Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Delapan Korban Helikopter PK-CFX Teridentifikasi, Investigasi KNKT Fokus Kumpulkan Bukti Penyebab

Hanif PP • Senin, 20 April 2026 | 09:44 WIB
Prajurit TNI AL menggotong peti jenazah pilot helikopter Airbus H130 registrasi PK-CFX, Marindra Wibowo, saat pemakaman di Taman Makam Bahagia TNI AL, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (18/04/2026). (Umarul Faruq/ANTARA FOTO)
Prajurit TNI AL menggotong peti jenazah pilot helikopter Airbus H130 registrasi PK-CFX, Marindra Wibowo, saat pemakaman di Taman Makam Bahagia TNI AL, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (18/04/2026). (Umarul Faruq/ANTARA FOTO)

PONTIANAK POST - Delapan jenazah kecelakaan maut helikopter PK-CFX yang sempat hilang kontak telah teridentifikasi dan dipulangkan ke kediamannya masing-masing.  Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kalbar, Kombes Pol dr J Ginting, memastikan seluruh korban telah berhasil diidentifikasi oleh tim gabungan. Proses tersebut melibatkan Biddokkes dan empat dokter forensik yang bekerja intensif sejak jenazah dievakuasi.

“Seluruh korban sudah teridentifikasi. Saat ini kami menunggu tahap rekonsiliasi sebelum jenazah diserahkan kepada keluarga,” ujar Ginting di Pontianak, Sabtu (19/4).

Rekonsiliasi merupakan pencocokan akhir antara data antemortem dan postmortem. Dari delapan korban, satu warga negara asing masih memerlukan verifikasi tambahan melalui data sidik jari dari negara asalnya.

Delapan korban tersebut adalah Joko Catur Prasetyo, Charles Dominson Lakidang, Patrick Kee Chuan Peng (Malaysia), Victor Tan Keng Liam, pilot Capt Marindra Wibowo, kopilot Harun Arasyd, Fauzi Orbanta, dan Sugito.

Baca Juga: KNKT Targetkan Laporan Awal Kecelakaan Helikopter PK-CFX di Sekadau Terbit dalam 30 Hari

Di lokasi kejadian, upaya mengungkap penyebab kecelakaan kini difokuskan pada olah tempat kejadian perkara (TKP) secara menyeluruh. Polri melalui Polsek Nanga Taman, Polres Sekadau, Polda Kalbar, melakukan pengamanan sekaligus pendampingan terhadap proses investigasi yang dilakukan tim gabungan.

Kapolres Sekadau AKBP Andhika Wiratama melalui Kasi Humas AKP Triyono menjelaskan, olah TKP dan investigasi telah berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (18–19 April 2026), melibatkan KNKT, Basarnas, TNI, kru PT Matthew Air, serta dukungan masyarakat setempat.

“Pada hari pertama, tim melakukan olah TKP awal dengan fokus pada pengecekan posisi helikopter, pemeriksaan dokumen penerbangan, serta penelusuran barang milik korban di sekitar lokasi,” ujar Triyono.

Tim juga mengidentifikasi kondisi akhir pesawat dan sebaran puing untuk membantu mengungkap penyebab kecelakaan secara faktual. Sejumlah barang yang berhasil diamankan antara lain dokumen penerbangan serta barang pribadi korban.

Pada hari kedua, investigasi dilanjutkan dengan dokumentasi lebih rinci dan pengumpulan data lapangan. Tim juga mengamankan sejumlah komponen penting helikopter untuk analisis teknis lebih lanjut.

Baca Juga: Ajang 3rd Jakarta International Science Fair (JISF) 2026: Dari Pontianak ke Dunia, Pelajar Gembala Baik Raih Dua Emas

Komponen tersebut meliputi instrumen kokpit seperti altimeter, airspeed indicator, indikator mesin, kamera kokpit, hingga perangkat penting seperti DECU (Digital Engine Control Unit) dan FADEC (Full Authority Digital Engine Control) yang berfungsi mengendalikan performa mesin.

“Polri fokus pada pengamanan lokasi dan pendampingan agar proses investigasi berjalan sesuai prosedur,” kata Triyono.

Ia menambahkan, investigasi akan berlanjut dengan agenda pergeseran mesin helikopter dari lokasi kejadian sebagai bagian dari tahapan lanjutan.

Sejalan dengan itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menargetkan laporan awal akan dirilis dalam waktu 30 hari sejak insiden. Laporan tersebut akan memuat data faktual, mulai dari kondisi cuaca hingga performa mesin sebelum kecelakaan.

Namun hingga kini, penyebab pasti jatuhnya helikopter belum dapat dipastikan.

Baca Juga: Perluas Akses Layanan Kesehatan Hemodialisis, BPJS Kesehatan- RSUD Landak Jalin Kerja Sama

Helikopter PK-CFX diketahui tidak dilengkapi Flight Data Recorder (FDR) maupun Cockpit Voice Recorder (CVR). Sebagai gantinya, KNKT mengandalkan engine data recorder untuk menelusuri kondisi mesin sebelum kejadian.

Selain itu, berbagai data pendukung terus dikumpulkan, termasuk kemungkinan rekaman visual serta koordinasi dengan pihak manufaktur di Prancis untuk memastikan akurasi analisis teknis.

Laporan akhir yang memuat penyebab kecelakaan diperkirakan baru akan dirilis dalam waktu hingga 12 bulan.

Helikopter tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada Kamis (16/4) pukul 08.39 WIB setelah lepas landas dari helipad PT CMA di Desa Nanga Keruap, Kabupaten Melawi, pukul 07.34 WIB. Helikopter dalam perjalanan menuju Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.

Pada pukul 15.25 WIB di hari yang sama, serpihan ekor helikopter ditemukan di kawasan hutan Kabupaten Sekadau. (ars/ant)

Editor : Hanif
#helikopter PK-CFX #investigasi #tragedi #knkt #kecelakaan maut