PONTIANAK POST - Pemerintah Kabupaten Ketapang menegaskan pentingnya keakuratan data di tengah beredarnya berbagai spekulasi terkait motif rentetan teror di Air Upas.
Isu yang berkembang di masyarakat beragam, mulai dari dugaan keterkaitan narkoba, persaingan bisnis, hingga konflik lahan.
Sekretaris Daerah Ketapang, Repalianto, menyatakan bahwa pemerintah daerah saat ini memprioritaskan pengumpulan informasi yang valid sebelum menarik kesimpulan.
“Kita ingin laporan yang disampaikan benar-benar lengkap, mulai dari kronologi kejadian, data peristiwa, hingga langkah-langkah yang sudah dilakukan. Jangan sampai ada informasi yang tidak akurat,” tegasnya.
Menurutnya, langkah ini penting agar kebijakan yang diambil tidak keliru dan tetap berbasis fakta di lapangan.
Ia juga menekankan bahwa banyaknya narasi yang beredar justru berpotensi memperkeruh situasi jika tidak diverifikasi dengan baik.
Untuk itu, Pemkab Ketapang telah menggelar rapat koordinasi lintas sektor yang melibatkan perangkat daerah, unsur kecamatan, serta aparat keamanan.
Forum tersebut difokuskan pada pengumpulan data menyeluruh sekaligus merumuskan langkah penanganan yang terarah.
“Pertemuan ini bertujuan untuk mengumpulkan data secara lengkap sekaligus merumuskan langkah penanganan yang tepat,” ujar Repalianto.
Hasil dari rapat tersebut nantinya akan diformalkan sebagai laporan resmi Bupati Ketapang kepada Gubernur Kalimantan Barat.
Laporan itu akan menjadi dasar pengambilan keputusan di tingkat provinsi, termasuk langkah strategis penanganan konflik.
Selain penanganan jangka pendek, pemerintah daerah juga menyiapkan langkah antisipatif. Koordinasi dengan aparat keamanan diperkuat, sementara masyarakat didorong untuk turut menjaga stabilitas lingkungan.
Repalianto memastikan, pemerintah tidak akan tinggal diam terhadap situasi yang berkembang.
Ia menegaskan kehadiran negara harus nyata dirasakan masyarakat, terutama dalam kondisi yang mengancam rasa aman.
“Pemkab Ketapang memastikan akan terus hadir dalam memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat, termasuk dalam menangani persoalan keamanan yang terjadi,” katanya.
Di sisi lain, aparat kepolisian masih terus mendalami rangkaian kasus teror yang telah berlangsung lebih dari satu tahun.
Sedikitnya 37 kasus pembakaran pondok dan rumah warga dilaporkan terjadi, disertai aksi penembakan yang menimbulkan ketakutan.
Sebelumnya, Kapolres Ketapang, Muhammad Harris, mengungkapkan bahwa penyelidikan masih berjalan dan belum semua pelaku terungkap.
Saat ini, satu orang berinisial Jaka telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), namun diduga pelaku tidak tunggal.
“Identitas pelaku lainnya masih dalam proses penyelidikan,” ujarnya.
Di tengah proses tersebut, patroli malam bersama warga terus dilakukan untuk mempersempit ruang gerak pelaku.
Aparat juga mendalami kemungkinan adanya motif tertentu di balik teror, termasuk dugaan upaya menciptakan ketakutan agar masyarakat meninggalkan lahan mereka.
Pemerintah berharap, dengan data yang akurat dan koordinasi yang solid, penanganan kasus Air Upas dapat dilakukan secara tepat tanpa memicu konflik baru di tengah masyarakat. (afi)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro