PONTIANAK POST – Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Aloysius, meminta pihak Pertamina segera melakukan pengecekan langsung di lapangan menyusul antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) serta laporan kenaikan harga BBM yang dinilai tidak normal di beberapa wilayah perhuluan Kalbar.
Menurut Aloysius, kondisi tersebut berpotensi dipicu oleh kekhawatiran masyarakat terhadap pernyataan pemerintah, yang belakangan sudah diklarifikasi dan isu ketahanan energi yang berkembang akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
“Ini bisa menyebabkan kelangkaan BBM karena mungkin ada pengaruh dari informasi terkait ketahanan energi akibat konflik di Timur Tengah. Masyarakat khawatir akan terjadi kelangkaan,” kata Aloysius kepada awak media.
Ia juga tidak menutup kemungkinan adanya permainan spekulan yang memanfaatkan situasi tersebut.
Aloysius menuturkan, laporan yang diterimanya menunjukkan harga BBM di sejumlah daerah perhuluan Kalimantan Barat sudah berada di luar kondisi normal, meskipun penjualan dilakukan melalui SPBU resmi.
“Kalau kita lihat antreannya luar biasa. Bahkan di wilayah perhuluan Kalimantan Barat, harga BBM di tingkat masyarakat sudah tidak normal lagi walaupun dijual di SPBU resmi,” ujarnya.
Beberapa daerah yang disebut mengalami antrean panjang dan lonjakan harga antara lain Kabupaten Sekadau, Kapuas Hulu, Melawi, dan Sintang.
Ia meminta Pertamina bersama aparat penegak hukum melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memastikan distribusi BBM berjalan normal serta mencegah praktik penyelewengan.
“Mohon ada sidak dari tim Pertamina bersama aparat hukum untuk mengawasi distribusi dan mengendalikan antrean panjang di SPBU, terutama di wilayah perhuluan,” kata Aloysius.
Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean kendaraan untuk mengisi BBM juga terjadi di sejumlah SPBU di perhuluan Kalbar. Banyak pengendara memilih mengisi bahan bakar sebagai langkah antisipasi setelah mendengar isu kelangkaan BBM.
Salah seorang warga Kabupaten Kapuas Hulu, Andri, mengaku mengetahui kabar tersebut dari keluarganya dan diminta segera mengisi bahan bakar kendaraan.
Ia mengatakan tidak melakukan pembelian berlebihan karena memang bahan bakar kendaraannya hampir habis..
“Saya dengar dari istri katanya BBM mulai langka, jadi diminta isi saja. Kebetulan memang sudah hampir habis,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Ira, warga Melawi, yang memutuskan mengisi bahan bakar penuh saat berada di Pontianak setelah mendengar isu kelangkaan BBM.
“Katanya sekarang lagi langka, jadi mau difull-kan saja, berapa pun muatnya,” kata Ira yang bekerja sebagai supir ini.
Meski demikian, ia mengaku tidak terlalu panik dan berharap masyarakat tetap tenang sambil menunggu kepastian dari pemerintah mengenai ketersediaan BBM.
Sementara itu, seorang warga Jalan A. Yani I Pontianak, Iza, mengaku belum mendengar kabar pasti terkait kelangkaan BBM menjelang Lebaran.
Ia biasanya mengisi BBM jenis Pertalite sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu dan menilai masyarakat sebaiknya tidak menimbun bahan bakar.
“Kalau untuk menimbun stok rasanya tidak perlu. Kita isi secukupnya saja karena bukan kita saja yang membutuhkan,” ujarnya.
Aloysius kembali menegaskan pemerintah daerah bersama instansi terkait sebelumnya telah melakukan berbagai langkah antisipasi, termasuk menjaga stabilitas pasokan kebutuhan pokok dan energi menjelang hari besar keagamaan. Namun ia menekankan pentingnya pengawasan distribusi BBM agar masyarakat tidak mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar di tengah meningkatnya kekhawatiran publik. (den)
Editor : Miftahul Khair