PONTIANAK POST - Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat mencatat cakupan imunisasi di daerah tersebut masih berada di bawah target nasional. Kondisi ini mendorong perlunya percepatan melalui program imunisasi kejar serta penguatan kolaborasi lintas sektor.
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, Erna Yulianti menyampaikan bahwa capaian imunisasi di Kalbar masih menghadapi tantangan serius. Pada 2025, cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) baru mencapai 55,9 persen, jauh di bawah target nasional sebesar 80 persen.
Sementara itu, cakupan imunisasi baduta lengkap (IBL) tercatat 42,7 persen, juga belum memenuhi target nasional sebesar 70 persen.
“Kondisi ini berpotensi meningkatkan kerentanan anak terhadap berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi,” ujar Erna di Pontianak, belum lama ini.
Baca Juga: Pelatihan Juleha Perkuat Sistem Halal di Kalbar, Jaga Kepercayaan Masyarakat terhadap Produk
Ia menambahkan, rendahnya cakupan imunisasi turut meningkatkan risiko terjadinya kejadian luar biasa (KLB), seperti campak yang mulai dilaporkan di sejumlah wilayah, serta potensi munculnya penyakit lain seperti difteri, pertusis, dan polio.
Sebagai langkah percepatan, Dinas Kesehatan mendorong pelaksanaan imunisasi kejar di 670 posyandu yang tersebar di Kota Pontianak, Kota Singkawang, dan Kabupaten Kubu Raya.
“Ketiga daerah ini ditetapkan sebagai pilot project untuk mengatasi berbagai tantangan di lapangan, sekaligus menjadi model bagi kabupaten dan kota lain di Kalimantan Barat,” jelasnya.
Menurut Erna, peningkatan cakupan imunisasi tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, Kementerian Kesehatan, mitra internasional, serta berbagai pemangku kepentingan.
“Sinergi menjadi kunci dalam mencapai target nasional sekaligus melindungi generasi mendatang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,” tambahnya.
Baca Juga: TMMD Imbangan ke-128 Singkawang Resmi Dibuka, Fokus Infrastruktur Desa dan Penanganan Stunting
Ia menegaskan, imunisasi hingga saat ini tetap menjadi upaya preventif paling efektif dan efisien dalam menjaga kualitas kesehatan masyarakat sepanjang usia.
“Keberhasilan program imunisasi diukur dari cakupan imunisasi dasar lengkap, ketersediaan logistik yang tepat waktu, serta meningkatnya kesadaran masyarakat,” ujar Erna. (mse)
Editor : Hanif