PONTIANAK POST - Pascalebaran, volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Batulayang meningkat hingga 25 persen. Dari peningkatan sampah tersebut, didominasi sampah rumah tangga. Demikian dikatakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak Syarif Usmulyono, Kamis (26/3).
“Tahun ini, peningkatan volume sampah lebaran naik signifikan 20 sampai 25 persen. Kami (DLH) sampai menyiapkan 42 unit armada angkutan sampah, dengan petugas dilemburkan. Kemudian agar angkutan sampah bisa cepat, kami juga dipinjamkan alat berat milik Dinas PU,” ujarnya kepada Pontianak Post.
Dalam proses pengumpulan sampah di lapangan, petugas banyak terbantu dengan kerjasama masyarakat Kota Pontianak. Dimana, aturan DLH terkait jam operasional pembuangan sampah ke TPS paling lambat pukul tiga subuh dapat diikuti. Alhasil, jam tiga subuh, sampah-sampah itu dapat diangkut dan dibuang ke TPA Batulayang.
Dari peningkatan volume sampah hingga 25 persen itu, diakuinya sampah rumah tangga paling mendominasi. Sisanya kurang lebih 10 sampai 12 persen jenis sampah plastik.
Sampah rumah tangga ini kebanyakan bekas makanan dan sayuran. Rerata organik dan bisa cepat terurai. Bahkan jika sampah organik ini bisa diolah masyarakat, justru bisa menjadi pupuk bagi tanaman peliharaan di pekarangan rumah.
Dia melanjutkan dalam upaya pengurangan pembuangan sampah di TPA Batulayang, pihaknya juga kerap mengedukasi masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah. Sampah yang masih bisa dimanfaatkan hendaknya diolah kembali. Dengan demikian sampah yang terbuang ke TPA betul-betul sampah yang tak bisa digunakan lagi.
Kaitan dengan sulitnya BBM jelang lebaran, sebetulnya pihaknya tidak terlalu sulit untuk operasional angkutan sampah. Sebab sebagian dari kendaraan angkutan sampah ini menggunakan bahan bakar alternatif dari olahan sampah plastik setara minyak (solar/bensin) menggunakan teknologi pirolisis. Dari produksi bahan bakar alternatif itu, DLH bisa memproduksi tiga ratus liter per minggu.
Aturan larangan menggunakan kantong plastik ketika belanja di pasar-pasar moderen sejauh ini juga berhasil. Sehingga penekanan sampah plastik yang masuk ke TPA Batulayang bisa turun cukup jauh dibanding ketika aturan ini belum dilaksanakan di lapangan.
“Saya optimis, edukasi hingga regulasi yang dibuat ini, ke depan bisa mengurangi penggunaan sampah plastik oleh masyarakat. Pelan-pelan masyarakat juga sudah mulai terbiasa dengan aturan ini,” tandasnya.
Sementara itu, data teknis menunjukkan bahwa mayoritas sampah didominasi oleh limbah organik sisa rumah tangga sebesar 83 persen. Sementara itu, sampah plastik yang sempat menjadi beban berat mulai menunjukkan tren penurunan menyusul efektivitas larangan kantong plastik sekali pakai di pusat perbelanjaan yang diperketat sejak awal 2025.
Transformasi TPA Batu Layang Guna mengatasi keterbatasan lahan, Pemerintah Kota Pontianak tengah mempercepat transisi sistem di TPA Batu Layang seluas 26,6 hektare. Fokus utama tahun ini adalah optimalisasi sistem Sanitary Landfill dan pengoperasian Pusat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
TPST tersebut diproyeksikan mampu mengolah hingga 300 ton sampah per hari menjadi bahan bakar alternatif (biomassa) dan gas metana. Langkah ini dipandang strategis untuk mengurangi beban pembuangan akhir sekaligus menciptakan nilai ekonomis dari limbah perkotaan.
Selain penguatan infrastruktur, pemerintah daerah juga terus mendorong peran 17 Bank Sampah yang tersebar di berbagai kecamatan untuk melakukan pemilahan sejak dari sumbernya.
Masyarakat diimbau untuk lebih disiplin dalam mematuhi jam operasional pembuangan sampah guna menjaga estetika dan sanitasi kota, terutama di kawasan parit-parit primer yang masih sering tersumbat sampah kiriman.(iza)
Editor : Hanif