PONTIANAK POST - Belum optimalnya operasional penuh Terminal Internasional Kijing dinilai membuat Kalimantan Barat terus kehilangan potensi ekonomi. Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan, mendesak percepatan pembukaan akses dan pengoperasian pelabuhan tersebut agar arus logistik dan pencatatan hasil sumber daya alam tidak lagi “lari” ke luar daerah.
“Kita sudah rugi banyak. Pencatatan hasil alam justru terjadi di daerah lain, padahal sumbernya dari Kalbar. Yang penting sekarang akses segera dibuka,” tegas Krisantus di Pontianak, baru-baru ini.
Menurutnya, lambannya operasional pelabuhan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi berdampak langsung pada penerimaan daerah. Selama ini, distribusi komoditas unggulan Kalbar masih bergantung pada pelabuhan di luar provinsi, sehingga nilai ekonomi yang seharusnya berputar di daerah justru tercatat di wilayah lain.
Ia menekankan pentingnya peran pemerintah pusat dalam mempercepat konektivitas menuju Terminal Kijing, baik melalui pembangunan jalan tol maupun jalur alternatif. Tanpa akses yang memadai, pelabuhan modern tersebut sulit berfungsi maksimal sebagai simpul logistik strategis.
Baca Juga: Sebanyak 60 Persen Sekolah di Kubu Raya Rusak, Pemda Fokus Perbaikan Infrastruktur Pendidikan
Krisantus bahkan menyebut potensi kemacetan di sekitar pelabuhan bukan sebagai masalah, melainkan indikator ekonomi yang mulai bergerak.
“Kalau nanti macet, itu justru yang dicari. Artinya ekonomi berjalan dan pusat akan terdorong mempercepat pembangunan infrastruktur,” ujarnya.
Meski mendorong Kijing segera beroperasi penuh, ia mengingatkan agar fungsi Pelabuhan Dwikora tetap dijaga. Kondisi Muara Kapuas yang dangkal dinilai berisiko mengganggu distribusi kebutuhan vital seperti BBM dan oksigen medis. Untuk itu, pemerintah daerah membuka peluang kolaborasi dengan investor dalam pengerukan alur sungai.
Selain infrastruktur fisik, Krisantus juga menyoroti pentingnya peran Bank Kalbar dalam mendukung ekosistem ekonomi pelabuhan. Ia berharap perputaran keuangan dari aktivitas logistik dapat tetap berada di dalam daerah dan memperkuat ekonomi lokal.
Di sisi lain, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 memastikan kesiapan operasional Terminal Kijing terus dipacu. Executive Director 2 Pelindo Regional 2, Budi Prasetio, menyebut infrastruktur inti pelabuhan sebenarnya telah siap digunakan.
Baca Juga: Polresta Pontianak Tangkap Otak Perdagangan Orang PMI Ilegal Tujuan Malaysia di Kalbar
“Kesiapan infrastruktur inti sudah terpenuhi. Saat ini fokus kami pada aspek pendukung di luar pelabuhan, seperti percepatan akses jalan, peningkatan kualitas alur pelayaran termasuk dredging, serta dukungan operasional dari stakeholder,” ujarnya.
Ia menegaskan, konektivitas antara terminal dengan wilayah hinterland menjadi kunci utama kelancaran distribusi barang dan efisiensi logistik di Kalbar.
General Manager Pelindo Regional 2 Pontianak, Yanto, menambahkan bahwa pengoperasian Kijing akan dilakukan secara terintegrasi dengan pelabuhan eksisting, termasuk Pelabuhan Dwikora. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan layanan sekaligus meningkatkan utilisasi pelabuhan secara bertahap.
“Perlu pengaturan distribusi trafik kargo secara bertahap dan integrasi fungsi pelabuhan agar tidak mengganggu layanan yang sudah berjalan,” jelasnya.
Yanto juga menekankan pentingnya kepastian arus barang sebagai dasar perencanaan operasional yang berkelanjutan. Menurutnya, kejelasan pipeline kargo akan menentukan kesiapan fasilitas hingga pola layanan yang efisien.
Ke depan, Pelindo merencanakan pengembangan lanjutan di Terminal Kijing, mulai dari penambahan dermaga curah cair untuk komoditas CPO, pembangunan sistem conveyor terintegrasi, hingga optimalisasi jaringan pipa. Seluruh upaya tersebut diarahkan untuk menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing ekspor Kalbar.
Dalam kajian yang disampaikan, sekitar 75 persen biaya logistik masih berada di sektor darat. Karena itu, integrasi kawasan industri dengan pelabuhan menjadi kunci utama, mengacu pada praktik pelabuhan kelas dunia seperti Rotterdam dan Busan.
Percepatan operasional Kijing kini menjadi taruhan besar bagi Kalbar: antara terus menjadi penonton dalam rantai logistik nasional, atau bangkit sebagai pusat distribusi yang menggerakkan ekonomi sendiri. (mse)
Editor : Hanif