PONTIANAK POST - Sekretaris Daerah Kalbar, Harisson menegaskan kondisi inflasi di provinsi ini masih dalam rentang terkendali, dan menjadi salah satu yang terendah di Pulau Kalimantan.
Ia menjelaskan inflasi di Kalbar saat ini berada di kisaran 2,5 persen atau setara dengan Kalimantan Timur (Kaltim). Angka tersebut masih lebih rendah dibanding provinsi lain di Pulau Kalimantan.
“Inflasi kita memang di atas rata-rata nasional (2,42 persen), tetapi masih paling rendah se-Kalimantan bersama Kaltim. Yang tertinggi itu Kalimantan Selatan 3,67 persen, kemudian Kalimantan Tengah 3,66 persen, lalu Kalimantan Utara 2,68 persen,” ujarnya.
Harisson menjelaskan, menurunnya daya beli masyarakat belakangan ini lebih dipengaruhi kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok akibat situasi global. Kenaikan harga dipicu berbagai faktor, mulai dari naiknya harga BBM nonsubsidi hingga dampak geopolitik internasional.
Baca Juga: Juta BPS Catat Ekspor Kalbar Menguat pada Maret 2026 Sementara Nilai Impor Turun Tajam
Selain itu, kenaikan harga juga dipengaruhi komoditas seperti biji plastik, crude palm oil (CPO), pupuk, hingga produksi panen padi yang tidak sesuai target. Tingginya permintaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga disebut ikut memengaruhi kondisi di lapangan.
“Intinya memang karena harga-harga naik. Pendapatan masyarakat relatif sama, tetapi harga kebutuhan meningkat. Itu yang menyebabkan daya beli menurun,” katanya.
Meski demikian, pihaknya memastikan laju inflasi masih berada dalam ambang batas pengendalian. Harisson menilai kondisi tersebut tidak lepas dari momentum konsumsi masyarakat pada kuartal pertama 2026.
“Pada kuartal pertama memang ada THR sehingga daya beli masyarakat cukup baik. Tetapi di kuartal berikutnya tidak ada, sementara harga meningkat akibat inflasi, dan situasi global,” jelasnya.(bar)
Editor : Hanif