PONTIANAK POST - Siswa Pontianak berhasil meraih dua medali emas di ajang internasional JISF 2026 melalui riset berbasis isu lokal. Prestasi ini menegaskan bahwa gagasan dari daerah mampu bersaing dan diakui di panggung global.
SEPULUH pelajar SMA Gembala Baik membuktikan bahwa gagasan lokal bisa menembus panggung dunia. Mereka pulang dengan dua medali emas dari ajang 3rd Jakarta International Science Fair (JISF) 2026—sebuah capaian yang tak hanya membanggakan, tetapi juga sarat makna.
Kompetisi karya tulis ilmiah tingkat internasional itu diselenggarakan oleh Indonesia Young Scientist Association (IYSA) bersama i3L University Jakarta, bekerja sama dengan Malaysia Young Scientist Organization (MYSO). Babak final digelar secara hybrid, dengan sesi daring pada 14–17 April 2026 dan luring pada 24–27 April 2026.
Dalam ajang tersebut, SMA Gembala Baik mengirimkan dua tim yang sama-sama berhasil menyabet medali emas di kategori berbeda.
Tim pertama yang diketuai Keira Carissa Setio berkompetisi di kategori social science. Bersama Andrew Oktadinata, Kayleen Gunawan, Fransiska Glory Almeira, dan Valent Auderia Bridgetha, mereka mengangkat isu transisi penggunaan plastik konvensional ke bioplastik di kalangan pedagang kecil di pasar tradisional Pontianak.
Penelitian ini menyoroti sejauh mana kebijakan ramah lingkungan diterapkan, sekaligus mengungkap berbagai kendala yang dihadapi pelaku usaha kecil.
“Kami ingin melihat sejauh mana pedagang sudah beralih ke bioplastik dan apa saja hambatannya,” ujar Kayleen.
Presentasi mereka mendapat pujian dari juri asal Singapura yang menilai tim ini sistematis, komunikatif, dan solid dalam menjawab pertanyaan.
Sementara itu, tim kedua yang dipimpin Beltsazar Ray Soemaryoto meraih emas di kategori environmental science. Bersama Stanley, Cen Cen, Gaby Gabriella Agustine, dan Ursula Eanswida Septeriana, mereka mengembangkan penelitian tentang pemanfaatan ampas kopi sebagai adsorben untuk mengolah air tercemar.
Ide tersebut berangkat dari realitas lokal: melimpahnya limbah ampas kopi di Pontianak.
“Jumlah warung kopi di Pontianak sangat banyak, sehingga limbah ampas kopi berpotensi besar untuk dimanfaatkan,” ujar Stanley.
Inovasi ini mendapat apresiasi dari juri asal Malaysia, yang mendorong agar penelitian tersebut dikembangkan lebih lanjut karena dinilai memiliki potensi aplikatif yang tinggi.
Pembimbing tim, Irene Utami, S.Si., mengungkapkan bahwa kompetisi ini diikuti 137 proyek finalis dari berbagai negara, termasuk Thailand, Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Korea Selatan.
Keberhasilan dua tim ini menunjukkan bahwa pelajar daerah mampu bersaing di tingkat global dengan mengangkat isu-isu lokal yang relevan dan solutif.
Kepala SMA Gembala Baik, Anastasia Kran, S.Ag., M.Th., menyampaikan rasa bangga dan syukur atas capaian tersebut.
“Terima kasih kepada para pembimbing, orang tua, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan dan doa sehingga siswa-siswi dapat meraih prestasi di tingkat internasional,” ujarnya.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa dari Pontianak, ide-ide besar bisa lahir—dan bahkan menginspirasi dunia. (pms/r)
Editor : Hanif