PONTIANAK POST – Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Harisson, resmi membuka festival permainan rakyat bertajuk "Harmoni Dalam Gerak" di Halaman Museum Provinsi Kalimantan Barat, Minggu (17/5).
Festival yang didukung program Dana Indonesiana ini mengenalkan kembali sejumlah olahraga tradisional seperti gasing, sumpit, panahan tradisional, ketapel, rompak, egrang (henggerang), hingga hadang (galahadang) sebagai wahana edukasi budaya dan peningkatan kebugaran masyarakat.
Acara pembukaan yang ditandai dengan pemukulan gong ini berlangsung meriah dengan aksi tari jepin bersama yang diikuti oleh mahasiswa, komunitas olahraga, serta induk organisasi olahraga di bawah naungan KORMI Kalbar.
Dalam sambutannya, Harisson menegaskan bahwa olahraga tradisional perlu dikemas secara menarik agar mampu bersaing di tengah perkembangan teknologi dan gaya hidup modern.
Baca Juga: Wagub Resmikan Infinity Coffee, Pemprov Kalbar Dukung Usaha Kreatif dan UMKM
“Anak-anak sekarang perlu diberikan ruang aktivitas yang menyenangkan agar mau bergerak. Jika dikemas menarik, mereka akan ikut serta sehingga kesehatan tubuh mereka tetap terjaga,” ujar Harisson.
Ia menambahkan, permainan rakyat bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga memiliki potensi besar sebagai sarana edukasi multikultural yang mampu mempertemukan berbagai kalangan masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
“Permainan tradisional ini mengandung nilai kebersamaan, gotong-royong, kegembiraan, sekaligus aktivitas fisik yang baik untuk tubuh. Jadi bukan hanya budaya yang dijaga, tetapi juga kesehatan masyarakat ikut terpelihara,” katanya.
Harisson pun mengapresiasi Balai Pelestarian Kebudayaan dan seluruh pihak yang menginisiasi kegiatan. Melalui kegiatan semacam ini, menurutnya kegiatan budaya dan olahraga masyarakat dapat terus berkembang di Kalbar.
“Kegiatan seperti ini memang harus banyak dilaksanakan agar masyarakat memiliki ruang untuk tetap aktif, sehat, dan bugar,” tuturnya.
Ia berharap permainan rakyat khas Kalbar dapat terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang tergerus perkembangan zaman.
“Kalau bukan kita yang menjaga budaya sendiri, siapa lagi. Saya berharap anak-anak muda semakin mengenal permainan tradisional daerahnya sendiri dan bangga terhadap budaya Kalbar,” harapnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Rubiyanto menjelaskan bahwa festival ini digelar sebagai bentuk komitmen bersama untuk menjaga identitas budaya masyarakat Kalbar sekaligus memperkenalkan olahraga tradisional.
Menurutnya, permainan rakyat mengandung nilai pendidikan karakter, sportivitas, serta kebersamaan yang sangat penting untuk diwariskan kepada generasi penerus.
“Permainan tradisional mengajarkan kerja sama, ketangkasan, kejujuran, dan kebersamaan. Nilai-nilai ini sangat penting untuk terus ditanamkan kepada generasi muda,” kata Rubiyanto.
Meski lokasi acara sempat diguyur hujan ringan, Rubiyanto mengapresiasi antusiasme masyarakat yang tetap tinggi untuk hadir. Ia berharap festival ini dapat menjadi wadah edukasi sekaligus hiburan positif bagi masyarakat.
“Melalui festival ini kami ingin menghadirkan ruang kebersamaan yang sehat, gembira, dan penuh semangat budaya. Mudah-mudahan masyarakat semakin mencintai olahraga tradisional dan budaya daerahnya sendiri,” tutupnya. (mrd/r)
Editor : Hanif