PONTIANAK POST – Kasus Virus Hanta di Kalimantan Barat memakan korban jiwa.
Seorang warga Kabupaten Ketapang meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang akibat infeksi virus yang diduga ditularkan tikus.
Kasus tersebut kini menjadi perhatian nasional setelah Kementerian Kesehatan RI memasukkan Kalimantan Barat ke dalam daftar provinsi yang menemukan kasus positif hantavirus di Indonesia.
Kepala Dinas Kesehatan Ketapang, Feria Kowira, mengatakan korban meninggal pada April 2026 lalu setelah dirawat di rumah sakit. Namun, kondisi korban juga diperparah oleh penyakit bawaan yang sebelumnya telah diderita.
“Kasus kematian akibat Hanta Virus ini terjadi bulan lalu. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari tikus,” kata Feria, Selasa (12/5).
Meski demikian, Dinkes Ketapang memastikan hingga kini belum ditemukan indikasi penularan antarmanusia. Hasil pemeriksaan terhadap seluruh orang yang sempat kontak dengan korban juga belum menunjukkan adanya kasus suspek baru.
“Sampai saat ini penularannya masih dari hewan ke manusia, bukan dari manusia ke manusia,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Ketapang melakukan penyelidikan epidemiologi di sekitar tempat tinggal korban. Petugas juga menangkap sejumlah tikus di lingkungan permukiman untuk diuji di laboratorium.
“Kami sudah melakukan pemetaan dan penangkapan tikus di sekitar lokasi. Jaringan tikus diambil untuk diuji di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan di Salatiga,” jelas Feria.
Menurut dia, hasil laboratorium masih ditunggu untuk memastikan jenis tikus pembawa Virus Hanta tersebut. Tikus yang diamankan sementara ini merupakan tikus yang banyak ditemukan di kawasan permukiman warga.
Feria menjelaskan, Virus Hanta dapat menular melalui urine, kotoran, maupun air liur tikus yang masuk ke tubuh manusia. Penularan bisa terjadi melalui makanan yang terkontaminasi atau partikel virus yang terhirup.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus. Warga juga diimbau tidak membiarkan makanan terbuka.
Selain itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, mual, hingga gangguan pernapasan, terutama setelah berada di lingkungan yang banyak terdapat tikus.
“Segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami panas tinggi yang tidak turun-turun. Penanganan lebih awal bisa meminimalkan risiko,” imbau Feria.
Dinkes Ketapang menegaskan pengawasan dan surveilans aktif akan terus dilakukan, khususnya di wilayah dengan populasi tikus tinggi. Namun, upaya pencegahan dinilai tidak akan maksimal tanpa keterlibatan masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, Harisson, mengungkapkan pasien terkonfirmasi hantavirus tersebut meninggal dunia hanya sehari setelah menjalani perawatan di rumah sakit karena kondisinya sudah kritis saat pertama kali datang berobat.
Pasien berusia sekitar 50 tahun itu sempat dirawat di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang pada awal Maret 2026.
Namun saat tiba di rumah sakit, kondisinya sudah sangat buruk setelah mengalami demam tinggi selama kurang lebih empat hari.
“Pasien ini sempat dirawat sehari di rumah sakit. Masuk tanggal 2 Maret 2026 dan meninggal tanggal 3 Maret 2026. Pasien datang memang sudah dalam keadaan umum yang jelek,” ujar Harisson, Senin (11/5).
Saat diperiksa tenaga medis, pasien mengalami ikterik atau tubuh menguning serta anuria, yakni kondisi tidak adanya produksi urine yang menandakan gangguan berat pada fungsi ginjal.
“Pasien datang sudah keadaan jelek, besoknya meninggal,” katanya.
Dari hasil pemeriksaan laboratorium terhadap spesimen yang dikirim Dinas Kesehatan Kalbar ke Kementerian Kesehatan, pasien dinyatakan positif hantavirus. Virus tersebut merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan pengerat seperti tikus kepada manusia.
Harisson mengatakan dugaan sementara pasien terpapar virus setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi urine tikus di lingkungan tempat tinggalnya.
“Yang jelas dugaannya pasien ini termakan atau terminum makanan yang terkontaminasi urine tikus,” ungkapnya.
Ia kembali menegaskan hantavirus yang ditemukan di Kalbar tidak menular dari manusia ke manusia. Penularan terjadi akibat kontak dengan urine, liur, feses, maupun debu yang tercemar virus dari hewan pengerat.
Kasus ini memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi sanitasi lingkungan yang dinilai masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah. Pemerintah daerah pun mengingatkan masyarakat agar lebih waspada dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar.
Harisson meminta masyarakat memastikan makanan dan minuman selalu tertutup agar tidak terpapar tikus maupun kotorannya.
Ia juga mengimbau warga segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, mual, muntah, sesak napas, hingga gangguan ginjal setelah terpapar lingkungan kotor atau banyak tikus.
“Menutup makanan dan minuman agar tidak terkontaminasi liur, urine, atau kotoran tikus sangat penting,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penanganan pasien hantavirus dilakukan sesuai standar operasional prosedur Kementerian Kesehatan dan tata laksana infeksi zoonosis. Penanganan difokuskan pada deteksi dini, isolasi pasien, terapi suportif, serta pengendalian lingkungan sebagai sumber penularan.
Pasien dengan gejala berat ditempatkan di ruang isolasi, sementara tenaga kesehatan diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai tingkat risiko. Fasilitas kesehatan juga diminta melaporkan setiap kasus suspek maupun konfirmasi ke Dinas Kesehatan untuk mendukung pelacakan dan surveilans epidemiologi.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Erna Yulianti, membenarkan adanya satu kasus konfirmasi hantavirus di Kalbar berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen oleh Kemenkes RI.
Dinkes Kalbar kini memperkuat langkah pencegahan bersama Balai Karantina Kesehatan Kelas I Pontianak melalui pengawasan pintu masuk wilayah dan edukasi kepada masyarakat terkait PHBS.
Berdasarkan data Kemenkes, sejak 2024 hingga pekan ke-16 tahun 2026 terdapat 251 kasus suspek hantavirus di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 23 kasus dinyatakan positif, termasuk satu kasus dari Kalimantan Barat.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menegaskan hingga kini belum ada bukti penularan hantavirus antarmanusia di Indonesia.
Menurut dia, kasus hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang telah ditemukan sejak 1991 dengan strain Seoul virus.
“Hingga kini belum ada bukti penularan antar-manusia untuk tipe HFRS yang ditemukan di Indonesia,” katanya.
Terpisah, Wakil Ketua Komisi V DPRD Kalimantan Barat, Yuliani, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kebersihan lingkungan guna menekan risiko penyebaran penyakit zoonosis tersebut.
“Kalau lingkungan kotor, pasti banyak tikus. Karena itu masyarakat harus tetap waspada dan menjaga kebersihan,” ujarnya.
Yuliani juga meminta pemerintah daerah bersama dinas kesehatan terus meningkatkan sosialisasi mengenai bahaya hantavirus serta langkah mitigasi yang harus dilakukan masyarakat. ***
Editor : Aristono Edi Kiswantoro