Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Dari AI hingga Storytelling, PKSN XIII Bekali Pegiat Komsos Hadapi Tantangan Media Modern

Budi Miank • Minggu, 31 Mei 2026 | 01:53 WIB
Peserta PKSN XIII mengikuti sesi evaluasi dan bedah karya jurnalistik serta konten digital di Pontianak.(Komsos KAP)
Peserta PKSN XIII mengikuti sesi evaluasi dan bedah karya jurnalistik serta konten digital di Pontianak.(Komsos KAP)

PONTIANAK POST– Pegiat Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) dari 18 keuskupan di Indonesia didorong memperkuat media internal sekaligus membangun jejaring dengan media arus utama dalam Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (30/5/2026).

Langkah tersebut dinilai penting untuk memperluas diseminasi karya dan pesan Gereja hingga tingkat nasional maupun internasional.

Pembahasan mengenai strategi komunikasi itu berlangsung pada hari kelima PKSN XIII, bersamaan dengan evaluasi hasil praktik produksi konten peserta muda yang mencakup podcast, video pendek, konten kreatif, dan karya jurnalistik.

Baca Juga: Peserta PKSN XIII Kunjungi Komunitas Dayak, Melayu, dan Hakka untuk Belajar Keragaman Budaya Kalbar

Sekretaris Komisi Komsos KWI, RD Petrus Noegroho Agoeng, menegaskan pengelola media Gereja tidak cukup hanya mengembangkan platform internal, tetapi juga perlu membangun kolaborasi dengan media eksternal agar pesan yang memiliki nilai universal dapat menjangkau khalayak yang lebih luas.

"Ada kalanya suatu eksposur konten cukup di kalangan internal media paroki atau keuskupan. Namun banyak juga konten bernilai universal yang memerlukan sinergi dengan media arus utama. Bahkan untuk kalangan manca negara," ujar Agoeng dalam forum PKSN XIII di Pontianak.

Menurut dia, banyak kekayaan dan karya Gereja Indonesia yang layak diperkenalkan ke tingkat global.

Karena itu, Komsos di berbagai keuskupan didorong mulai menyiapkan konten berbahasa asing, minimal bahasa Inggris.

Baca Juga: PKSN XIII 2026 Dibuka dengan Nuansa Budaya Dayak, Gereja Katolik Tekankan Komunikasi yang Menyatukan

Jurnalis Katolik Gabriel Abdi Susanto yang turut menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut mengatakan tantangan berikutnya setelah menghasilkan konten berkualitas adalah menjaga konsistensi publikasi dan distribusi informasi.

"Harus jaga konsistensi produksi konten. Aktif membagikan publikasi itu agar memperoleh penyebaran lebih luas. Dengan informasi rutin dan konsisten, mudah membangun loyalitas pembaca," kata Gabriel Abdi Susanto.

Ia menambahkan media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas jangkauan audiens.

Pendekatan storytelling dinilai lebih mudah diterima masyarakat karena mampu menyampaikan pesan secara menarik dan dekat dengan pengalaman pembaca.

Sementara itu, jurnalis senior The Jakarta Post, Kornelius Purba, menilai jurnalisme Gereja memiliki peran lebih luas daripada sekadar menyampaikan informasi.

"Wartakanlah nilai-nilai Kristiani kepada dunia melalui karya jurnalistik yang humanis dan berorientasi pada good news," ujar Kornelius saat memberikan materi kepada peserta.

Baca Juga: PKSN XIII 2026 Resmi Digelar di Pontianak, Misi Menjaga Wajah Manusia di Era AI Menggema

Menurut dia, kisah-kisah yang diangkat dari sudut pandang masyarakat kecil memiliki kekuatan untuk membangun empati dan menyampaikan pesan kemanusiaan yang lebih mendalam.

Bedah Karya dan Evaluasi Produksi Konten

Selain diskusi strategi komunikasi, peserta PKSN XIII juga menjalani sesi bedah karya bersama para mentor.

Di kelas jurnalistik, hasil liputan peserta dievaluasi mulai dari teknik penulisan, pengolahan wawancara, hingga penyusunan judul berita.

"Menulis tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi belajar berkomunikasi yang baik dengan pembaca," kata Gabriel Abdi Susanto saat memberikan evaluasi.

Baca Juga: KWI Ingatkan Pegiat Komsos Gereja Katolik Tidak Terjebak Eksklusivitas di Era AI, Berbenah Hadapi Gempuran Teknologi Digital

Pada kelas podcast, mentor Jose Marwoto menyoroti pentingnya kemampuan host dalam membangun percakapan yang mengalir dan mampu menggali pengalaman narasumber secara lebih mendalam.

"Podcast yang baik tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan cerita yang mampu membuat pendengar terlibat secara emosional," ujar Jose Marwoto.

Sementara di kelas konten kreatif, mentor Ignasius Kristoper Adi Surya menekankan pentingnya keselarasan antara narasi, visual, dan audio.

Menurutnya, banyak ide peserta yang menarik, namun masih perlu peningkatan pada aspek teknis seperti kualitas suara, subtitle, dan konsistensi format video.

Di kategori video pendek, Samuel Krismanto mengingatkan peserta untuk memahami karakter dokumenter yang tidak hanya menyajikan informasi, tetapi juga menghadirkan konflik, nilai, dan makna yang lebih dalam.

"Buatlah gambar yang bercerita, bukan cerita yang diberi gambar," tegas Samuel.

Peserta Akui Mendapat Banyak Pembelajaran

Sebagian besar peserta mengaku baru pertama kali memproduksi konten secara serius dan terstruktur.

Baca Juga: Gereja Katolik Bicara Keras Soal AI dan Media Sosial, Uskup Didik Ajak Pegiat Komunikasi Hadirkan Wajah Kasih Allah di Ruang Digital

Mereka sebelumnya lebih terbiasa membuat konten yang mengikuti tren media sosial tanpa perencanaan yang matang.

Peserta kelas podcast, Robert, mengatakan dirinya mendapat pelajaran penting mengenai peran host dalam menciptakan percakapan yang natural.

"Pelajaran paling berharga bagi saya adalah mengubah wawancara yang kaku menjadi percakapan yang natural. Kemampuan host dan kenyamanan narasumber sangat menentukan kualitas," ujarnya.

Hal senada disampaikan peserta kelas video pendek, Brigita Alma. Ia menilai proses evaluasi membantu peserta memahami pentingnya keterhubungan antara alur cerita, visual, dan pesan yang ingin disampaikan kepada audiens. (*)

Editor : Budi Miank
#Komsos KWI #PKSN XIII #Media Gereja Katolik #Diseminasi Konten #Komunikasi Sosial Nasional