PONTIANAK POST - Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko mengatakan, meski kondisi udara sempat masuk pada kategori tidak sehat, namun sejauh ini belum ditemukan kenaikan terhadap kasus infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).
Meski begitu, dirinya telah menginstruksikan petugas kesehatan di setiap puskesmas untuk siaga dalam penanganan ISPA.
“Memang beberapa hari lalu, kondisi udara kita masuk kategori tidak sehat. Penyebabnya karena kebakaran hutan dan lahan. Tapi untuk laporan ISPA sejauh ini masih aman. Tidak ada kenaikan yang signifikan,” ujar Saptiko kepada Pontianak Post, Senin (30/3).
Meski demikian, Saptiko sudah menginstruksikan kepada petugas kesehatan mulai dari puskesmas hingga rumah sakit untuk siaga dalam penanganan kasus ISPA. Sebab, kasus ISPA bisa terjadi akibat berbagai macam hal. Salah satunya ketika kondisi udara memburuk akibat asap kebakaran hutan dan lahan.
Paparan ISPA ini bisa dirasakan oleh semua masyarakat. Terutama bagi masyarakat yang memiliki riwayat asma. Kemudian kaum rentan, seperti lansia, ibu hamil serta anak-anak.
Dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan, Pemkot Pontianak melalui dinas terkait sudah melakukan upaya. Selain edukasi bahaya membakar lahan, penempatan posko kebakaran hutan dan lahan di daerah rawan telah dilakukan.
Dengan adanya posko itu diharap, intervensi penanganan kebakaran ketika terjadi dapat lebih cepat. Dengan kecepatan penanganannya, api juga tidak semakin meluas.
Namun, kata dia, kondisi memburuknya udara di Kota Pontianak kadang tak bisa terhindarkan. Sebab ketika kondisi kebakaran hutan dan lahan tidak terjadi di wilayah Pontianak, namun di kabupaten tetangga justru lahan banyak lahan terbakar, berimbas pada kondisi udara memburuk. Itu dikarenakan asapnya terbawa angin dan masuk ke Kota Pontianak.
Oleh sebab itu, dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan harus dilakukan bersama. Semua pihak harus menjaga lahannya. Terlebih ketika kondisi cuaca tengah panas terik. Terutama di lahan gambut rentan terjadi kebakaran.
“Masyarakat harus paham dengan kondisi udara. Jika udara memburuk sebaiknya jika tidak ada keperluan urgen sebaiknya di rumah saja. Kalaupun terpaksa keluar, sebaiknya menggunakan masker yang dibasahi air,” pintanya.
Sementara itu, Direktur RSUD Soedarso, Hary Agung Tjahyadi menjelaskan, sebelum lebaran jumlah pasien di IGD justru cenderung menurun. Dari rata-rata 90–100 pasien per hari, angka tersebut turun menjadi sekitar 50–60 pasien.
“Biasanya tujuh hari sebelum lebaran pasien berkurang. Mendekati lebaran sekitar 60 pasien per hari. Namun, hari ketiga setelah lebaran mulai naik lagi menjadi sekitar 70 pasien, bahkan hari ketujuh mendekati 100 pasien,” ujarnya.
Menurut Hary, peningkatan tersebut dipengaruhi perubahan pola hidup masyarakat selama lebaran, terutama pola makan. Hal ini berdampak pada jenis penyakit yang mendominasi kunjungan IGD.
“Dari 10 besar penyakit yang masuk di IGD pascalebaran, banyak pasien dengan gangguan pencernaan seperti nyeri perut dan diare. Selain itu, ada juga beberapa kasus kecelakaan, itu yang masuk dalam 10 besar,” jelasnya.
Di sisi lain, pasien dengan penyakit kronis juga tetap mendominasi layanan IGD. Di antaranya pasien dengan gagal ginjal, penyakit jantung, pneumonia, hingga tuberkulosis (TB). “Pasien penyakit kronis tetap ada, dan masuk bersamaan dengan pasien darurat lainnya, terutama dipicu perubahan pola makan,” tambahnya.
Hary memastikan, meskipun terjadi lonjakan pasien, kapasitas layanan IGD RSUD Soedarso masih mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat. Saat ini IGD memiliki 24 tempat tidur, namun tersedia pula tempat tidur cadangan. “Kalau terjadi peningkatan hingga 60 pasien, masih tetap bisa kita layani,” tegasnya.
Selain itu, IGD RSUD Soedarso juga didukung fasilitas penunjang diagnostik yang lengkap, seperti radiologi, laboratorium, dan layanan kefarmasian yang beroperasi selama 24 jam.
Ia juga menegaskan bahwa pelayanan IGD tetap optimal baik sebelum maupun sesudah lebaran. Pengaturan petugas dilakukan agar jumlah tenaga medis tetap terpenuhi. Dengan sistem tersebut, RSUD Soedarso memastikan fluktuasi jumlah pasien, baik peningkatan maupun penurunan, tetap dapat ditangani secara maksimal.
“Jumlah petugas tidak dibedakan, meskipun ada yang berlebaran. Tetap diatur sehingga dokter, perawat, dan petugas penunjang lainnya tetap tersedia, sama dengan hari biasa,” katanya.(iza/bar)
Editor : Hanif