Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Melihat Kekompakan Warga Gang Kuantan Rakit Meriam: Menjaga Tradisi, Mengikat Kebersamaan

Idil Aqsa Akbary • Jumat, 13 Maret 2026 | 11:14 WIB

 

GOTONG ROYONG: Warga Gang Kuantan, Pontianak Selatan, bergotong royong merakit meriam karbit di tepian Sungai Kapuas sebagai persiapan memeriahkan malam takbiran Idulfitri 1447 Hijriah.
GOTONG ROYONG: Warga Gang Kuantan, Pontianak Selatan, bergotong royong merakit meriam karbit di tepian Sungai Kapuas sebagai persiapan memeriahkan malam takbiran Idulfitri 1447 Hijriah.

PONTIANAK POST - Warga Gang Kuantan, Pontianak, bersiap memeriahkan malam takbiran Idulfitri 1447 Hijriah dengan tradisi meriam karbit.

Suasana malam di tepian Sungai Kapuas, Gang Kuantan, Pontianak Selatan, tampak lebih ramai dari biasanya. Usai menunaikan salat tarawih, sejumlah pemuda dan warga berkumpul di pinggir sungai. Tali-tali panjang ditarik bersama, sementara beberapa lainnya bersiap menggulingkan balok kayu besar yang baru saja diangkat dari air.

Balok kayu itu kelak menjadi meriam karbit, permainan rakyat yang setiap tahun memeriahkan malam takbiran Idulfitri di Kota Pontianak. Menjelang Lebaran, warga mulai bergotong royong menyiapkan meriam tersebut.

Balok-balok kayu yang selama hari biasa direndam di Sungai Kapuas perlahan diangkat kembali ke darat. Dengan bantuan tali, para pemuda menariknya bersama-sama hingga keluar dari air, lalu menggulingkannya menuju bibir sungai atau steher, tempat meriam akan didirikan.

Proses itu tidak mudah. Balok kayu yang digunakan berdiameter besar dengan panjang hingga beberapa meter. Namun suasana tetap penuh canda dan semangat kebersamaan. Bagi warga, merakit meriam karbit bukan sekadar persiapan permainan, tetapi juga menjadi momen berkumpul dan mempererat silaturahmi selama bulan Ramadan.

Setelah balok berada di posisi yang tepat, pekerjaan berlanjut pada tahap penyatuan bagian meriam. Kayu yang terbagi dua bagian disatukan kembali dengan diikat menggunakan rotan. Ikatan rotan tersebut harus kuat agar meriam mampu menahan tekanan saat dimainkan.

Ketua seksi acara “Yok Nyucol Meriam Karbit”, Yudha, mengatakan proses pembuatan meriam di Gang Kuantan telah memasuki tahap menyimpai atau mengikat meriam menggunakan rotan.

“Pembuatan meriam karbit ini sudah di tahap kita menyimpai atau mengikat meriam dengan rotan,” ujarnya.

Ia menjelaskan kayu yang digunakan adalah kayu mabang yang dikenal kuat dan tahan lama. Umur kayu yang dipakai bahkan ada yang mencapai 15 hingga 18 tahun.

“Ini umur kayunya ada yang 18 tahun dan 15 tahun. Itu kayu mabang yang bisa dibilang paling kuat. Ukurannya sekitar diameter 70 sentimeter dengan panjang enam meter,” jelasnya.

Di lokasi tersebut, warga sedang menyiapkan enam meriam berbahan kayu balok serta dua meriam berbahan asbes. Setelah seluruh bagian selesai dirakit dan meriam berdiri kokoh, tahap berikutnya adalah pengecatan sebelum akhirnya siap dimainkan pada malam takbiran.

Bagi Yudha, proses pembuatan meriam karbit justru menjadi bagian paling berharga dari tradisi ini. Setiap malam setelah salat tarawih, warga berkumpul untuk bekerja bersama.

“Hikmahnya di bulan Ramadan ini sehabis tarawih kita bisa kumpul dengan warga setempat, gotong royong bersama-sama,” katanya.

Menurut dia, meriam balok memberi ruang kebersamaan yang lebih panjang dibandingkan meriam dari besi atau asbes.

“Kalau meriam besi begitu sudah dinaikkan selesai. Tapi kalau balok atau kayu ini kita bisa kumpul lagi, gotong royong, dan bersilaturahmi dengan warga Gang Kuantan,” tambahnya.

Tradisi meriam karbit telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Pontianak, khususnya di sepanjang tepian Sungai Kapuas. Setiap menjelang Idulfitri, suara dentuman meriam karbit menjadi penanda datangnya malam takbiran. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan warga dan telah diakui sebagai salah satu warisan budaya tak benda.

229 Meriam Siap Meledak

Setiap menjelang malam Lebaran, tepian Sungai Kapuas di Pontianak memiliki cara khas menyambut Idulfitri. Bukan dengan kembang api, melainkan dentuman meriam karbit yang bergema dari satu kampung ke kampung lain.

Tahun ini, sebanyak 229 meriam karbit dipastikan siap berdentum pada malam takbiran. Ratusan meriam itu tersebar di 37 titik atau kelompok di sepanjang tepian Sungai Kapuas, yang selama ini menjadi pusat permainan rakyat tersebut.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyambut baik kembali digelarnya tradisi Meriam Karbit sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Pontianak. Menurutnya, tradisi turun-temurun ini tidak hanya menjadi hiburan masyarakat menjelang Idulfitri, tetapi juga menjadi identitas budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

“Tradisi Meriam Karbit merupakan warisan budaya masyarakat Pontianak yang sudah dikenal secara luas. Pemerintah Kota Pontianak tentu sangat mendukung pelestarian tradisi ini agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya, Senin (9/3).

Ia menambahkan, Pemerintah Kota bersama unsur terkait akan memastikan pelaksanaan kegiatan berlangsung tertib dan aman. Koordinasi dengan aparat keamanan, instansi terkait, serta kelompok-kelompok meriam terus dilakukan agar pelaksanaan tradisi berjalan lancar.

“Kami mengimbau seluruh kelompok meriam karbit dan masyarakat yang terlibat untuk tetap memperhatikan aspek keselamatan, menjaga ketertiban, serta mematuhi aturan yang telah disepakati bersama sehingga tradisi ini dapat berlangsung meriah namun tetap aman,” tuturnya.

Dalam tiga tahun terakhir, jumlah meriam yang dimainkan relatif stabil. Data Forum Komunikasi Seni dan Budaya Tradisi Meriam Karbit mencatat pada 2023 terdapat sekitar 210 meriam dari 35 kelompok. Pada 2024 meningkat menjadi 218 meriam dari 36 kelompok, kemudian pada 2025 tercatat 224 meriam di 36 titik. Tahun ini jumlahnya kembali meningkat menjadi 229 meriam yang tersebar di 37 titik.

Ketua Forum Komunikasi Seni dan Budaya Tradisi Meriam Karbit Kota Pontianak, Fajriudin Anshari, mengatakan pelaksanaan tradisi tahunan tersebut dapat kembali digelar berkat dukungan Pemerintah Kota Pontianak yang terus mendorong pelestarian budaya lokal.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Kota Pontianak yang telah memberikan dukungan sehingga permainan rakyat Meriam Karbit ini dapat kembali dilaksanakan,” ujarnya.

Ia menjelaskan dari total 37 kelompok tersebut, sebanyak 20 kelompok berada di wilayah Pontianak Timur, sementara 17 kelompok lainnya tersebar di Pontianak Selatan dan Pontianak Tenggara.

“Seluruh kelompok tersebut akan menyalakan meriam karbit sebagai bagian dari tradisi menyambut Idulfitri sekaligus penanda berakhirnya bulan suci Ramadan,” jelasnya.

Menurut Fajriudin, persiapan kegiatan hingga saat ini terus berjalan. Untuk lokasi seremoni pembukaan di Gang Darsyad, Jalan Imam Bonjol, progres persiapan telah mencapai sekitar 80 persen.

“Di lokasi tersebut tengah disiapkan panggung utama, panggung seni, serta panggar atau tempat meriam,” paparnya.

Sementara itu, persiapan di tingkat kelompok juga terus berlangsung. Sekitar 75 persen kelompok telah menempatkan meriam di panggar masing-masing. Biasanya pada H-3 menjelang Lebaran seluruh meriam sudah siap dan dilakukan uji bunyi untuk memastikan kondisi meriam dalam keadaan baik.

Dari total meriam yang akan digunakan, sebanyak 108 unit merupakan meriam balok yang terbuat dari kayu gelondongan, sedangkan sekitar 129 unit lainnya merupakan meriam nonbalok yang dibuat dari bahan paralon maupun besi.

Fajriudin menjelaskan meriam balok umumnya membutuhkan proses pembuatan lebih lama dan biaya lebih besar karena menggunakan kayu gelondongan. Untuk membuat satu unit meriam balok biasanya memerlukan waktu hingga satu minggu, sedangkan meriam nonbalok relatif lebih mudah dibuat karena memanfaatkan bahan bekas seperti paralon atau besi.

Ia berharap seluruh kelompok meriam karbit dan masyarakat dapat memeriahkan tradisi tersebut dengan tetap menjaga keamanan dan ketertiban. Selain itu, Forum Komunikasi Seni dan Budaya Tradisi Meriam Karbit juga berharap Festival Meriam Karbit yang terakhir digelar pada 2023 dapat kembali diselenggarakan pada 2027.

“Kami berharap Festival Meriam Karbit bisa kembali dilaksanakan pada 2027. Dengan adanya festival, setiap kelompok biasanya juga menampilkan pakaian adat dan ornamen budaya yang memperkaya nilai tradisi ini,” pungkasnya. (Idil Aqsa Akbary)

Editor : Hanif
#Idulfitri #Malam takbiran #warga #pontianak #meriam karbit #tradisi