Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

In Memoriam Thamrin Usman: Pejuang Kemandirian Energi dan Kritikus Pontianak Post

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 14 April 2026 | 08:19 WIB
Prof Dr Thamrin Usman DEA, wafat Selasa (14/04/2025).
Prof Dr Thamrin Usman DEA, wafat Selasa (14/04/2026).

 

 
 
 
SAYE nak jadi gubernur. Begitulah ucapan Thamrin Usman kepada saya dalam obrolan empat mata di ruang kerja rektor Untan. Setahun sebelum Pilgub Kalbar 2018. 
 
Saya tak tahu ia bergurau atau serius. Saya cuma menimpali, "Kenapa ndak wali kota dulu Prof".
 
Ucapan saya itu untuk menyadarkannya bahwa popularitasnya saat itu tidak tinggi. Pun ia bukan orang Parpol yang punya perahu.
 
"Kalau Rektor Untan ke wali kota itu turun lah, pangkatnya," ujarnya sambil tertawa.
 
Sekali lagi; saya tidak tahu dia serius atau tidak atas idenya hari itu. Yang pasti sejarah mencatat, ia tak pernah maju dalam kontestasi Pilkada.
 
Mudah menangkap gagasan politik Thamrin, terutama soal kemandirian energi.
 
Ia adalah pejuang lama—jauh sebelum istilah Biodiesel 20 persen (B20) resmi diterapkan pemerintah pada 2019, bahkan sebelum wacana Biodiesel B50 digaungkan hari ini. 
 
Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA, nama dan gelar lengkapnya, telah lebih dulu memulai.
 
Sejak menjabat sebagai Dekan FMIPA pada era 2000-an hingga kemudian menjadi Rektor Universitas Tanjungpura, ia secara konsisten mengirim ekspedisi biodiesel ke Kuching, Sarawak.
 
Mahasiswa dan dosen menempuh perjalanan darat menggunakan bus berbahan bakar biodiesel hasil risetnya sendiri. 
 
“Ris ilmu itu harus diterapkan. Harus bermanfaat bagi masyarakat,” katanya kepada penulis suatu waktu.
 
Baginya, kemandirian energi bukan sekadar wacana, melainkan keharusan.
 
Ia kerap mengingatkan, sejak akhir Orde Baru Indonesia telah menjadi net importir energi fosil.
 
Bahkan, dengan lugas ia pernah berujar, "energi nuklir itu paling efisien, aman, dan bersih. Tapi politiknya terlalu besar.”
 
Saya sering dicekoki dengan gagasan-gagasan besar itu, sejak menjadi wartawan newbie di Pontianak Post.
 
 
"Kemewahan" Wawancara
 
Awal 2011, saya ditugaskan Pemred kami Pak Salman (sekarang Dirut) mewawancarai beliau yang saat itu masih menjabat sebagai Dekan FMIPA Untan dan maju sebagai calon Rektor Universitas Tanjungpura.
 
Saat itu, pengalaman saya belum banyak. Pertanyaan pun sering kali terasa ngasal dan tidak rapi.
 
Kesan pertama saya sederhana: serius. Wajahnya tenang, pembawaannya akademis, dan terlihat kaku seperti kebanyakan dosen senior.
 
Ternyata saya keliru.
 
Di balik kesan awal itu, Prof. Thamrin adalah sosok yang sangat hangat. Ia gemar bercanda, ringan dalam berbicara.
 
Sejak wawancara pertama itu, hubungan kami berkembang. Dari sekadar narasumber dan reporter, menjadi relasi yang cukup akrab.
 
Beberapa kali saya datang ke rumahnya. Saya merasakan langsung bagaimana beliau dan istrinya menyambut tamu dengan sangat ramah.
 
Tidak ada jarak antara seorang rektor dan seorang wartawan yang baru lulus kuliah.
 
Sebagai narasumber, beliau adalah “kemewahan” bagi saya. Jam berapa pun dihubungi, selalu merespons.
 
Tidak jarang saya menelpon tengah malam, menjelang koran naik cetak. Dalam situasi itu, Thamrin tetap meluangkan waktu.
 
Sebagai wartawan desk pendidikan yang kerap meliput Untan, saya justru sering merasa tidak enak.
 
Setiap kali datang ke ruang rektorat untuk wawancara, saya kerap telat. Tapi diprioritaskan untuk bertemu dengannya terlebih dulu. 
 
Padahal, di luar sana banyak dosen, mahasiswa, dan tamu lain yang menunggu antrean.
 
Alasan beliau sederhana, tetapi sangat membekas: ia memahami kerja wartawan.
 
Ia tahu bahwa kami harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu cepat untuk mengejar berita—di masa ketika internet dan telepon pintar belum massif.
 
Perhatian beliau tidak berhenti di ruang kerja.
 
Seumur hidup, saya tidak pernah meminta materi, apalagi uang kepada dia. Pun kepada siapapun narasumber saya.
 
Ketika saya menikah pada 2016, saya tidak mengadakan acara. Saya hanya membuat acara kecik-kecilan. Tidak ada undangan, bahkan kepada rekan kerja dan teman dekat sekalipun.
 
Namun entah tahu dari siapa, beliau tiba-tiba mentransfer sejumlah uang kepada saya. Jumlahnya cukup besar bagi saya saat itu.
 
Hal yang sama terjadi ketika anak saya lahir. Hanya karena beliau melihat unggahan saya di Facebook, ia kembali melakukan hal yang sama.
 
Juga ketika mertua saya meninggal dunia, ia juga mengirimkan uang.
 
Ia percaya, sedekah dengan niat tulus itu, akan berimbal baik kepada sang pemberi.
 
Namun waktu berjalan.
 
Sejak beliau tidak lagi menjabat sebagai Rektor Untan pada 2019, intensitas pertemuan kami memang tidak lagi seperti sebelumnya.
 
Kami hanya beberapa kali bertemu secara kebetulan di sejumlah acara.
 
Meski begitu, perhatian itu tidak pernah benar-benar hilang.
 
Beliau masih cukup rutin menyapa. Menanyakan kabar saya, bagaimana kuliah S2 saya, apakah saya dalam keadaan sehat, bahkan sekadar mengucapkan selamat hari raya. Hal-hal sederhana, tetapi terasa sangat berarti.
 
Pria kelahiran Kampung Beting yang wafat di usia 63 tahun ini, sering mengirimi saya foto ketua ia travelling bersama keluarganya. Ke Jepang atau ke Prancis biasanya.
 
 
Kritikus Sejati Pontianak Post
 
Namun, Prof. Thamrin juga punya sisi lain yang—boleh dibilang—“menjengkelkan” dalam arti yang baik.
 
Sebagai pembaca dan pelanggan setia Pontianak Post, beliau sangat kritis. 
 
Ia sering memberi masukan, bahkan teguran. Ia kerap mengingatkan bahwa prinsip “bad news is good news” tidak selalu baik jika diterapkan tanpa pertimbangan.
 
“Berikan berita yang mengedukasi dan membangun,” begitu pesannya.
 
"Di Prancis, kriminalitas jauh lebih banyak. Setiap hari ada jambret dan perkelahian, tapi media di sana tidak memberitakan. Mereka tahu itu akan memperburuk citra kota dan negara," ucap Thamrin.
 
Sebagai pembaca, Thamrin tidak segan mengomel jika koran terlambat sampai ke rumahnya. 
 
Suatu hari, beliau pernah mengkritik penggunaan kata “setop” dalam salah satu judul berita. Menurutnya, yang benar adalah “stop”.
 
Kali itu, saya berani membantah. Saya tunjukkan bahwa “setop” adalah bentuk baku dalam KBBI.
 
Dan untuk sekali itu, beliau kalah.
 
Momen kecil itu justru memperlihatkan satu hal penting: di balik reputasinya sebagai profesor dan peneliti, ia tetap manusia yang terbuka untuk dikoreksi.
 
Prof. Thamrin adalah ilmuwan dengan latar akademik kuat—lulusan Kimia Universitas Gadjah Mada, yang kemudian melanjutkan studi master hingga doktoral di Toulouse, Prancis. Ia adalah Guru Besar Kimia Agroindustri dengan berbagai karya dan paten.
 
Namun, ia tidak membatasi dirinya di laboratorium.
 
Ia aktif dalam berbagai organisasi, memimpin dan memberi arah—dari ICMI, HEBITREN, Yayasan Mujahidin, hingga perannya di Dewan Masjid Indonesia.
 
Ia juga produktif menulis. Kolom-kolomnya di Pontianak Post selalu tajam, berbasis data, dan menawarkan solusi.
 
Bahkan di hari terakhir kematiannya, Prof Thamrin masih sempat menulis untuk rubrik Opini Pontianak Post. Sebuah salam perpisahan yang berkelas.
 
Ia adalah perpaduan antara intelektual, organisator, dan tokoh masyarakat.
 
Namun ada satu hal yang hingga kini menjadi penyesalan saya.
 
Beliau pernah mempercayakan saya untuk menulis buku biografinya.
 
Sebuah kepercayaan besar yang tidak semua orang dapatkan. Saya mulai menulisnya. Seingat saya, baru sampai Bab III.
 
Dalam proses itu, beliau bercerita banyak hal. Tentang masa kecilnya sebagai anak Sungai Kapuas, tentang perjuangannya hingga mendapatkan beasiswa ke luar negeri, menempuh pendidikan doktoral di Prancis, hingga menjadi profesor dan rektor.
 
Ia juga bercerita tentang dinamika dan “panasnya” proses pembentukan Fakultas Kedokteran Untan, tentang berbagai peristiwa penting yang ia alami, hingga kisah romantisnya bersama sang istri, Dewi Ayumi yang berdarah Jepang.
 
Semua itu adalah cerita-cerita berharga. Sayangnya, belum sempat saya tuntaskan. Kapan-kapan akan saya keluarkan tulisan itu.
 
Selamat jalan, Prof. Thamrin Usman.
 
Anda mungkin telah berhenti, tetapi legasimu abadi. (Aristono Edi Kiswantoro)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#untan #wafat #energi #thamrin usman