PONTIANAK POST – Banjir dan genangan air yang sempat merendam sejumlah ruas jalan di Kota Pontianak mulai berangsur surut pada Selasa (16/6) sore. Namun, hasil patroli Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat mengungkap persoalan drainase yang tersumbat sampah dan mengalami pendangkalan menjadi faktor utama yang memperlambat surutnya air di beberapa titik.
Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan pemantauan lapangan menunjukkan sebagian besar ruas jalan yang sebelumnya tergenang sudah mengalami penurunan debit air.
“Pada sebagian besar ruas jalan yang dipantau, kondisi genangan air telah berangsur surut. Namun masih terdapat genangan di beberapa titik, khususnya pada area drainase, parit, dan saluran pembuangan yang bermuara ke Pintu Air Tanjungpura,” ujarnya, Selasa (16/6) malam.
Genangan terjadi setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur Kota Pontianak dan sekitarnya sejak Senin (15/6) malam hingga Selasa (16/6) siang. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah ruas jalan dan kawasan permukiman terdampak luapan air.
Patroli BPBD dilakukan di sejumlah lokasi yang sebelumnya dilaporkan mengalami genangan, di antaranya Jalan Ahmad Yani, kawasan Pendopo Gubernur Kalbar, Pintu Air Tanjungpura, Jalan Gajah Mada, Jalan WR Supratman, Jalan Suprapto, Jalan Purnama, Jalan M Sohor, Pasar Flamboyan, hingga Pasar Mawar.
Berdasarkan hasil pemantauan, genangan yang masih tersisa umumnya berada di kawasan yang memiliki kapasitas drainase terbatas dan aliran air yang kurang lancar menuju saluran utama.
Daniel menjelaskan, curah hujan yang tinggi menjadi faktor utama penyebab banjir dan genangan yang terjadi di Kota Pontianak. Namun, kondisi tersebut diperparah oleh sejumlah persoalan pada sistem drainase perkotaan.
Tim patroli menemukan sejumlah saluran drainase mengalami penyumbatan akibat tumpukan sampah dan sedimentasi. Selain itu, beberapa parit serta saluran yang bermuara ke Pintu Air Tanjungpura juga mengalami pendangkalan sehingga menghambat aliran air menuju saluran pembuangan utama.
“Kapasitas tampung dan kelancaran aliran pada beberapa saluran drainase juga dinilai kurang optimal saat menerima debit air yang tinggi,” kata Daniel.
BPBD Kalbar menyimpulkan bahwa tingginya curah hujan menjadi faktor dominan penyebab banjir yang terjadi pada 16 Juni 2026. Sementara penyumbatan drainase dan pendangkalan saluran menjadi faktor pendukung yang memperlambat proses surutnya genangan.
Seiring menurunnya debit air, aktivitas masyarakat di sejumlah kawasan mulai berangsur normal. Beberapa warga terlihat membersihkan lingkungan rumah, halaman, dan saluran air dari sampah yang terbawa arus hujan.
Meski kondisi mulai membaik, BPBD Kalbar tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi hujan susulan masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, BPBD Kalbar merekomendasikan pembersihan sampah dan material yang menyumbat drainase secara berkala. Selain itu, diperlukan normalisasi dan pengerukan sedimentasi pada parit maupun saluran yang bermuara ke Pintu Air Tanjungpura.
BPBD juga mendorong peningkatan koordinasi dengan instansi terkait dalam pemeliharaan serta peningkatan kapasitas drainase perkotaan agar mampu menampung debit air saat hujan deras.
“Perlu dilakukan pemantauan lanjutan di titik-titik yang masih tergenang guna mengantisipasi potensi hujan susulan,” tutup Daniel. (bar)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro