digital di berbagai marketplace.
“Itu menjadi bukti bahwa emas fisik memang sedang sulit didapatkan. Bahkan sekarang banyak toko emas dan perak yang menjual dengan sistem pre-order (PO), jadi pembeli harus menunggu lama,” jelasnya.
Menurutnya, cara tercepat untuk mendapatkan emas fisik saat ini adalah membeli dari pihak yang melakukan buyback atau menjual kembali stok emasnya. Namun, cara tersebut memiliki risiko, seperti mendapatkan emas produksi lama, bukan keluaran terbaru.
Catat Rekor Tertinggi
Harga emas dunia terus menunjukkan tren positif dan berdampak signifikan terhadap pasar domestik. Kepala Bagian Umum Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat (BPS Kalbar), Yunita, dalam rilis Berita Resmi Statistik beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa lonjakan harga emas menjadi salah satu faktor utama pendorong inflasi pada Januari 2026.
“Pada Januari 2026, harga emas telah naik 28,77 persen dibandingkan bulan lalu dan naik 102,14 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu,” ujarnya.
Kenaikan tersebut turut mendorong harga emas domestik menembus rekor tertinggi hingga Rp3 juta per gram. Emas pun tercatat sebagai salah satu komoditas penyumbang inflasi terbesar pada periode Januari 2026.
Berdasarkan data yang disadur dari situs resmi Logam Mulia, per 27 Februari 2025 harga emas tercatat sebesar Rp1,692 juta per gram. Namun tepat satu tahun kemudian, pada 27 Februari 2026, harga emas melonjak hampir 100 persen menjadi Rp3,045 juta per gram.
Sepanjang satu tahun terakhir, harga emas terus mencetak rekor baru. Catatan harga tertinggi terjadi pada 29 Januari 2026, saat emas mencapai Rp3,168 juta per gram.
Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam kembali mengalami lonjakan signifikan.
Sementara itu, berdasarkan pantauan dari laman resmi Logam Mulia, Sabtu (28/2) pukul 10.00 WIB, harga emas naik Rp40.000 per gram. Sebelumnya, harga emas Antam berada di level Rp3.045.000 per gram, kini melonjak menjadi Rp3.085.000 per gram. Kenaikan ini sekaligus memperkuat tren pergerakan emas yang belakangan cukup fluktuatif.
Tak hanya harga jual, nilai beli kembali (buyback) emas Antam juga ikut terdongkrak. Saat ini, harga buyback tercatat di angka Rp2.864.000 per gram. Perlu diketahui, harga emas Antam dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar global.
Ketentuan Pajak Jual dan Buyback Emas Antam
Transaksi emas batangan Antam dikenakan potongan pajak sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017. Untuk transaksi penjualan kembali (buyback) emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar: 1,5 persen bagi pemegang NPWP, 3 persen bagi non-NPWP, dan PPh 22 atas transaksi buyback tersebut akan dipotong langsung dari total nilai buyback yang diterima nasabah.
Untuk pembelian emas batangan, dikenakan PPh 22 sebesar: 0,45 persen bagi pemegang NPWP, dan 0,9 persen bagi non-NPWP. Setiap transaksi pembelian emas batangan akan disertai bukti potong PPh 22 sebagai dokumen resmi. (sti/ash/iza)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro