Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Sebanyak 5.490 Titik Panas di Lahan Gambut Tercatat pada Awal 2026, Kalbar dan Riau Paling Terdampak

Riska Nanda Kumala Sari • Rabu, 11 Maret 2026 | 15:53 WIB

Analisis Pantau Gambut mencatat sedikitnya 5.490 titik panas muncul di kawasan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) sepanjang Januari 2026.
Analisis Pantau Gambut mencatat sedikitnya 5.490 titik panas muncul di kawasan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) sepanjang Januari 2026.

PONTIANAK POST - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Sumatera dan Kalimantan kembali menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan. Ribuan titik panas terdeteksi sejak awal 2026, bahkan ketika sebagian wilayah Indonesia masih berada dalam periode musim hujan.

Analisis Pantau Gambut mencatat sedikitnya 5.490 titik panas muncul di kawasan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) sepanjang Januari 2026. Pada Februari 2026, jumlahnya masih tinggi dengan 5.114 titik panas. Kemunculan titik api pada awal tahun ini memperlihatkan bahwa kebakaran gambut tidak lagi menunggu musim kemarau.

Sebaran titik panas juga menunjukkan konsentrasi di wilayah tertentu. Provinsi Riau dan Kalimantan Barat menjadi daerah dengan jumlah titik api tertinggi pada Februari 2026. Di Riau terdeteksi sekitar 2.890 titik panas, sedangkan di Kalimantan Barat mencapai sekitar 1.316 titik panas.

Kondisi ini menandakan bahwa ekosistem gambut yang telah mengalami kerusakan tetap sangat rentan terbakar. Analisis lebih lanjut menunjukkan sebagian titik api berada di area konsesi perusahaan. Setidaknya 1.080 titik panas ditemukan di wilayah konsesi perkebunan kelapa sawit berstatus Hak Guna Usaha (HGU), sementara sekitar 250 titik panas berada di konsesi hutan tanaman industri.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran juga terjadi di wilayah yang secara hukum berada dalam pengelolaan korporasi. Kerentanan kebakaran dinilai tidak terlepas dari praktik pengelolaan lahan serta kerusakan ekosistem gambut yang telah berlangsung lama.

Kepala Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalimantan Barat, Indra Syahnanda, menyebut peningkatan kebakaran dalam dua bulan terakhir mulai memicu munculnya kabut asap di sejumlah wilayah di Kalimantan Barat.

“Peningkatan kebakaran dalam dua bulan terakhir telah memicu munculnya kabut asap di sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Barat,” ujar Indra, Rabu (10/3).

Asap tersebut dilaporkan mengganggu aktivitas masyarakat dan berdampak pada kesehatan warga. Bahkan, terdapat laporan seorang warga meninggal dunia yang diduga berkaitan dengan dampak karhutla.

Direktur Eksekutif WALHI Riau, Eko Yunanda, mengatakan kebakaran di Riau banyak terjadi di pulau-pulau kecil yang didominasi ekosistem gambut.

“Kebakaran di Riau banyak terjadi di pulau-pulau kecil seperti Pulau Bengkalis, Pulau Rupat, dan Pulau Mendol yang didominasi ekosistem gambut,” ungkapnya.

Di wilayah tersebut, perubahan penggunaan lahan dan ekspansi konsesi selama beberapa dekade terakhir membuat kawasan gambut semakin mudah terbakar.

Ancaman karhutla diperkirakan semakin besar jika melihat proyeksi iklim tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau 2026 datang lebih cepat di sekitar 46 persen wilayah Indonesia. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Juli hingga Agustus dengan kondisi yang berpotensi lebih kering.

Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, menilai kemunculan ribuan titik api di awal tahun merupakan sinyal serius bagi upaya perlindungan gambut.

“Jika kebakaran sudah muncul bahkan saat musim hujan, itu berarti kerentanan ekosistem gambut kita sudah sangat tinggi dan perlindungan belum berjalan efektif,” katanya.

Ia menambahkan, tanpa langkah perlindungan dan pemulihan gambut secara serius, kebakaran akan terus berulang setiap tahun dengan skala kerusakan yang semakin luas.

“Pemerintah perlu memperkuat perlindungan kawasan gambut, meningkatkan pengawasan pada wilayah konsesi, serta mempercepat pemulihan ekosistem gambut yang telah mengalami degradasi,” pungkasnya. (nda)

Editor : Miftahul Khair
#titik panas #kebakaran lahan gambut #karhutla #musim hujan