Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Jejak Filantropi Tionghoa dalam Layanan Kesehatan Indonesia: Dari Jang Seng Ie hingga Kharitas Bhakti

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 7 Juni 2026 | 21:39 WIB
Suasana lengang RS Kharitas Bhakti Jalan Siam beberapa waktu lalu. foto Shando Safela
Suasana RS Kharitas Bhakti Jalan Siam. 

PONTIANAK POST - Di Kalimantan Barat, jejak filantropi masyarakat Tionghoa paling kuat tercermin pada perjalanan RS Kharitas Bhakti di Pontianak. Rumah sakit yang berakar dari Yayasan Sosial Chung Hwa Yang Ping Suo (CHYPS) ini menjadi salah satu institusi kesehatan tertua di Kalbar. Sejak masa awal berdirinya, rumah sakit tersebut dikenal melayani masyarakat tanpa membedakan latar belakang suku, agama, maupun status sosial.

Perjalanan Kharitas Bhakti juga tidak selalu mudah. Pada masa pendudukan Jepang, aktivitas yayasan dan rumah sakit sempat terhenti. Namun semangat pelayanan sosial tidak padam. Melalui tokoh-tokoh masyarakat dan tenaga kesehatan, rumah sakit ini kembali bangkit dan pada 1960-an berkembang menjadi salah satu pusat layanan kesehatan bagi warga Pontianak dan sekitarnya.

Hingga kini, RS Kharitas Bhakti tetap mempertahankan identitasnya sebagai rumah sakit yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah pelayanan kesehatan di Kalimantan Barat.

Bagian dari Jejaring Rumah Sakit Bersejarah Tionghoa di Indonesia

Kharitas Bhakti bukanlah satu-satunya rumah sakit yang lahir dari semangat filantropi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Dalam catatan sejarah yang dihimpun Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, sejumlah rumah sakit yang kini dikenal luas oleh masyarakat ternyata berawal dari lembaga kesehatan yang didirikan komunitas Tionghoa pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan.

Beberapa di antaranya adalah Jang Seng Ie di Jakarta yang kini menjadi RS Husada, Sin Ming Hui yang kini dikenal sebagai RS Sumber Waras, Chung Hua I Yuen di Bandung yang menjadi RS Kebon Jati, Lang Tjhwan Tiong Hoa Ie Wan di Semarang yang berkembang menjadi RS Telogorejo, serta Tsi Sheng Yuan di Solo yang kemudian menjadi RS Panti Kosala sebelum dikenal sebagai RS Dr. Oen.

Selain itu terdapat Chung Hua Ie Sia di Malang yang kini menjadi RS Panti Nirmala, Soe Sioe Tiong Hoa Ie Wan di Surabaya yang berkembang menjadi RS Adi Husada, serta Chung Hua Jang Ping Suo di Pontianak yang kini dikenal sebagai RS Kharitas Bhakti.

Perubahan nama yang terjadi dalam perjalanan sejarah membuat banyak masyarakat tidak lagi mengetahui akar pendirian rumah sakit-rumah sakit tersebut. Padahal, di balik gedung-gedung pelayanan kesehatan itu tersimpan kisah panjang tentang gotong royong, pengobatan gratis bagi masyarakat kurang mampu, serta dedikasi para dokter dan tenaga kesehatan yang mengabdikan diri untuk melayani tanpa memandang suku, agama, maupun golongan.

Dalam konteks Kalimantan Barat, Kharitas Bhakti menjadi salah satu saksi hidup bagaimana semangat kemanusiaan lintas etnis telah hadir jauh sebelum isu keberagaman dan inklusivitas menjadi pembahasan publik seperti saat ini. Rumah sakit tersebut tidak hanya menyimpan sejarah komunitas Tionghoa Pontianak, tetapi juga sejarah pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat Kalimantan Barat. (**)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#sejarah rumah sakit Pontianak #Chung Hwa Jang Ping Suo #filantropi Tionghoa #rumah sakit tertua Kalbar #RS Kharitas Bhakti