PONTIANAK POST – Kalimantan Barat bersiap melangkah ke teknologi masa depan. Gubernur Kalbar Ria Norsan membuka peluang kerja sama dengan Rusia dalam pengembangan teknologi nuklir nondaya dan energi bersih. Wacana ini mencuat usai pertemuan dengan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergey Tolchenov, Jumat (27/2).
Kerja sama ini mencakup pemanfaatan teknologi nuklir generasi baru yang diklaim aman, efisien, dan ramah lingkungan, termasuk untuk sektor listrik, kesehatan, hingga pertanian.
“Rusia memiliki pengalaman panjang dalam teknologi nuklir yang aman dan efisien. Kami ingin memastikan Kalimantan Barat siap mengadopsi teknologi masa depan yang kompetitif secara biaya sekaligus ramah lingkungan,” kata Ria Norsan.
Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian publik karena menyentuh isu sensitif: nuklir. Namun Pemprov Kalbar menegaskan yang dimaksud bukan nuklir senjata, melainkan teknologi nuklir nondaya untuk kepentingan sipil.
Menurut Norsan, kolaborasi ini merupakan langkah visioner menghadapi tantangan krisis energi dan kebutuhan listrik jangka panjang.
Pemerintah provinsi juga berkomitmen melakukan sosialisasi terbuka kepada masyarakat terkait keamanan teknologi nuklir modern.
“Kami tidak ingin masyarakat takut duluan. Semua harus transparan dan berbasis kajian ilmiah,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut hadir pula perwakilan perusahaan nuklir milik negara Rusia, Rosatom. Rosatom menawarkan solusi terintegrasi, mulai dari teknologi, pendanaan, hingga pengelolaan limbah radioaktif sesuai standar internasional.
Perwakilan Rosatom, Anna Belokoneva, menegaskan bahwa seluruh pengembangan akan mengikuti standar keselamatan International Atomic Energy Agency (IAEA).
“Meskipun teknologi nuklir sering memicu perdebatan publik, kami memastikan seluruh tahapan mengedepankan keselamatan, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi global,” jelasnya.
Tak hanya soal listrik, rencana kerja sama juga mencakup penggunaan Small Modular Reactor (SMR) atau reaktor nuklir modular kecil yang dinilai lebih fleksibel untuk wilayah terpencil dan kawasan industri.
Selain itu, teknologi nuklir juga akan dimanfaatkan untuk:
-
Radioisotop medis untuk diagnosis dan terapi kanker di rumah sakit daerah
-
Iradiasi pangan untuk memperpanjang masa simpan produk pertanian unggulan ekspor
-
Beasiswa dan pelatihan teknis bagi putra-putri Kalbar di bidang teknik nuklir dan fisika medis
Langkah ini disebut sejalan dengan target Net Zero Emission sekaligus memperkuat kemandirian energi daerah.
Sebagai tindak lanjut, Pemprov Kalbar dan pihak Rusia sepakat membentuk tim teknis untuk melakukan studi kelayakan, termasuk penentuan lokasi yang aman serta analisis dampak lingkungan.
Isu nuklir kini tak lagi hanya milik negara maju. Kalimantan Barat mulai masuk peta percakapan teknologi energi masa depan. Apakah Kalbar akan menjadi provinsi pertama di Indonesia yang memanfaatkan nuklir untuk energi bersih dan kesehatan? Kajian teknis akan menjadi penentunya. (mse)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro