Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Program BERBISIK Pertamina Berdayakan Difabel dan Warga

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 14 April 2026 | 22:44 WIB
Program BERBISIK Pertamina di Kilang Balongan berdayakan difabel, kelola sampah, dan ciptakan omzet ratusan juta rupiah.
Program BERBISIK Pertamina di Kilang Balongan berdayakan difabel, kelola sampah, dan ciptakan omzet ratusan juta rupiah.

 

PONTIANAK POST - Program pemberdayaan masyarakat di sekitar Kilang Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menunjukkan dampak nyata.

Melalui program BERBISIK, PT Pertamina Patra Niaga mendorong kemandirian ekonomi, inklusi sosial, serta inovasi lingkungan bagi masyarakat, termasuk penyandang difabel.

Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini dirancang untuk membuka akses ekonomi, meningkatkan keterampilan, dan memperkuat kolaborasi masyarakat di wilayah sekitar kilang.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, mengatakan nama BERBISIK merupakan akronim dari Berdaya, Berkolaborasi Inklusif, Inovasi, dan Karya.

“Meski namanya terdengar pelan, BERBISIK justru membawa pesan kuat tentang kesetaraan, kemandirian ekonomi, dan inovasi lingkungan,” ujar Roberth.

 

Program Inklusi Sosial di Sekitar Kilang Balongan

Program BERBISIK merupakan pengembangan dari program Gagak Winangsih (Gerakan Gabungan Lingkungan Bersih dan Inklusif) 2024.

Jika sebelumnya berfokus pada collaboration hub, kini konsepnya berkembang menjadi inclusive pathway, yaitu jalur pemberdayaan masyarakat yang terarah dan berkelanjutan.

Program ini menyasar masyarakat di sekitar Kilang Balongan, khususnya di Desa Balongan, Kelurahan Lemahmekar, dan Kelurahan Karangmalang.

Roberth menjelaskan, berbagai persoalan sosial masih ditemui di wilayah tersebut.

Di antaranya keterbatasan akses pendidikan dan pekerjaan bagi penyandang disabilitas, serta masalah pengelolaan sampah dan lingkungan.

 

Pemberdayaan Difabel hingga Kewirausahaan

Program BERBISIK dimulai dengan penguatan keterampilan dasar (basic skill) bagi masyarakat difabel dan non-difabel.

Tahapan ini bertujuan membangun kepercayaan diri sekaligus meningkatkan kemampuan dasar peserta.

Selanjutnya, peserta didorong menuju tahap profesional, kewirausahaan, hingga advokasi kebijakan publik.

“Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menerima bantuan sesaat, tetapi memiliki kesempatan tumbuh secara berkelanjutan,” kata Roberth.

Dalam program ini, kelompok difabel dan masyarakat rentan diposisikan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar penerima bantuan.

Mereka mendapatkan akses terhadap sumber daya produktif, pelatihan, serta penguatan kapasitas ekonomi.

 

Bank Sampah hingga Kedai Kopi Difabel

Dari program ini lahir berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat.

Salah satunya Bank Sampah Wiralodra yang membantu mengatasi persoalan sampah di Desa Balongan.

Program serupa juga diterapkan di Lapas Kelas IIB Indramayu dan dikelola oleh warga binaan.

Selain itu, terdapat Kedai Kopi Teman Istimewa yang dikelola oleh penyandang difabel tunarungu.

Kedai ini menjadi ruang inklusi pertama di Indramayu sekaligus wadah bagi difabel untuk mengembangkan keterampilan, meningkatkan kepercayaan diri, serta memperoleh penghasilan.

 

Dampak Sosial, Lingkungan, dan Ekonomi

Program BERBISIK memberikan dampak signifikan di berbagai sektor.

Dalam aspek sosial, program ini memberdayakan 155 penyandang difabel, 11 warga kurang mampu, 32 perempuan, serta kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.

Program ini juga melibatkan 55 warga binaan Lapas Kelas IIB Indramayu.

Secara keseluruhan, lebih dari 10 ribu orang menerima manfaat tidak langsung dari program ini di Kabupaten Indramayu.

Dalam aspek lingkungan, program BERBISIK mampu mengolah 1,8 ton sampah organik per tahun.

Upaya tersebut berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga 223.228,8 kilogram CO₂ ekuivalen per tahun.

Program ini juga berhasil mengolah 240 liter minyak jelantah setiap tahun.

 

Omzet Ratusan Juta Rupiah

Dari sisi ekonomi, berbagai kegiatan usaha yang lahir dari program ini juga menunjukkan hasil yang signifikan.

Produk hasil pengolahan sampah plastik mencatatkan omzet lebih dari Rp270 juta per tahun.

Sementara Kedai Kopi Teman Istimewa dan workshop kreatif menghasilkan omzet lebih dari Rp220 juta per tahun.

Pendapatan warga binaan di Lapas Indramayu juga mencapai sekitar Rp74 juta per tahun.

Program ini sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, pekerjaan layak, serta aksi penanganan perubahan iklim.

 

Mengantar Kilang Balongan Raih Proper Emas

Keberhasilan program BERBISIK juga mengantarkan Kilang Balongan meraih Proper Emas 2025, penghargaan tertinggi dalam penilaian kinerja lingkungan perusahaan.

Penghargaan ini menjadi Proper Emas kedelapan yang diraih Kilang Balongan.

Roberth berharap program ini tidak hanya berhenti di Indramayu.

“Inovasi dan kolaborasi dalam program BERBISIK telah menumbuhkan kesetaraan dan kemandirian ekonomi warga. Kami berharap model ini dapat menginspirasi wilayah lain,” pungkasnya. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#program BERBISIK Pertamina #Kilang Balongan #pemberdayaan difabel Indramayu #TJSL Pertamina #Proper Emas 2025