Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Banjir Pontianak Masuk Rumah Warga, Ancam Kesehatan dan Keselamatan Anak

Mirza Ahmad Muin • Selasa, 16 Juni 2026 | 21:46 WIB
BANJIR PAWAI 1 MUHARRAM: Sejumlah peserta anak-anak dan remaja melintasi genangan banjir di Masjid Raya Mujahidin saat pelaksanaan pawai menyambut tahun baru Islam, Selasa (16/06/2026) .(HARYADI/PONTIANAK POST)
BANJIR PAWAI 1 MUHARRAM: Sejumlah peserta anak-anak dan remaja melintasi genangan banjir di Masjid Raya Mujahidin saat pelaksanaan pawai menyambut tahun baru Islam, Selasa (16/06/2026) .(HARYADI/PONTIANAK POST)

PONTIANAK POST – Banjir Pontianak akibat hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur Kota Pontianak pada Selasa (16/6) dini hari merendam sejumlah kawasan permukiman. Selain menimbulkan kerugian materi, genangan yang masuk hingga ke dalam rumah warga juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Salah satu warga Gang Melati, Kecamatan Pontianak Kota, Bambang, mengaku tidak menyangka air hujan dapat masuk hingga ke dalam rumahnya. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 04.30 WIB saat sebagian warga masih beristirahat.

“Air masuk ke dalam rumah sekitar jam setengah lima subuh. Saya juga terkejut. Selama ini kalau hujan deras paling hanya sampai halaman. Baru kali ini air masuk ke dalam rumah,” ujarnya kepada Pontianak Post.

Menurut Bambang, kondisi tersebut membuat dirinya dan keluarga panik. Ia segera mengamankan peralatan elektronik untuk menghindari risiko korsleting listrik akibat genangan yang terus meningkat.

“Kalau terlambat diamankan bisa berbahaya karena peralatan listrik berada di lantai,” katanya.

Dampak Banjir Tak Hanya Kerugian Materi

Bagi warga, banjir kali ini bukan sekadar persoalan genangan air. Rumah yang terendam berpotensi mengalami kerusakan, mulai dari perabotan hingga perangkat elektronik.

Selain itu, kondisi rumah yang lembap pascabanjir dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit, terutama penyakit kulit yang rentan menyerang anak-anak dan lanjut usia.

Banjir tidak hanya menyebabkan kerusakan rumah dan harta benda, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat. Genangan air yang bercampur lumpur dan limbah berpotensi memicu penyakit kulit, diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga leptospirosis. Anak-anak, lansia, dan warga dengan daya tahan tubuh rendah menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.

Karena itu, masyarakat diimbau segera membersihkan rumah setelah banjir surut, menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, serta menghindari kontak terlalu lama dengan air banjir. Jika muncul keluhan seperti gatal-gatal, demam, diare, atau gangguan pernapasan, warga disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Normalisasi Parit Dinilai Mendesak

Bambang menilai kapasitas saluran drainase di lingkungan permukiman tidak lagi mampu menampung volume air saat hujan deras terjadi.

Menurutnya, ukuran parit yang semakin menyempit serta kedalaman yang tidak merata membuat aliran air kurang optimal. Karena itu, normalisasi drainase dinilai perlu dilakukan secara berkala, tidak hanya pada parit besar tetapi juga saluran kecil di lingkungan warga.

“Parit yang dulu mampu menampung air sekarang terasa semakin sempit. Perlu normalisasi rutin supaya air tidak meluap ke rumah warga,” ujarnya.

DPRD Soroti Persoalan Banjir Jangka Panjang

Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin, mengatakan kondisi geografis Pontianak memang membuat sejumlah wilayah rentan mengalami genangan saat hujan deras terjadi dalam waktu lama.

Menurutnya, risiko banjir akan semakin besar ketika curah hujan tinggi bertepatan dengan pasang air laut atau pasang Sungai Kapuas. Kondisi tersebut menyebabkan air sulit mengalir keluar sehingga menggenangi jalan dan permukiman warga.

“Persoalan genangan ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan langkah jangka pendek,” katanya.

Satarudin menilai terdapat sejumlah faktor yang memicu banjir, mulai dari penyempitan saluran drainase hingga masih ditemukannya sampah yang menyumbat aliran air.

Karena itu, ia mendorong adanya strategi penanganan banjir yang terukur untuk jangka menengah dan panjang. Salah satunya dengan pendataan rinci kondisi drainase, normalisasi saluran, serta penyediaan pompa penyedot air di kawasan rawan genangan.

Kondisi banjir dan genangan di Kota Pontianak bukan kali pertama terjadi. Karakter geografis kota yang berada di dataran rendah serta dipengaruhi pasang surut Sungai Kapuas dan air laut membuat sejumlah kawasan rentan terdampak saat hujan berintensitas tinggi terjadi dalam waktu bersamaan dengan pasang air. Pemerintah Kota Pontianak sebelumnya juga telah melakukan berbagai upaya mitigasi, mulai dari normalisasi drainase, peninggian jalan, hingga pengoperasian sistem pompa untuk mempercepat pembuangan air ke Sungai Kapuas. Namun, tingginya curah hujan dan kondisi topografi yang relatif datar masih menjadi tantangan dalam pengendalian banjir di kota ini.

Beberapa kawasan yang dilanda banjir diantaranya di Jalan Ahmad Yani, kawasan Pendopo Gubernur Kalbar, Pintu Air Tanjungpura, Jalan Gajah Mada, Jalan WR Supratman, Jalan Suprapto, Jalan Purnama, Jalan M Sohor, Pasar Flamboyan, hingga Pasar Mawar.

BPBD Ingatkan Warga Waspadai Debit Air Tinggi

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak, M Nasir, mengatakan pihaknya terus memantau wilayah-wilayah rawan banjir, terutama kawasan permukiman yang berada di sekitar Sungai Kapuas.

BPBD juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi debit air masih tinggi.

Perhatian khusus diberikan kepada aktivitas anak-anak yang bermain di sekitar genangan maupun bantaran sungai. Menurut Nasir, kondisi tersebut dapat membahayakan keselamatan, terutama bagi anak yang tidak memiliki kemampuan berenang.

“Pengawasan terhadap anak-anak harus diperketat. Dengan debit air yang tinggi, risiko kecelakaan bisa meningkat jika tidak diantisipasi sejak awal,” ujarnya.

Banjir Menjadi Pengingat Pentingnya Mitigasi

Peristiwa banjir yang merendam rumah warga pada Selasa dini hari menjadi pengingat bahwa persoalan drainase, pengelolaan lingkungan, dan mitigasi bencana masih menjadi tantangan besar bagi Kota Pontianak.

Di balik genangan yang perlahan surut, tersimpan kekhawatiran warga terhadap kesehatan keluarga, kerusakan harta benda, hingga keselamatan anak-anak. Karena itu, upaya penanganan banjir tidak hanya membutuhkan intervensi pemerintah, tetapi juga partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan dan saluran air tetap berfungsi optimal. (iza)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#hujan deras Pontianak #rumah terendam banjir #Banjir Pontianak #bpbd pontianak #Normalisasi Parit