Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pernyataan Lengkap Tiga Sekolah Finalis LCC 4 Pilar Kalbar terhadap Adanya Tanding Ulang

Aristono Edi Kiswantoro • Sabtu, 16 Mei 2026 | 00:54 WIB
Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 seleksi Tingkat Provinsi Kalimantan Barat pada 9 Mei 2026 lalu. (YOUTUBE MPR RI)
TIGA FINALIS: SMA Negeri 1 Sambas (kiri), SMA Negeri 1 Sanggau (tengah), dan SMA Negeri 1 Pontianak (kanan) saat final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 seleksi Tingkat Provinsi Kalimantan Barat pada 9 Mei 2026 lalu. (YOUTUBE MPR RI)

 

PONTIANAK POST – Polemik final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat memunculkan tiga sikap dari para finalis.

Di tengah perhatian nasional dan perdebatan panas di media sosial, SMAN 1 Pontianak memilih mundur, SMAN 1 Sambas menolak tanding ulang, sementara SMAN 1 Sanggau menyatakan siap kembali bertanding.

Keputusan tanding ulang sebelumnya diumumkan MPR RI usai muncul polemik penilaian dalam final tingkat provinsi.

MPR RI juga menyatakan pertandingan ulang akan melibatkan juri independen dari kalangan akademisi guna menjaga objektivitas.

Baca Juga: Profil Ocha: Si Bungsu yang Berjiwa Sosial Tinggi dan Aktif Mengajar Anak-Anak Kecil di Pontianak

1. SMA Negeri 1 Pontianak

SMAN 1 Pontianak menjadi sekolah pertama yang memastikan tidak akan mengikuti tanding ulang final LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar.

Kepala SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati, mengatakan keputusan itu diambil agar para siswa tidak terus larut dalam polemik berkepanjangan dan bisa kembali fokus pada pendidikan.

“Kami ingin anak-anak tetap semangat belajar dan tidak terus larut dalam polemik. Fokus utama kami tetap pendidikan dan masa depan mereka,” ujarnya saat menyambut kepulangan tim di Bandara Supadio, Kubu Raya, Kamis (14/5/2026).

Dalam pernyataan resminya, sekolah menegaskan tidak pernah berniat menganulir kemenangan pihak lain. SMAN 1 Pontianak menyebut langkah yang dilakukan hanya sebatas meminta klarifikasi atas proses penilaian final.

“SMAN 1 Pontianak tidak memiliki maksud untuk menganulir hasil lomba, melainkan semata-mata untuk memperoleh kejelasan melalui klarifikasi terhadap poin-poin yang dipersoalkan,” tulis pihak sekolah.

Di tengah polemik, Josepha Alexandra Roxa Potifera atau Ocha justru menjadi perhatian publik setelah video keberaniannya memprotes keputusan juri viral di media sosial.

Banyak warganet menilai sikap Ocha mencerminkan keberanian pelajar menyampaikan pendapat secara santun dan argumentatif.

Penelitian pendidikan juga menunjukkan keberanian siswa menyampaikan pendapat secara argumentatif menjadi indikator penting dalam pembentukan karakter demokratis dan kemampuan berpikir kritis pelajar.

Diskusi publik di media sosial juga memperlihatkan masih banyak pelajar Indonesia yang merasa takut menyampaikan pendapat karena khawatir disalahkan, dipermalukan, atau dianggap melawan otoritas di lingkungan sekolah.

Anggota MPR RI sekaligus alumni SMAN 1 Pontianak, Rifqinizamy Karsayuda, bahkan meminta Ocha dijadikan Duta Empat Pilar Kebangsaan tingkat SLTA di Kalbar.

Ia juga menjanjikan beasiswa kuliah S1 ke China bagi seluruh anggota tim LCC SMAN 1 Pontianak.

Meski mendapat perhatian luas, Ocha mengaku ingin kembali fokus belajar dan belum mengambil keputusan terkait tawaran beasiswa tersebut.

Baca Juga: Kepsek Beberkan Alasan SMAN 1 Mundur dari Tanding Ulang LCC Empat Pilar dan Nasib Ocha dkk

 

2. SMA Negeri 1 Sambas

Berbeda dengan SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas secara tegas menyatakan menolak pertandingan final ulang.

Pernyataan itu disampaikan melalui akun resmi Instagram sekolah pada Jumat, 15 Mei 2026.

Dalam sikap resminya, sekolah menegaskan peserta dari SMAN 1 Sambas telah mengikuti seluruh mekanisme lomba sesuai aturan yang berlaku dan kemenangan yang diperoleh sah menurut tata tertib panitia.

“SMAN 1 Sambas menolak pertandingan final ulang tingkat Provinsi Kalimantan Barat,” bunyi surat yang ditandatangani Kepala Sekolah tersebut.

Sekolah juga menyoroti dampak sosial dan tekanan psikologis yang dialami siswa akibat derasnya opini publik di media sosial.

Menurut pihak sekolah, tuduhan seperti kecurangan, nepotisme, hingga pengaturan kemenangan telah menyerang siswa, guru, alumni, hingga nama institusi pendidikan.

SMAN 1 Sambas meminta penyelenggara segera memulihkan nama baik sekolah serta menjamin keamanan psikologis siswa sebelum mewakili Kalbar di tingkat nasional.

Pihak sekolah mengajak masyarakat menghentikan serangan opini dan lebih mengedepankan penyelesaian yang objektif serta berkeadilan.

Sejumlah penelitian internasional menunjukkan korban cyberbullying memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, stres psikologis, hingga penurunan rasa percaya diri akibat tekanan sosial di ruang digital.

Tekanan dan hujatan di media sosial dinilai bukan sekadar perdebatan digital biasa. Berbagai penelitian juga menyebut cyberbullying pada remaja dapat memicu trauma psikologis hingga gangguan kesehatan mental jangka panjang apabila berlangsung terus-menerus.

Tingginya perhatian publik terlihat dari unggahan pernyataan resmi sekolah yang mendapat ribuan interaksi hanya dalam waktu singkat.

Baca Juga: SMAN 1 Sambas Tolak Final Ulang LCC Empat Pilar

3. SMA Negeri 1 Sanggau

Sementara itu, SMAN 1 Sanggau mengambil jalan berbeda dengan menyatakan kesiapan menghadapi tanding ulang final LCC 4 Pilar MPR RI.

Kepala SMAN 1 Sanggau, Lasino, mengatakan pihak sekolah kini fokus mempersiapkan fisik, mental, dan spiritual peserta agar mampu tampil maksimal dalam pertandingan ulang nanti.

“Kami terus menguatkan mental anak-anak agar tetap percaya diri atas kemampuan dan segala upaya yang telah dilakukan selama proses persiapan,” ujarnya dalam wawancara dengan Pontianak Post, Kamis (14/5/2026).

Menurut Lasino, kondisi fisik dan kesehatan menjadi perhatian penting karena sangat memengaruhi kesiapan siswa saat bertanding.

Selain latihan materi, sekolah juga mengingatkan siswa menjaga doa dan rasa syukur selama proses persiapan.

“Kami selalu mengingatkan anak-anak untuk tetap berdoa dan bersyukur atas semua karunia yang Allah berikan,” katanya.

Pihak sekolah berharap dukungan guru, orang tua, dan masyarakat dapat menjadi motivasi tambahan bagi peserta dalam menghadapi tanding ulang tersebut.

Kini, di tengah sorotan nasional, polemik LCC 4 Pilar Kalbar tidak lagi hanya berbicara soal menang atau kalah.

Baca Juga: SMAN 1 Sanggau Pede Hadapi Tanding Ulang LCC Empat Pilar: Terus Matangkan Persiapan, Jaga Mental dan Fisik Para Siswa

Perdebatan itu telah berkembang menjadi refleksi tentang sportivitas, keberanian pelajar menyuarakan pendapat, hingga pentingnya menjaga kesehatan mental siswa di era media sosial. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#sanggau #sambas #pontianak #SMAN 1 #pernyataan