PONTIANAK POST - Konsumsi rokok tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dinilai menjadi salah satu faktor yang menggerus ketahanan ekonomi rumah tangga. Dalam sebuah diskusi yang membedah film dokumenter "Di Balik Ilusi Tembakau" di Pontianak, Kamis (4/6), sejumlah narasumber menyoroti besarnya biaya sosial, kesehatan, dan ekonomi yang ditimbulkan oleh konsumsi tembakau.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko mengungkapkan bahwa pengeluaran untuk membeli rokok dapat menyedot porsi cukup besar dari pendapatan keluarga, terutama kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Menurutnya, dalam beberapa kasus, pengeluaran untuk rokok dapat mencapai Rp900 ribu per bulan.
“Uang yang seharusnya bisa digunakan untuk kebutuhan pangan, pendidikan, atau kesehatan keluarga justru habis untuk membeli rokok,” ujar Saptiko.
Baca Juga: AJI Indonesia, Lahir dari Perlawanan Saat Media Dibungkam
Saptiko juga menilai kontribusi pajak rokok terhadap pembangunan daerah tidak sebesar yang selama ini dipersepsikan masyarakat. Ia menyebut penerimaan dari sektor tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan berbagai dampak yang harus ditanggung pemerintah akibat tingginya angka perokok.
Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa keberadaan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2025 tentang Kawasan Tanpa Rokok bukan bertujuan melarang masyarakat merokok. Regulasi tersebut, kata dia, lebih menitikberatkan pada perlindungan masyarakat dari paparan asap rokok.
“Yang diatur adalah agar masyarakat yang tidak merokok tidak ikut menerima dampak dari asap rokok,” tuturnya
Penulis naskah film Di Balik Ilusi Tembakau, Ambar Arum, menyoroti strategi pemasaran industri rokok yang dinilai semakin dekat dengan generasi muda. Menurutnya, penggunaan kemasan menarik dan varian rasa tertentu berpotensi membuat rokok dipandang sebagai produk yang wajar dan tidak berbahaya oleh anak-anak maupun remaja.
Baca Juga: May Day 2026: AJI Pontianak Sampaikan Empat Tuntutan kepada Pelaku Usaha Media
“Anak-anak bisa menganggap rokok sebagai sesuatu yang normal karena dikemas dengan cara yang menarik dan menyenangkan,” ungkap Ambar.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Antonius Decky, menilai penguatan regulasi daerah menjadi bagian penting dalam mendukung upaya edukasi masyarakat mengenai bahaya merokok.
Pandangan serupa disampaikan Tubagus Haryo Karbiyanto dari Komite Nasional Pengendalian Tembakau. Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar untuk mengubah pandangan masyarakat yang selama ini menganggap kebiasaan merokok sebagai sesuatu yang lumrah.
“Dampak kesehatan, beban ekonomi, dan praktik industri sering kali tidak terlihat sebagai masalah. Karena itu diperlukan upaya untuk mengubah cara pandang tersebut,” katanya.
Dari sisi ekonomi, akademisi Universitas Tanjungpura, Erni Panca Kurniasih, menilai kontribusi industri tembakau harus dihitung secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa keuntungan ekonomi yang diperoleh perlu dibandingkan dengan biaya sosial dan kesehatan yang ditanggung masyarakat.
“Faktanya menunjukkan biaya sosial dan kesehatan yang muncul justru lebih besar dibandingkan manfaat ekonominya,” ujarnya.
Baca Juga: Aldy dan Bagoes Resmi Pimpin AJI Pontianak 2026–2029, Siap Hadapi Perubahan Media
Diskusi yang digelar oleh AJI Jakarta dan AJI Pontianak itu juga menghadirkan pengalaman langsung dari peserta. Jimmy, salah seorang peserta yang sedang menjalani proses berhenti merokok, mengaku film dokumenter tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk meninggalkan kebiasaan tersebut.
“Awalnya saya berhenti karena alasan kesehatan dan ekonomi. Setelah menonton film ini, saya menyadari masih banyak dampak lain yang selama ini tidak saya pahami,” tukasnya. (nda)
Editor : Miftahul Khair