PONTIANAK POST – Banjir meluas di sejumlah wilayah Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya setelah hujan deras mengguyur sejak Senin (15/6) malam hingga Selasa (16/6) pagi. Air tidak hanya menggenangi ruas jalan utama, tetapi juga masuk ke rumah-rumah warga. Di saat yang sama, BMKG memperingatkan puncak banjir rob diperkirakan masih berlangsung hingga 20 Juni 2026.
Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu. Sejumlah kendaraan mogok saat menerobos genangan, sementara warga berupaya menyelamatkan barang elektronik dan perabot rumah tangga agar tidak rusak akibat terendam air.
Warga Terbangun Saat Rumah Sudah Tergenang
Faisal, warga Jalan Wan Sagaf, Kecamatan Pontianak Kota, mengaku terkejut saat terbangun sekitar pukul 05.00 WIB dan mendapati air telah masuk ke dalam rumahnya.
“Biasanya kalau hujan deras air hanya sampai halaman. Tapi kali ini sudah masuk ke dalam rumah,” ujarnya.
Faisal dan keluarganya langsung mengangkat barang-barang yang berada di lantai untuk menghindari kerusakan dan risiko korsleting listrik.
Pengalaman serupa dialami Mega, warga Jalan Purnama. Menurutnya, banjir kali ini termasuk yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
“Biasanya hanya sampai teras. Sekarang air sudah masuk ke dalam rumah,” katanya.
Jalan Utama Tergenang, Kendaraan Banyak Mogok
Genangan juga terjadi di sejumlah ruas jalan utama seperti Jalan Ahmad Yani, Jalan Uray Bawadi, Jalan Purnama, Jalan Gusti Sulung Lelanang, Jalan Podomoro, Jalan Gajah Mada, hingga beberapa titik lain di pusat Kota Pontianak.
Di sejumlah lokasi, ketinggian air mencapai di atas mata kaki hingga sebetis orang dewasa. Akibatnya, banyak pengendara sepeda motor mengalami mogok dan harus mendorong kendaraannya keluar dari genangan.
Menurut warga, kondisi tersebut kerap terjadi saat hujan deras bertepatan dengan pasang air laut.
“Kalau hujan deras ditambah air pasang biasanya langsung banjir. Tadi juga banyak motor mogok,” kata Siti, warga Pontianak.
Risiko Kesehatan Mulai Mengintai
Selain kerugian materi, warga mulai mengkhawatirkan dampak kesehatan pascabanjir. Rumah yang lembap berpotensi meningkatkan risiko penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, hingga leptospirosis.
Kelompok yang paling rentan terdampak adalah anak-anak, lansia, serta warga dengan daya tahan tubuh rendah.
Masyarakat diimbau segera membersihkan rumah setelah air surut, menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, dan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala penyakit pascabanjir.
BPBD: Banjir Dipicu Hujan Deras dan Pasang Laut
Kepala BPBD Kota Pontianak, M Nasir, mengatakan banjir kali ini merupakan dampak kombinasi hujan berintensitas tinggi dan pasang air laut yang terjadi secara bersamaan.
BPBD terus melakukan pemantauan di kawasan rawan banjir, terutama permukiman yang berada di sekitar Sungai Kapuas.
“Kondisi air saat ini cukup tinggi. Anak-anak harus diawasi karena sangat berbahaya, terutama yang tidak bisa berenang,” ujarnya.
Menurut Nasir, kejadian anak tenggelam saat banjir pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya sehingga pengawasan orang tua harus diperketat.
DPRD Dorong Penanganan Jangka Panjang
Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin, menilai banjir tidak hanya dipicu faktor cuaca, tetapi juga persoalan drainase dan lingkungan yang harus ditangani secara berkelanjutan.
Ia menyebut penyempitan parit, sedimentasi, serta sampah yang menyumbat saluran air masih menjadi persoalan utama yang memperparah genangan.
“Ketika hujan deras bersamaan dengan pasang air laut, risiko banjir meningkat. Karena itu penanganannya harus dilakukan secara menyeluruh,” katanya.
Satarudin mendorong normalisasi drainase, pendataan detail kondisi parit, serta penyediaan pompa penyedot air di kawasan rawan banjir sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
BPBD Kalbar: Genangan Mulai Surut
Meski demikian, kondisi genangan di sejumlah wilayah mulai menunjukkan penurunan pada Selasa sore.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan hasil patroli menunjukkan sebagian besar ruas jalan yang sebelumnya tergenang telah mengalami penurunan debit air.
Namun genangan masih ditemukan di sejumlah kawasan yang memiliki kapasitas drainase terbatas dan saluran pembuangan yang belum optimal menuju Pintu Air Tanjungpura.
BPBD Kalbar merekomendasikan pembersihan drainase secara berkala, normalisasi saluran air, serta peningkatan kapasitas drainase perkotaan untuk mengurangi risiko banjir berulang.
BMKG: Puncak Banjir Rob Belum Terjadi
Di tengah genangan yang mulai surut, BMKG Maritim Pontianak mengingatkan ancaman belum berakhir. Puncak pasang air laut diperkirakan masih berlangsung pada periode 16–20 Juni 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Pontianak, Raden Eko Sarjono, mengatakan pasang maksimum diprediksi mencapai 1,9 hingga 2 meter dengan periode kritis pada pukul 18.00–21.00 WIB.
Fenomena bulan baru yang terjadi pada 15 Juni menjadi pemicu utama peningkatan muka air laut. Kondisi tersebut diperparah oleh potensi hujan ringan hingga sedang yang masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa hari ke depan.
Karena itu, masyarakat pesisir, bantaran Sungai Kapuas, dan kawasan dataran rendah diminta tetap siaga serta terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG.
“Kepada masyarakat agar mewaspadai dampak banjir rob yang masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan,” kata Eko. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro