Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

DPRD Pontianak Dorong Pasar Hadirkan Ruang Kreatif dan Digitalisasi Transaksi

Mirza Ahmad Muin • Kamis, 26 Maret 2026 | 11:03 WIB

 

Bebby Nailufa
Bebby Nailufa

PONTIANAK POST - Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak Bebby Nailufa mengatakan butuh inovasi kreatif buat menumbuhkan geliat ekonomi di pasar lantai dua milik Pemerintah Kota Pontianak yang kondisinya kini masih belum betul-betul hidup. Selain di pasar menjual berbagai kebutuhan sandang pangan dan papan, pasar juga mesti dipadukan dengan ruang-ruang kreatif.

“Pasar kini terus bertumbuh. Dulunya di pasar menjual berbagai kebutuhan primer masyarakat. Namun berkembangnya zaman, ruang-ruang transaksi semakin tak terbatas. Konsumen semakin mudah berbelanja. Sekarang untuk menarik konsumen datang ke pasar butuh usaha lebih keras,” kata Bebby, Rabu (25/3).

Kondisi pasar milik Pemkot Pontianak, terutama di lantai dua semakin sepi. Beberapa terobosan sebetulnya sudah dilakukan oleh pemerintah. Namun tetap saja, pasar tersebut belum mampu menjadi magnet untuk konsumen datang ke sana.

Menurut Bebby, pasar kini tidak hanya menjadi pusat transaksi jual beli. Namun pasar mesti bertumbuh sebagai wadah tempat bertransaksi jual beli dan ruang-ruang kreatifitas masyarakat.

Kolaborasi pasar, ekonomi kreatif serta ruang kreatifitas perlu didorong dan diwujudkan. Lokasinya ada beberapa yang mungkin bisa dijajaki. Mulai dari pasar lantai dua di Pasar Tradisional Jeruju, Pasar lantai dua Dahlia, atau Pasar lantai dua di pasar tengah.

Seperti Pasar Kosambi di Bandung, menurut Bebby itu bisa menjadi percontohan bagi kota ini. Caranya dengan melakukan renovasi ulang pasar dengan konsep yang lebih segar. Apabila pasar memiliki konsep lebih segar, maka pasar tersebut akan memiliki ciri khas. Ketika ada ciri khas, maka akan besar kemungkinan pasar tersebut bisa menjadi magnet dan didatangi banyak konsumen.

Pontianak kata dia mesti memiliki satu pasar seperti ini. Di mana pasar bukan hanya pusat transaksi jual beli saja. Ada ruang kreatifitas. Dengan adanya kreativitas, ekonomi kreatif bakal tumbuh.

“Soal ekonomi kreatif ini, anak muda di Pontianak tidak kalah dengan kota lain. Kita bisa mewujudkannya. Kuncinya satu, pemerintah harus bisa menjadi jembatan dalam mewujudkan ini. Dalam perwujudannya pemerintah juga harus fleksibel. Tidak kaku dengan aturan,” katanya.

Bisa dilihat saat ini, di Jalan Nusa Indah waktu malam justru semakin ramai. Usaha-usaha ini berbagai macam. Dan yang membangun ekonomi kreatif itu adalah anak muda. “Pemerintah harus melihat ini sebagai potensi,” dorongnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota Pontianak berencana meningkatkan kualitas pasar tradisional melalui perbaikan infrastruktur dan penerapan sistem pembayaran elektronik. Program ini ditujukan untuk meningkatkan daya saing serta kenyamanan pasar bagi masyarakat.

Selain pembenahan fisik, Pemkot Pontianak juga mendorong digitalisasi transaksi melalui penerapan pembayaran elektronik berbasis QRIS bekerja sama dengan Bank Indonesia. Sosialisasi penggunaan sistem tersebut telah dilakukan di hampir seluruh pasar tradisional di Pontianak.

Beberapa pasar yang menjadi fokus penerapan transaksi elektronik antara lain Pasar Flamboyan, Pasar Kemuning, Pasar Dahlia, dan Pasar Teratai.

Upaya peningkatan kualitas pasar juga mencakup aspek kebersihan dan keamanan. Disperindag bersama pengelola pasar melakukan perbaikan fasilitas seperti talang air bocor, kran rusak, hingga toilet yang tidak berfungsi.

Pemkot menargetkan pasar tradisional di Pontianak dapat bertransformasi menjadi pasar modern dengan fasilitas yang lebih lengkap. Fasilitas tersebut meliputi area parkir, ruang bongkar muat, ruang laktasi, ruang keamanan, serta ruang terbuka hijau.(iza)

Editor : Hanif
#ruang kreatif #ekonomi lokal #digitalisasi #pasar tradisional #dprd pontianak #inovasi