Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

BMKG: Puncak Kemarau Kalbar Diprediksi Agustus-September

Aristono Edi Kiswantoro • Rabu, 10 Juni 2026 | 22:31 WIB
Ilustrasi cuaca panas di Pontianak.
Ilustrasi cuaca panas saat musim kemarau di Pontianak, Kalimantan Barat.

PONTIANAK POST – Kalimantan Barat bersiap menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal, sehingga risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis air bersih perlu diwaspadai sejak dini.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan sebagian wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat, mulai memasuki musim kemarau sejak Juni. Kondisi tersebut menjadi fase awal menuju periode paling kritis yang diperkirakan berlangsung dalam dua hingga tiga bulan mendatang.

"Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal," ujarnya dalam konferensi pers perkembangan musim kemarau 2026, Rabu (10/6).

Menurut BMKG, kondisi tersebut dipengaruhi peluang bertahannya fenomena El Nino hingga awal 2027 dengan intensitas moderat hingga kuat. Fenomena ini dapat mengurangi pembentukan awan hujan dan memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia.

Ancaman Karhutla dan Krisis Air Bersih

Berdasarkan pemutakhiran data iklim hingga akhir Mei 2026, wilayah yang memasuki musim kemarau pada Juni diproyeksikan mencapai 31,6 persen dari luas daratan Indonesia, termasuk sebagian besar Pulau Kalimantan.

Bagi Kalimantan Barat, ancaman utama bukan hanya berkurangnya curah hujan. Kemarau panjang juga meningkatkan risiko karhutla, menurunkan ketersediaan air bersih, serta memicu gangguan kesehatan akibat penurunan kualitas udara.

Masyarakat yang tinggal di kawasan gambut dan pedalaman menjadi kelompok paling rentan terdampak. Saat curah hujan menurun, sebagian warga harus mencari sumber air bersih lebih jauh dibandingkan biasanya.

Di sektor pertanian, kekeringan berpotensi mengganggu produktivitas tanaman akibat berkurangnya pasokan air untuk lahan pertanian dan perkebunan.

Dampak Asap Ancam Kesehatan Masyarakat

Apabila karhutla terjadi, dampaknya dapat meluas hingga sektor kesehatan. Asap kebakaran berisiko meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

Pengalaman pada musim kemarau sebelumnya menunjukkan kabut asap tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada pendidikan, transportasi, dan perekonomian daerah.

Lebih dari 300 Titik Rawan Karhutla Dipetakan

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, termasuk penguatan koordinasi pencegahan karhutla dan kesiapan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

"Pelaksanaan OMC dilakukan secara situasional dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer yang terjadi," katanya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar telah memetakan lebih dari 300 titik rawan kebakaran hutan dan lahan yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.

Daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi antara lain Kabupaten Sambas, Kubu Raya, Kayong Utara, Sanggau, dan Sintang. Wilayah tersebut didominasi lahan gambut yang memiliki riwayat karhutla berulang saat musim kemarau.

BMKG Minta Daerah Perkuat Mitigasi

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan informasi prakiraan iklim harus menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun strategi mitigasi dan adaptasi menghadapi musim kemarau.

Menurutnya, kesiapsiagaan sejak dini menjadi faktor penting untuk mengurangi dampak yang mungkin muncul saat kemarau mencapai puncaknya.

"BMKG secara aktif berkomunikasi, berkoordinasi, serta melakukan pendampingan kepada pemerintah daerah, Forkopimda, BPBD, dan seluruh pihak yang membutuhkan informasi lebih rinci terkait kondisi iklim saat ini," ujarnya.

BMKG juga merekomendasikan sektor pertanian menyesuaikan pola tanam dengan memilih varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan dan membutuhkan pasokan air lebih sedikit.

Selain itu, pemerintah daerah diminta memperkuat cadangan air bersih, memperbaiki jaringan distribusi air, serta meningkatkan pemantauan kualitas udara selama musim kemarau berlangsung.

Masyarakat Diimbau Waspada dan Tidak Membakar Lahan

BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah mitigasi sederhana, seperti menghemat penggunaan air, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta rutin memantau informasi cuaca dan iklim dari sumber resmi.

Kesiapsiagaan masyarakat dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk menekan risiko karhutla dan dampak sosial yang kerap muncul saat kemarau panjang melanda Kalimantan Barat. (ars)

Fakta Penting

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#BMKG Ingatkan Risiko Karhutla #Krisis Air Bersih dan ISPA Meningkat Akibat El Nino #Kemarau Kalbar #kekeringan #el nino