Pontianak membuktikan bahwa kerukunan dapat tumbuh dari hal-hal sederhana, bahkan dari secangkir kopi yang dinikmati bersama. Ketika perbedaan dipertemukan dalam ruang dialog yang hangat, toleransi pun hidup di tengah masyarakat.
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
BUKAN hanya kebijakan pemerintah atau peran tokoh masyarakat, budaya ngopi di warung kopi ternyata menjadi salah satu faktor yang membuat kerukunan masyarakat di Kota Pontianak tetap terjaga. Hal itu menarik perhatian Bupati Toraja Utara Frederik Victor Palimbong saat melakukan studi tiru bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Toraja Utara ke Kota Pontianak, Kamis (4/6).
Pontianak dipilih sebagai lokasi pembelajaran karena dinilai berhasil menjaga keharmonisan di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama. Selama kunjungan, Frederik menilai warung kopi di Pontianak bukan sekadar tempat menikmati kopi, tetapi juga ruang publik yang mempertemukan warga dari berbagai latar belakang untuk berdiskusi dan membangun kedekatan sosial.
“Filosofi warung kopi itu luar biasa. Ada pahit dan manisnya hidup dalam setiap gelas kopi,” ujarnya dalam pertemuan bersama Pemerintah Kota Pontianak dan FKUB Pontianak.
Baca Juga: Pemprov Kalbar Kembali Raih Opini WTP BPK RI atas LKPD Tahun Anggaran 2025
Menurut Frederik, budaya ngopi menciptakan ruang komunikasi yang cair sehingga berbagai persoalan dapat dibicarakan secara terbuka. Interaksi seperti itu menjadi modal penting dalam memperkuat hubungan antarmasyarakat dan mencegah munculnya konflik.
Ia mengaku terkesan karena meski Toraja Utara dikenal sebagai daerah penghasil kopi berkualitas, budaya berkumpul di warung kopi belum berkembang seperti di Pontianak. Masyarakat Toraja lebih terbiasa menikmati kopi di rumah masing-masing.
Selain budaya ngopi, Frederik juga mengapresiasi capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Pontianak yang masuk kategori sangat tinggi. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak terlepas dari kondisi daerah yang aman dan harmonis.
“Tidak ada daerah yang bisa dibangun dengan baik kalau kerukunan dan keharmonisan masyarakatnya tidak terjalin,” tegasnya.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menjelaskan, sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Barat yang heterogen, Pontianak memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga stabilitas sosial. Karena itu, pemerintah terus memperkuat komunikasi antartokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh adat.
Baca Juga: Di Sekolah Rakyat Ini, Jajanan Harus Dibagi Rata agar Tak Ada Anak yang Bersedih
Edi mengungkapkan, konflik di Kalimantan Barat secara historis lebih sering dipicu sentimen kesukuan dibandingkan agama. Untuk mencegah persoalan berkembang, pemerintah mengedepankan dialog dan musyawarah dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
“Kalau ada kejadian, tokoh-tokohnya kita undang, kita rembuk. Kalau berkaitan dengan hukum, kita serahkan kepada aparat untuk diproses,” katanya.
Menurut Edi, budaya ngopi menjadi salah satu kekuatan sosial Pontianak. Warung kopi telah berkembang menjadi ruang perjumpaan lintas suku, agama, usia, dan profesi.
“Walaupun di rumah ada kopi, suasana, obrolan, dan silaturahmi di warung kopi yang membuat tempat ini selalu ramai,” ujarnya.
Selain itu, Pemkot Pontianak terus memperbanyak ruang terbuka hijau dan fasilitas publik untuk memperluas interaksi warga. Semakin sering masyarakat berinteraksi, semakin kuat pula toleransi dan rasa kebersamaan yang terbangun.
“Pontianak ini kita bangun dengan semangat kekeluargaan. Banyak pendatang, maka kita ingin kota ini tetap ramah, nyaman, dan terbuka,” tuturnya.
Meski demikian, Edi mengakui menjaga harmoni kota bukan perkara mudah. Berbagai persoalan perkotaan, mulai dari ketertiban umum hingga tingginya mobilitas penduduk, membutuhkan keterlibatan semua pihak.
“Yang paling penting adalah komunikasi. Kalau ada masalah, kita mediasi dan carikan solusi. Dengan saling mengenal, warga akan lebih toleran dan menerima perbedaan,” pungkasnya. (iza/r)
Editor : Hanif