PONTIANAK POST – Minat masyarakat terhadap pelatihan kerja di Balai Latihan Kerja (BLK) Kalimantan Barat (Kalbar) terus menunjukkan tren positif. Program berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kini menjadi yang paling diminati peserta.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalbar Ahmad Priyono mengungkapkan, tingginya antusiasme terlihat pada sejumlah program seperti operator komputer, basic office, hingga pengelolaan administrasi perkantoran.
“Hal ini menunjukkan kebutuhan keterampilan digital, dan administrasi modern semakin meningkat, seiring tuntutan dunia kerja yang terus berkembang,” ujarnya.
Selain bidang TIK, pelatihan keterampilan teknis juga tetap menjadi favorit. Di antaranya teknik pengelasan dan servis AC. Minat pada pelatihan pengelasan didorong peluang kerja yang luas, baik di sektor konstruksi maupun pekerjaan skala rumah tangga.
Baca Juga: Wagub Kalbar Minta Pegawai Dayak Jadi Perekat Keberagaman di Perayaan Paskah BRPD
Sementara itu, pelatihan servis AC semakin diminati seiring pesatnya pembangunan perumahan, dan meningkatnya penggunaan perangkat pendingin ruangan. Kondisi tersebut turut mendorong kebutuhan tenaga terampil di bidang perawatan, dan perbaikan AC.
Ahmad menambahkan, lulusan BLK pada umumnya memiliki peluang cukup besar untuk terserap di pasar kerja. Hal ini karena program pelatihan telah disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. “Pelatihan berbasis kompetensi membuat peserta tidak hanya dibekali teori, tetapi juga praktik langsung di workshop,” jelasnya.
Selain itu, dukungan kemitraan dengan perusahaan serta program pemagangan turut membuka peluang bagi lulusan untuk langsung bekerja maupun berwirausaha. Meski demikian, pihaknya mengakui masih terdapat kendala dalam memantau tingkat penyerapan tenaga kerja. Salah satunya keterbatasan data kontak alumni yang masih aktif, serta tingginya mobilitas lulusan.
“Tantangan lainnya adalah melakukan tracing alumni. Banyak yang berpindah kerja atau membuka usaha mandiri sehingga datanya tidak selalu terpantau,” katanya.
Di sisi lain, peningkatan keterampilan tenaga kerja di Kalbar juga menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan industri, serta keterbatasan akses pelatihan yang relevan, dan berkualitas.
Faktor sarana dan prasarana juga menjadi perhatian. Sejumlah peralatan pelatihan dinilai perlu pembaruan agar sesuai dengan standar industri terkini. “Sarana dan prasarana di BLK sebagian sudah termakan usia, meski terus dipelihara. Perlu peningkatan agar lebih mendekati kebutuhan industri,” ungkapnya.
Terkait kurikulum, Ahmad memastikan telah mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang ditetapkan Kementerian Ketenagakerjaan RI. Kurikulum tersebut juga dievaluasi secara berkala dengan melibatkan dunia usaha, dan industri.
Dengan demikian, peserta pelatihan tidak hanya memperoleh pengetahuan dasar, tetapi juga keterampilan teknis dan sikap kerja sesuai standar industri. “Harapannya lulusan memiliki kompetensi terukur, tersertifikasi, dan mampu bersaing di tingkat lokal maupun nasional,” harapnya. (bar)
Editor : Hanif