PONTIANAK POST - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menyoroti isu keanekaragaman hayati baik spesies, genetik dan ekosistem yang berada di Taman Hutan Raya (Tahura) Pandan Puloh sebagai sebuah aset utama yang harus dikelola secara tepat agar tetap lestari dalam jangka panjang. Tahura ini berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Landak.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalimantan Barat, Adi Yani mengatakan Tahura Pandan Puloh merupakan satu-satunya Tahura di provinsi ini yang ditunjuk melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2019 seluas kurang lebih 3.923 Hektare.
“Setelah dilakukan perhitungan ulang secara digital dengan sistem koordinat Cylindrical saat ini diketahui luas Tahura Pandan Puloh adalah 3.890,82 Hektare,” ungkapnya saat kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Inventarisasi dan Verifikasi keanekaragaman hayati Tahura Pandan Puloh Tahun 2026, di Hotel Mercure Pontianak, Rabu (22/4).
Menurut Adi Yani, sebagai kawasan konservasi, Tahura tidak hanya berfungsi melindungi sistem penyangga kehidupan, tetapi juga menjadi ruang koleksi, penelitian, pendidikan, serta pemanfaatan sumber daya alam secara terbatas dan berkelanjutan.
Baca Juga: Momentum Peringatan Hari Bumi, Wali Kota Pontianak Ajak Warga Wujudkan Kota Hijau yang Berkelanjutan
Adi Yani juga menyoroti berbagai tantangan pengelolaan kawasan hutan dalam beberapa tahun terakhir, seperti perubahan tata guna lahan di sekitar kawasan, fragmentasi habitat, serta meningkatnya aktivitas manusia.
“Tekanan tersebut berpotensi mempengaruhi kondisi ekosistem dan komposisi keanekaragaman hayati di luar kawasan konservasi, sebagaimana data bahwa 70 persen kehati berada di luar kawasan konservasi. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang memadai mengenai kondisi aktual kehati sebagai dasar pengelolaan kawasan,” ujarnya.
Bimtek ini diselenggarakan oleh DLHK Kalimantan Barat dengan dukungan pendanaan dari Program Result Based Payment (RBP) REDD+ GCF Output 2. Bimtek diikuti oleh peserta dari UPT KPH se-Kalimantan Barat serta staf DLHK dan BKSDA Kalimantan Barat.
Kepala Bidang Perlindungan, Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem DLHK Kalimantan Barat, Hairil Anwar mengatakan bimtek bertujuan meningkatkan kapasitas dan keterampilan teknis dalam melakukan inventarisasi keanekaragaman hayati di Tahura Pandan Puloh. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mendorong pelaksanaan inventarisasi keanekaragaman hayati secara mandiri.
“Peserta tidak hanya berasal dari KPH yang terkait langsung dengan pengelolaan Tahura Pandan Puloh, tetapi juga dari KPH lain di Kalimantan Barat,” jelasnya.(sti)
Editor : Hanif