PONTIANAK POST - Saat banyak daerah mulai bersiap menghadapi kemarau akibat El Nino, langit Pontianak justru tak berhenti menurunkan hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat.
Meski ada indikasi El Nino di Indonesia, Kalimantan Barat belum memasuki musim kemarau.
Koordinator Data dan Informasi BMKG Supadio, Sutikno, menyebut hujan masih akan terjadi hingga beberapa waktu ke depan.
“April ini belum masuk musim kemarau. Curah hujan masih kategori normal hingga Mei,” ujarnya di Sungai Raya, belum lama ini.
Awal musim kemarau di Kalbar diperkirakan baru dimulai pada dasarian kedua Juni.
Artinya, periode 11 hingga 20 Juni menjadi titik awal peralihan cuaca.
Kondisi ini membuat Pontianak dan sekitarnya masih kerap diguyur hujan.
Situasi tersebut sekaligus menekan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Meski begitu, ancaman karhutla belum sepenuhnya hilang.
Data BMKG menunjukkan jumlah titik panas mulai meningkat sejak Januari hingga Maret 2026.
Lonjakan tertinggi terjadi pada Maret.
Wilayah Ketapang, Kubu Raya, dan Mempawah menjadi daerah dengan hotspot terbanyak.
“Peningkatan pada Maret cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya,” kata Sutikno.
BMKG mencatat puncak hotspot biasanya terjadi pada Agustus hingga September.
Karena itu, kewaspadaan dini tetap diperlukan sejak sekarang.
Di sisi lain, sempat terjadi penurunan jarak pandang di Bandara Supadio pada akhir Maret.
Visibilitas bahkan sempat turun di bawah satu kilometer pada pagi hari.
Namun kondisi tersebut hanya berlangsung singkat dan kini telah kembali normal.
BMKG memastikan aktivitas penerbangan tetap aman.
Ke depan, puncak musim kemarau di Kalbar diprediksi terjadi pada Juli hingga Agustus.
Masyarakat diminta tetap waspada, terutama di wilayah rawan karhutla.
“Dalam sepekan ini hujan masih berpotensi terjadi, meski distribusinya belum merata,” pungkas Sutikno. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro