PONTIANAK POST - Kondisi perekonomian pemerintah yang mengalami efisiensi keuangan ternyata juga turut berdampak pada sendi-sendi perekonomian akar. Pedagang pinggir jalan, kini juga mulai merasakan menurunnya pendapatan.
“Sekarang berjualan susah. Pembeli tak seramai dulu. Padahal posisi gerobak saya ini di tepi jalan dan ramai dilalui pengendara. Tetapi sekarang untuk pembeli singgah membeli rokok dan makanan kecil sudah jauh berkurang. Tidak seperti dulu,” ujar Dedi Pedagang Gerobak di tepian Jalan Sultan Syarif Abdurrahman, Rabu (22/4).
Dijelaskan dia, sebelum mengalami penurunan pendapatan seperti sekarang, penghasilan bersih dia bisa mencapai Rp300 ribu per hari. Namun sekarang untuk mendapatkan seratus ribu sudah susah.
Jika kondisinya semakin lama semakin sulit, dia juga mulai memutar otak untuk mencari pekerjaan lain. Itu karena hasil jualan tidak seperti dulu. Terlebih kebutuhan pokok kin mahal. Harga plastik juga naik, maka berpengaruh dengan harga jualannya.
Baca Juga: Pemkab dan Pemkot se-Kalbar Saling Bantu Biaya Lokal Haji untuk Ringankan Jemaah
Dia melihat, penurunan konsumen yang datang di gerobak dagangannya mungkin banyak penyebab. Situasi sekarang pemerintah pusat telah melakukan efisiensi besar-besaran. Aturan itu juga diturunkan sampai ke tataran daerah. Pemberhentian PPPK yang baru diangkat akibat daerah tak mampu membayar gaji.
“Bahkan tunjangan juga ada yang tak mampu dibayarkan,” ujar diploma lulusan salah satu Universitas Keguruan di Pontianak itu.
Jika perekonomian di dataran menengah seperti ASN dan karyawan swasta berkurang, dampak terasanya juga akan sampai ke dia yang menjadi seorang pedagang gerobak kecil.
Pemerintah sebetulnya harus melihat situasi yang dirasakan oleh masyarakat kecil. “Saya jika kondisinya masih seperti ini, mungkin pelan-pelan juga akan banting setir. Mau cari-cari kerja apa saja, yang penting hasilnya cukup untuk kebutuhan sebulan,” keluhnya.
Terpisah pedagang makanan dengan harga jual sepuluh ribuan, Mbo mengaku berat menjalankan usaha ini. Itu dikarenakan harga kebutuhan pokok sudah mahal. Belum lagi harga wadah plastik untuk tempat makanan, yang semula Rp 23 ribu kini tembus Rp 37 ribu.
Baca Juga: CFD Sambas Jadi Ruang Kreasi Anak Muda, Dorong UMKM Remaja dan Ekonomi Lokal
Untuk menaikkan harga menjadi 12 ribu dia pun berpikir. Sebab untuk harga segitu, masyarakat bisa mendapatkan nasi padang. Untuk mensiasati berbagai kenaikan bahan baku ini, dirinya hanya mengurangi beberapa menu. Seperti makanan rebusan, awalnya menggunakan telur, kini ditiadakan. Diuntungkan lagi sekarang harga ayam tidak terlalu mahal. Jadi untuk menjual menu makanan sepuluh ribu masih bisa meski untungnya tipis.
Dia juga kasihan jika dagangan titipan pelaku UMKM yang dititip di tempatnya bila tidak laku. “Mereka sudah rugi di wadah. Karena harga plastik mahal, lalu ketika datang ke sini, makanannya tak laku. Untuk modal besok harus berpikir lagi mencarinya,” katanya.(iza)
Editor : Hanif