Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Edi Kamtono Jenguk Pasien Gereja Stella Maris Satu per Satu, Biaya Pengobatan Ditanggung Penuh Pemkot Pontianak

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 9 Juni 2026 | 19:53 WIB
SAMBANGI KORBAN: Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyapa dan berbincang dengan pasien satu per satu di ruang perawatan RSUD Pontianak Utara, Selasa (9/6). Pemerintah Kota Pontianak memastikan seluruh biaya pemeriksaan, pengobatan, hingga perawatan korban dugaan keracunan makanan digratiskan.
SAMBANGI KORBAN: Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyapa dan berbincang dengan pasien satu per satu di ruang perawatan RSUD Pontianak Utara, Selasa (9/6). Pemerintah Kota Pontianak memastikan seluruh biaya pemeriksaan, pengobatan, hingga perawatan korban dugaan keracunan makanan digratiskan.

PONTIANAK POST – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mendatangi ruang perawatan RSUD Pontianak Utara, Selasa (9/6/2026), untuk menjenguk puluhan umat yang masih menjalani perawatan akibat dugaan keracunan makanan usai kegiatan Misa Komuni Pertama di Gereja Stella Maris Pontianak.

Di sela kunjungannya, Edi menyapa pasien satu per satu dan memastikan mereka mendapatkan pelayanan medis yang cepat. Ia juga membawa kabar yang melegakan bagi para keluarga korban: seluruh biaya pengobatan dan perawatan ditanggung Pemerintah Kota Pontianak.

“Saya hari ini berada di Rumah Sakit Pontianak Utara untuk melihat pelayanan terhadap warga kita yang masuk karena keracunan makanan. Sampai hari ini ada kurang lebih 56 pasien yang sudah kita rawat,” kata Edi.

Kisah William, Bocah 10 Tahun yang Harus Dirawat Semalam

Salah satu pasien yang ditemui adalah William, bocah berusia 10 tahun yang mengalami muntah, diare, pusing, hingga demam tinggi setelah mengikuti kegiatan Misa Komuni Pertama pada Minggu (7/6/2026).

Kakaknya, Ardeanus Rato (18), mengatakan gejala mulai muncul pada Senin dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Kondisi William yang terus muntah dan tampak lemas membuat keluarga segera membawanya ke RSUD Pontianak Utara.

“Mulai sakitnya dari kemarin jam 3 subuh. Makanya kami bawa dia ke sini jam 3 subuh,” ujar Ardeanus.

Menurut dia, adiknya sempat mengalami kondisi yang cukup berat. Selain muntah dan diare, William juga mengalami demam tinggi dan kehilangan banyak tenaga.

“Gejala awalnya pusing, lalu mual-mual, mencret, muntah juga. Kemarin lumayan parah, muntah terus, sampai lemah dan demam tinggi,” katanya.

Setelah menjalani perawatan selama satu malam, kondisi William mulai membaik meski masih dalam pemantauan tenaga medis.

Satu Keluarga Ikut Terdampak

Bukan hanya William yang mengalami gejala tersebut. Ardeanus mengungkapkan ibu dan dua adiknya yang lain juga merasakan keluhan serupa setelah mengonsumsi makanan dari kegiatan yang sama.

Namun kondisi mereka tidak separah William. Salah satu adiknya hanya menjalani pemeriksaan di puskesmas.

“Yang lain juga kena, ibu dan dua adik saya. Tapi tidak separah dia. Adik perempuan hanya ke puskesmas,” ungkapnya.

Menurut Ardeanus, makanan dibagikan kepada peserta kegiatan sekitar pukul 11.00 hingga 12.00 WIB pada Minggu siang. Menu yang disajikan terdiri dari ayam, telur, serta tumis buncis dan wortel.

“Ada ayam, telur, dan buncis yang ditumis. Telur sama buncisnya agak pedas. Katanya dari mereka, telurnya agak kurang enak waktu dimakan,” tuturnya.

Korban Bertambah Menjadi 58 Orang

Berdasarkan data terbaru, jumlah umat yang mendapatkan penanganan medis mencapai 58 orang hingga Selasa.

Kapolsek Pontianak Utara, Kompol Aris, mengatakan para korban mengalami gejala yang hampir sama, mulai dari mual, muntah, diare, pusing hingga nyeri pada bagian ulu hati.

Dari jumlah tersebut, mayoritas mendapatkan perawatan di RSUD Pontianak Utara, sementara sebagian lainnya dirawat di RS Yarsi Pontianak Timur.

Petugas masih membuka kemungkinan adanya penambahan korban karena sejumlah warga masih melakukan pemeriksaan kesehatan.

Berawal dari Misa Komuni Pertama di Stella Maris

Insiden ini terjadi setelah sekitar 300 jemaat mengikuti Misa Komuni Pertama bagi anak-anak di lingkungan Paroki Stella Maris Pontianak pada Minggu sore.

Usai kegiatan, peserta menerima paket makanan yang berisi nasi putih, ayam goreng tepung, tumis buncis dan wortel, serta telur rebus berbumbu pedas.

Beberapa jam kemudian, sejumlah peserta mulai mengalami gangguan kesehatan dengan gejala yang serupa.

Pemkot Gratiskan Seluruh Biaya Pengobatan

Di tengah kekhawatiran keluarga korban, Edi memastikan seluruh biaya pelayanan kesehatan ditanggung Pemerintah Kota Pontianak.

Kebijakan tersebut berlaku untuk pemeriksaan, obat-obatan, rawat inap, maupun layanan medis lainnya yang dibutuhkan korban.

“Ini kita gratiskan. Jadi obat, pelayanan, semuanya kita gratiskan,” tegasnya.

Menurut Edi, langkah tersebut diambil agar masyarakat dapat fokus pada pemulihan kesehatan tanpa dibebani persoalan biaya pengobatan.

Sampel Makanan Masih Diuji Laboratorium

Meski dugaan sementara mengarah pada konsumsi makanan dalam kegiatan tersebut, pemerintah dan aparat kepolisian belum menyimpulkan penyebab pasti kejadian.

Sampel makanan telah diamankan dan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.

“Penyebabnya masih kita teliti dari makanan yang ada di laboratorium. Tapi yang terpenting, saya minta penanganan cepat dan utamakan keselamatan,” kata Edi.

Warga Diminta Segera Berobat Jika Mengalami Gejala

Edi mengimbau masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut dan mengalami gejala seperti sakit perut, diare, muntah, pusing, atau menggigil untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

Ia berharap seluruh pasien yang masih dirawat dapat segera pulih dan kembali berkumpul bersama keluarga.

“Mudah-mudahan mereka dalam satu dua hari ini semakin baik dan bisa kembali ke rumah masing-masing,” pungkasnya. (iza)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Gereja Stella Maris Pontianak #investigasi #Wali kota Pontianak Edi kamtono #pengobatan gratis #keracunan makanan