Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Inflasi Tahunan Kalbar Capai 3,90 Persen, Tarif Listrik Jadi Penyumbang Terbesar

Novantar Ramses Negara • Sabtu, 7 Maret 2026 | 12:24 WIB

 

Muh. Saichudin
Muh. Saichudin

PONTIANAK POST - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) di Provinsi Kalimantan Barat pada Februari 2026 sebesar 3,90 persen. Kenaikan harga terjadi di sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat, dengan inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Sintang.

Kepala BPS Kalimantan Barat, Muhammad Saichudin mengatakan, inflasi y-on-y tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,53 pada Februari 2025 menjadi 109,65 pada Februari 2026.

“Inflasi tertinggi terjadi di Sintang sebesar 5,12 persen, sedangkan yang terendah terjadi di Kota Pontianak sebesar 3,44 persen,” kata Saichudin dalam rilis resmi BPS Kalbar, Senin.

Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) pada Februari 2026 sebesar 0,51 persen. Sementara tingkat inflasi sejak awal tahun atau year to date (y-to-d) mencapai 0,78 persen.

Saichudin menjelaskan inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga pada delapan kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 19,12 persen.

Selain itu, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 2,53 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,56 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,50 persen, serta kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,31 persen.

Kelompok pendidikan juga mencatat inflasi sebesar 2,53 persen, disusul kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,98 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,28 persen.

Di sisi lain, tiga kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan indeks atau deflasi, yakni kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,42 persen, kelompok transportasi sebesar 0,23 persen, serta kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,35 persen.

Sejumlah komoditas turut memberi andil besar terhadap inflasi tahunan di Kalimantan Barat. Di antaranya tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, beras, ikan kembung, bawang merah, ikan baung, ikan nila, telur ayam ras, hingga mobil.

Selain itu, komoditas seperti sigaret kretek mesin, ikan tongkol, ikan bandeng, bimbingan belajar, bahan bakar rumah tangga, dan cumi-cumi juga memberikan kontribusi terhadap kenaikan harga secara umum.

Sementara beberapa komoditas tercatat memberikan andil deflasi, seperti cabai rawit, angkutan udara, kangkung, sawi hijau, udang basah, bawang putih, bensin, hingga telepon seluler.

Menurut Saichudin, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil sebesar 2,24 persen. Hal ini terutama dipicu oleh kenaikan tarif listrik yang memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi.

Selain itu, kelompok makanan, minuman dan tembakau menyumbang inflasi sebesar 0,93 persen, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,56 persen.

“Perkembangan harga berbagai komoditas pada Februari 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan,” ujar Saichudin.

Ia menambahkan, dinamika harga sejumlah komoditas pangan dan energi masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan inflasi di Kalimantan Barat dalam beberapa waktu terakhir. (mse)

Editor : Hanif
#sintang #kalbar #bps #inflasi tahunan