Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kasus Campak di Pontianak Masih Minim, Dinkes Gencarkan Imunisasi dan Sosialisasi Pencegahan

Mirza Ahmad Muin • Selasa, 14 April 2026 | 12:20 WIB
Saptiko - Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak
Saptiko - Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak

PONTIANAK POST - Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Saptiko mengatakan dalam upaya mencegah terjadinya wabah campak, pihaknya kini terus melakukan sosialisasi dan penyuluhan tentang campak. Begitu pula dengan imunisasi campak dengan sasaran balita dan anak sekolah terus dilakukan berkelanjutan.

“Di Semarang memang kasus campak tengah tinggi. Bahkan beberapa waktu lalu Semarang menetapkan KLB campak. Untuk di Kota Pontianak sejauh ini tidak ada peningkatan kasus campak,” ungkap Saptiko, Senin (13/4).

Meski tidak ada peningkatan kasus campak, namun pihaknya terus melakukan upaya dalam mencegah terjadinya wabah campak di Pontianak. Seperti kerja rutin dengan melakukan sosialisasi dan penyuluhan tentang campak, terus dilakukan ke masyarakat.

Puskesmas sebagai ujung tombak Dinas Kesehatan sejauh ini juga sudah melakukan sosialisasi dan penyuluhan. Bahkan tidak hanya bahaya penyakit campak saja. namun semua penyakit wabah baik yang menular dan tidak menular turut disosialisasikan oleh petugas kesehatan. Tujuannya agar semua masyarakat Pontianak sehat semuanya.

Baca Juga: Penambang Speed Seduit Dibentuk Pokdarwis, Perahu Kecil Mengangkut Harapan Besar Wisata

Paparan campak rentan bagi anak usia balita dan anak umur 5-12 tahun. Terlebih jika seumuran ini belum mendapatkan imunisasi campak. Ketika imun tengah lemah maka resiko untuk terpapar campak justru makin tinggi.

Dijelaskan Saptiko penularan campak bisa melalui percikan air liur, kontak langsung serta dari udara yang terkontaminasi virus. Gejala awal campak, biasanya badan mengalami demam tinggi 10 sampai 14 hari. Lalu demam disertai dengan batuk pilek, mata merah dan muncul ruam merah di kulit.

Saptiko juga tak menutupi, jika campak juga bisa menyerang orang dewasa yang sebelumnya belum pernah vaksin campak. Atau memang belum pernah kena campak sebelumnya.

“Ketika imun tubuh tengah lemah, juga bisa menjadi penyebab orang terpapar campak,” ungkapnya.

Dia meminta pada masyarakat yang memiliki anak balita dan 5 sampai 12 tahun untuk melakukan vaksin campak. Ini merupakan upaya pemerintah dalam mencegah terjadinya campak.

Baca Juga: Kemenag Pontianak Dorong Kesiapan Mental Siswa Hadapi Ujian Madrasah dan PPDB Mei 2026

Apabila tingkat vaksin campak di kota ini tinggi, maka kejadian KLB campak seperti daerah lain dipastikannya tidak akan terjadi. Kalaupun ada temuan kasus campak di Pontianak, akan cepat tertangani oleh petugas kesehatan.

Hingga Maret 2026, RSUD Soedarso dilaporkan tetap menyiagakan ruang isolasi khusus untuk menangani rujukan pasien dari berbagai wilayah di Kalimantan Barat.

Data menunjukkan bahwa dinamika kasus di Kota Pontianak didominasi oleh anak-anak pada rentang usia 9 bulan hingga 2 tahun. Mirisnya, hasil penelusuran epidemiologi mengungkap fakta bahwa sekitar 90 persen dari pasien yang terinfeksi tidak memiliki riwayat imunisasi lengkap atau bahkan belum pernah mendapatkan vaksin measles rubella (MR).

Situasi di Pontianak ini berbanding lurus dengan kondisi nasional yang sempat mengalami puncak kasus pada minggu pertama Januari 2026 dengan angka 2.268 konfirmasi. Namun, memasuki minggu ke-11, tren nasional menunjukkan penurunan tajam hingga 95 persen, di mana angka suspek menyusut menjadi 177 kasus.

Meski tren melandai dan belum ada penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) baru di Pontianak, langkah antisipasi tetap dilakukan secara masif. Dinkes Kota Pontianak saat ini tengah menggencarkan program imunisasi kejar yang menyasar anak-anak usia PAUD, TK, hingga kelas 1 SD.

Baca Juga: Kemenag Pontianak Dorong Kesiapan Mental Siswa Hadapi Ujian Madrasah dan PPDB Mei 2026

Selain itu, RSUD Soedarso telah melakukan peningkatan kapasitas tempat tidur di ruang isolasi penyakit menular untuk mengantisipasi potensi lonjakan mendadak di masa transisi musim.

Target utama pemerintah daerah adalah mencapai ambang batas kekebalan kelompok (herd immunity) sebesar 95 persen di setiap kelurahan. Melalui cakupan imunisasi yang merata, diharapkan transmisi lokal virus campak di Kota Khatulistiwa ini dapat dihentikan sepenuhnya sebelum memasuki pertengahan tahun.(iza) 

Editor : Hanif
#sosialisasi #IM# #kota pontianak #dinas kesehatan #campak