Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Obat Tanpa Resep Dokter Disalahgunakan Remaja dan Pekerja Tambang di Kalbar untuk Dapatkan Efek Tertentu

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 12 Mei 2026 | 22:59 WIB
Ilustrasi obat (FREEPIK)
Ilustrasi obat (FREEPIK)

 

PONTIANAK POST – Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pontianak mengungkap penyalahgunaan obat-obat tertentu di Kalimantan Barat masih menjadi ancaman serius, terutama di kalangan remaja dan pekerja tambang.

Sepanjang 2026, BPOM mencatat 27 kasus penyalahgunaan obat tertentu di tujuh kabupaten/kota, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 17 kasus.

Kepala BPOM Pontianak, Hariani, mengatakan remaja menjadi kelompok paling rentan karena faktor pergaulan dan rasa ingin tahu yang tinggi.

Banyak di antara mereka mencoba obat-obatan tertentu tanpa memahami dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan masa depan.

“Remaja ini kan suka coba-coba, mencari jati diri, lalu terpengaruh lingkungan dan teman. Mereka tidak sadar kalau penyalahgunaan obat ini bisa merusak diri sendiri, lingkungan, keluarga, bahkan masa depannya,” ujar Hariani di sela kegiatan Aksi Nasional Pencegahan Penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu di Pontianak, Selasa (12/5).

Efek Sesaat, Dampak Jangka Panjang

Menurut Hariani, penggunaan obat secara berlebihan dan tidak sesuai aturan dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan.

Obat-obatan tertentu yang disalahgunakan biasanya dikonsumsi dalam dosis tidak wajar untuk mendapatkan efek tertentu seperti tubuh terasa lebih kuat atau lebih berenergi.

Padahal, penggunaan berkepanjangan dapat memicu ketergantungan dan merusak organ tubuh seperti hati dan ginjal.

“Efeknya memang terasa sementara, tapi dampaknya bisa panjang dan merusak kesehatan,” katanya.

Persoalan tersebut, lanjut dia, telah menjadi perhatian nasional sehingga pada Mei 2026 digelar Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu secara serentak di seluruh Indonesia.

Pekerja Tambang Rentan Jadi Target

Selain remaja, BPOM Pontianak juga menemukan tingginya penyalahgunaan obat tertentu di kalangan pekerja tambang.

Kondisi kerja berat dan lingkungan kerja yang minim hiburan dinilai membuat para pekerja rentan menjadi target peredaran obat-obatan tersebut.

“Mereka butuh fisik kuat untuk bekerja. Pengedar tahu itu pasar yang gampang dipengaruhi,” ujar Hariani.

Ia menjelaskan efek obat memang dapat membuat tubuh terasa lebih kuat dalam waktu singkat. Namun kondisi tersebut justru memicu ketergantungan dan berujung pada kerusakan kesehatan.

BPOM menilai pola peredaran obat tertentu kini semakin mengkhawatirkan karena menyasar kelompok produktif dan usia muda.

Peredaran Lewat Jasa Ekspedisi

BPOM Pontianak mencatat sebagian besar peredaran obat-obatan tertentu masuk melalui jasa ekspedisi, bukan melalui jalur perbatasan seperti yang selama ini banyak diasumsikan masyarakat.

Selain itu, para penjual juga didominasi anak muda yang memahami pola konsumsi dan gaya hidup sesama remaja.

“Yang menjual ini banyak anak muda juga. Mereka tahu pasar anak muda itu seperti apa. Kadang karena faktor ekonomi, tapi mereka tidak berpikir dampaknya bisa merusak konsumennya,” kata Hariani.

Sebagian besar kasus penyalahgunaan ditemukan di Kota Pontianak.

Namun BPOM menilai potensi peredaran juga cukup tinggi di daerah lain, terutama kawasan dengan aktivitas pertambangan dan mobilitas masyarakat yang tinggi.

Ancaman Sosial dan Kriminalitas

BPOM menilai penyalahgunaan obat-obatan tertentu bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga dapat memicu persoalan sosial hingga kriminalitas.

Karena itu, Hariani meminta seluruh pihak ikut terlibat dalam pengawasan dan edukasi, mulai dari orang tua, sekolah, pemerintah daerah hingga aparat penegak hukum.

Menurutnya, pengawasan keluarga menjadi faktor penting untuk mencegah remaja terjerumus dalam penyalahgunaan obat.

BPOM juga mengimbau orang tua lebih aktif memperhatikan lingkungan pergaulan anak serta penggunaan obat-obatan di rumah.

Selain itu, edukasi di sekolah dan pengawasan terhadap penjualan obat keras tanpa resep dokter dinilai penting untuk menekan peningkatan kasus di Kalbar.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan penindakan. Pencegahan dan edukasi harus diperkuat supaya anak-anak muda tidak mudah terpengaruh,” tegas Hariani. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#bpom #tambang #Remaja #obat #Penyalahgunaan