PONTIANAK POST - Ancaman kebakaran hutan dan lahan kembali membayangi Kalimantan Barat, saat musim kemarau diprediksi datang lebih kering dan panjang akibat fenomena El Nino.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq secara khusus mewanti-wanti enam provinsi rawan karhutla, termasuk Kalimantan Barat.
Selain Kalbar, provinsi lain yang masuk perhatian adalah Riau, Kalimantan Tengah, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.
Wilayah-wilayah ini dinilai memiliki lahan gambut luas yang sangat rentan terbakar saat kekeringan.
“Tahun ini El Nino berkategori rendah hingga moderat tetapi terjadi pada musim kemarau, sehingga dampaknya diproyeksikan lebih signifikan,” ujar Hanif.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan turun drastis.
Angkanya diperkirakan kurang dari 100 mm per bulan atau di bawah 5 mm per hari.
Kondisi ini berpotensi memperpanjang hari tanpa hujan dan menyulitkan upaya modifikasi cuaca.
Di lapangan, ancaman terbesar datang dari gambut yang mengering.
Hanif mengungkapkan, di sejumlah wilayah terjadi penurunan tinggi muka air tanah hingga 150 cm.
Padahal, kondisi aman berada di atas 40 cm dari permukaan tanah.
“Penurunan di bawah 80 cm menjadi indikator meningkatnya risiko kebakaran,” tegasnya.
Karena itu, pemerintah daerah diminta bergerak cepat.
Pemantauan tinggi muka air gambut harus dilakukan secara detail dan berkelanjutan.
Pemasangan alat pemantau otomatis maupun manual juga harus segera diaktifkan.
Tak hanya itu, perhatian juga diarahkan ke area konsesi perusahaan.
Baik perkebunan maupun kehutanan diminta meningkatkan pengawasan dan pengelolaan kanal di lahan gambut.
Di tingkat masyarakat, kelompok peduli api diminta kembali diaktifkan.
Keterlibatan warga dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah kebakaran sejak dini.
Koordinasi lintas kementerian pun diperkuat untuk memastikan kesiapan anggaran dan teknis di lapangan. (ant)
Infografis – Fakta Penting
| Poin | Keterangan |
|---|---|
| Wilayah Rawan | Kalbar, Riau, Kalteng, Jambi, Sumsel, Kalsel |
| Penyebab | El Nino saat musim kemarau |
| Curah Hujan | <100 mm/bulan |
| Batas Aman Gambut | >40 cm dari permukaan |
| Risiko Tinggi | Jika turun di bawah 80 cm |
| Langkah Antisipasi | Pemantauan, alat ukur, aktivasi masyarakat |
Editor : Aristono Edi Kiswantoro