Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Ribuan Titik Panas Terdeteksi di Gambut Kalbar dan Riau Awal 2026, Sebagian di Konsesi Perusahaan

Novantar Ramses Negara • Kamis, 12 Maret 2026 | 11:56 WIB

 

Analisis Pantau Gambut mencatat sedikitnya 5.490 titik panas muncul di kawasan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) sepanjang Januari 2026.
Analisis Pantau Gambut mencatat sedikitnya 5.490 titik panas muncul di kawasan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) sepanjang Januari 2026.

PONTIANAK POST - Analisis Pantau Gambut menunjukkan sedikitnya 5.490 titik panas terdeteksi di wilayah Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) pada Januari 2026. Pada Februari 2026, kembali muncul sekitar 5.114 titik panas di kawasan yang sama.

Di Kalimantan Barat tercatat sekitar 1.316 titik panas pada Februari 2026. Sementara di Riau terdeteksi sekitar 2.890 titik panas. Kedua wilayah tersebut menjadi daerah dengan jumlah kebakaran tertinggi pada periode tersebut.

Temuan ini menunjukkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut sudah terjadi bahkan ketika sebagian wilayah Indonesia masih mengalami musim hujan, sehingga menandakan kerentanan ekosistem gambut yang semakin tinggi.

Sebaran titik panas tersebut juga memperlihatkan pola yang mengkhawatirkan. Konsentrasi titik api menunjukkan bahwa ekosistem gambut yang telah mengalami degradasi tetap sangat rentan terbakar.

Lalu Analisis Pantau Gambut juga menemukan sebagian titik panas muncul di wilayah konsesi perusahaan. Dari pemetaan yang dilakukan, sedikitnya 1.080 titik panas berada di area konsesi perkebunan sawit (HGU) dan sekitar 250 titik panas berada di konsesi hutan tanaman industri (PBPH-HTI).

Temuan ini menunjukkan kebakaran gambut juga terjadi di wilayah yang secara hukum berada dalam pengelolaan korporasi. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kerentanan kebakaran di kawasan gambut tidak dapat dilepaskan dari praktik pengelolaan lahan serta kerusakan ekosistem yang telah berlangsung lama.

Kepala Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalimantan Barat, Indra Syahnanda, mengatakan peningkatan kebakaran dalam dua bulan terakhir telah memicu munculnya kabut asap di sejumlah wilayah di Kalimantan Barat.

“Peningkatan kebakaran dalam dua bulan terakhir telah memicu munculnya kabut asap di sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Barat,” ujarnya dalam siaran persnya siang kemarin.

Menurutnya, kabut asap tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada kesehatan warga. Bahkan, dilaporkan seorang warga meninggal dunia yang diduga berkaitan dengan dampak karhutla.

Sementara itu, Direktur Eksekutif WALHI Riau, Eko Yunanda, mengatakan kebakaran di Riau banyak terjadi di pulau-pulau kecil yang didominasi ekosistem gambut, seperti Pulau Bengkalis, Pulau Rupat, dan Pulau Mendol.

“Kebakaran di Riau banyak terjadi di pulau-pulau kecil yang didominasi ekosistem gambut,” ujarnya.

Dalam beberapa dekade terakhir, kawasan tersebut mengalami perubahan besar akibat pembukaan lahan dan ekspansi konsesi, sehingga membuat ekosistem gambut semakin rentan terbakar.

Situasi ini dinilai semakin mengkhawatirkan jika melihat proyeksi kondisi iklim tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih cepat di banyak wilayah Indonesia.

Sekitar 46 persen wilayah diperkirakan mengalami musim kemarau lebih awal dari biasanya. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026 dengan kondisi yang berpotensi lebih kering di sejumlah wilayah.

Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, menilai kemunculan ribuan titik api pada awal tahun seharusnya menjadi peringatan serius bahwa kebakaran gambut bukan sekadar fenomena musiman.

“Jika kebakaran sudah muncul bahkan saat musim hujan, itu berarti kerentanan ekosistem gambut kita sudah sangat tinggi dan perlindungan belum berjalan efektif. Tanpa upaya serius untuk melindungi dan memulihkan gambut yang telah rusak, kebakaran akan terus berulang setiap tahun dengan skala kerusakan yang semakin besar,” ujarnya.

Ia menambahkan pemerintah perlu memperkuat langkah pencegahan sejak dini.

“Pemerintah perlu memperkuat perlindungan kawasan gambut, meningkatkan pengawasan pada wilayah konsesi, serta mempercepat pemulihan ekosistem gambut yang telah mengalami degradasi agar kebakaran tidak terus berulang,” katanya. (mse)

Editor : Hanif
#titik panas #kalbar #kawasan gambut #riau #konsesi