Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kasus Hantavirus Muncul di Kalbar

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 10 Mei 2026 | 22:48 WIB
Peta persebaran Hantavirus di Indonesia. Kalimantan Barat menjadi satu dari 9 provinsi yang ditemukan pasien positif virus ini. (Sumber: Kemenkes RI)
Peta persebaran Hantavirus di Indonesia. Kalimantan Barat menjadi satu dari 9 provinsi yang ditemukan pasien positif virus ini. (Sumber: Kemenkes RI)

 

PONTIANAK POST – Kalimantan Barat masuk dalam daftar provinsi yang menemukan kasus positif hantavirus di Indonesia.

Di tengah meningkatnya kewaspadaan global akibat wabah di kapal pesiar MV Hondius, kemunculan satu kasus di Kalbar menjadi alarm baru terhadap ancaman penyakit yang ditularkan tikus tersebut.

Data Kementerian Kesehatan mencatat, sepanjang 2024 hingga pekan ke-16 tahun 2026 terdapat 23 kasus positif hantavirus di Indonesia. Kasus terbanyak ditemukan di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta masing-masing enam kasus, disusul Jawa Barat lima kasus.

Sementara Kalbar, Sumatera Barat, Banten, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Timur masing-masing satu kasus.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan, hingga kini terdapat 251 kasus suspek virus Hanta di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, 23 kasus dinyatakan positif, 221 negatif, empat masih dalam pemeriksaan, dan tiga kasus tidak dapat diambil spesimen.

“Sekarang masih ada dua kasus suspek yang sedang diperiksa,” ujarnya, Jumat (8/5) dikutip dari Jawa Pos.

Sanitasi Buruk Jadi Faktor Risiko

Meski jumlah kasus di Kalbar masih minim, para ahli mengingatkan masyarakat tidak menganggap remeh ancaman hantavirus.

Penyakit zoonosis ini ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan celurut, terutama dari urin, feses, air liur, maupun debu yang terkontaminasi virus.

Kondisi lingkungan padat penduduk, sanitasi buruk, genangan air, hingga tingginya populasi tikus dinilai menjadi faktor yang meningkatkan risiko penularan. Situasi itu masih ditemukan di sejumlah kawasan perkotaan maupun permukiman di Kalbar.

Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman menyebut hantavirus sebenarnya bukan ancaman baru di Indonesia.

Namun banyak kasus diduga tidak terdeteksi karena gejalanya mirip penyakit lain seperti demam berdarah, tifus, atau leptospirosis.

“Fenomena yang terjadi seperti gunung es. Yang terlihat hanya sedikit, sementara kemungkinan kasus sebenarnya lebih besar,” katanya.

Menurut Dicky, seseorang tidak harus digigit tikus untuk tertular hantavirus. Virus bisa masuk melalui udara yang tercemar partikel urin atau kotoran tikus yang mengering.

“Ketika menyapu gudang kotor atau ruangan lembap penuh debu tanpa masker, itu juga bisa menjadi risiko,” ujarnya.

Serang Paru dan Ginjal

Hantavirus dapat memicu dua penyakit serius, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru hingga menyebabkan gagal napas akut.

Gejala awal umumnya berupa demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan tubuh lemas. Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami sesak napas akibat kerusakan paru yang berkembang cepat.

Dicky menyebut tingkat kematian akibat hantavirus tertentu bahkan dapat mencapai 40 persen apabila terlambat ditangani.

Meski demikian, para ahli menilai potensi hantavirus menjadi pandemi global relatif kecil karena penularan antarmanusia sangat terbatas.

IDAI Minta Warga Tidak Panik

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta masyarakat tidak panik berlebihan menyikapi munculnya kasus hantavirus di Indonesia.

Pakar infeksi penyakit tropik IDAI Prof. Dr. Dominicus Husada mengatakan, hingga kini Indonesia belum pernah melaporkan penularan hantavirus jenis Andes yang ramai dikaitkan dengan wabah di kapal pesiar MV Hondius.

“Kalau mau menjaga negara terhindar dari penularan Andes, maka yang harus difokuskan adalah warga dari Amerika Latin karena virus itu hanya ada di sana,” katanya.

Dominicus menyebut langkah paling penting saat ini ialah memperketat pengawasan di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan internasional. Pemerintah juga diminta memperkuat kemampuan laboratorium untuk mempercepat diagnosis dini.

Meski belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus untuk hantavirus, ia menilai ancaman penyakit lain seperti campak dan difteri sebenarnya lebih mendesak ditangani di Indonesia.

“Rumah kita ini sebenarnya sudah terbakar. Kasus infeksi di Indonesia sangat banyak dan belum tertangani optimal. Campak, difteri, pertusis, itu jauh lebih mendesak,” ujarnya.

Wabah Kapal Pesiar Jadi Sorotan Dunia

Kewaspadaan terhadap hantavirus meningkat setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan klaster wabah di kapal pesiar Belanda MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Cape Verde.

Sedikitnya tujuh orang dilaporkan terinfeksi dan tiga meninggal dunia. Kapal tersebut membawa sekitar 150 penumpang dan awak dari 23 negara.

Kasus itu memicu perhatian dunia karena kapal sempat melintasi sejumlah wilayah terpencil sebelum akhirnya berlabuh di lepas pantai Afrika.

Pemerintah Indonesia kini memperkuat pengawasan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), surveilans hewan pembawa penyakit, serta pemantauan pelaku perjalanan internasional.

PHBS Jadi Benteng Utama

IDAI mengingatkan masyarakat bahwa langkah paling efektif mencegah hantavirus tetap melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Langkah sederhana seperti menjaga kebersihan rumah, menutup akses tikus, membersihkan kotoran tikus dengan desinfektan, hingga menggunakan masker saat membersihkan ruangan berdebu dinilai sangat penting untuk menekan risiko penularan.

Warga juga diminta menghindari kontak langsung dengan air banjir atau area lembap yang berpotensi tercemar urin tikus karena dapat meningkatkan risiko penyakit zoonosis lain seperti leptospirosis. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#hantavirus #tikus #kalimantan barat #positif #kementerian kesehatan