Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Cegah Aksi Bunuh Diri, Guru BK Harus Beri Pendampingan

Novantar Ramses Negara • Rabu, 17 Juni 2026 | 16:13 WIB
Ilustrasi (AI)
Ilustrasi (AI)

PONTIANAK POST - Fenomena anak mengambil keputusan mengakhiri hidup menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kalbar mendorong penguatan deteksi dini, peran sekolah, hingga ketahanan keluarga sebagai langkah pencegahan.

Kepala DP3AKB Kalimantan Barat Marlyna Almuthahar mengatakan, kasus seperti bunuh diri pada anak memang tergolong jarang terjadi.

Namun, setiap kejadian menjadi perhatian serius karena menunjukkan adanya persoalan yang perlu ditangani bersama, baik dari lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Menurutnya, anak-anak perlu mendapatkan penguatan agar memiliki ketahanan diri ketika menghadapi persoalan.

Salah satu upaya yang dilakukan DP3AKB adalah berkoordinasi dengan sektor pendidikan agar penguatan tersebut dapat dilakukan melalui sekolah.

“Anak-anak ini memang perlu diberikan penguatan-penguatan agar mereka lebih tangguh. Kami sudah mencoba berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, salah satunya melalui guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah agar bisa memberikan pendampingan kepada anak-anak,” ujar Marlyna di ruang kerjanya, baru-baru ini.

Ia mengatakan, keberadaan guru BK menjadi salah satu pintu awal dalam mendeteksi persoalan yang dialami peserta didik.

Terutama ketika anak menghadapi masalah seperti perundungan atau tekanan sosial di lingkungan sekolah.

“Bullying ini bisa berdampak panjang. Karena itu kami coba bagaimana caranya agar kasus bullying di sekolah bisa menurun,” katanya.

Selain lingkungan sekolah, Marlyna menilai ketahanan keluarga menjadi faktor penting dalam membangun perlindungan anak.

Menurutnya, keluarga memiliki peran besar karena sebagian besar waktu anak berada di lingkungan rumah.

Karena itu, DP3AKB juga mendorong sinergi dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam memperkuat program ketahanan keluarga.

“Peranan keluarga sangat penting. Anak-anak lebih banyak berada bersama keluarga setelah selesai sekolah. Makanya ketahanan keluarga juga menjadi hal yang perlu diperhatikan,” jelasnya.

Marlyna menyebut, pengaruh terhadap perilaku anak tidak dapat dilihat dari satu faktor saja.

Perkembangan teknologi, lingkungan pergaulan, kondisi keluarga, hingga faktor ekonomi dapat saling berkaitan. 

Menurutnya, penggunaan gawai juga dapat menjadi salah satu faktor karena anak bisa mengakses berbagai informasi secara cepat, termasuk informasi yang berpotensi memberikan pengaruh negatif.

“Banyak hal yang bisa memengaruhi. Bisa dari gawai, keluarga, teman, maupun kondisi lingkungan. Jadi tidak bisa kita katakan hanya satu faktor,” ujarnya.

Ia mencontohkan salah satu kasus anak yang sebelumnya terjadi setelah anak tersebut mendapat tekanan akibat persoalan di sekolah.

Anak tersebut diduga tidak mampu menghadapi tekanan setelah persoalannya diketahui banyak pihak.

Dalam upaya penanganan kasus kekerasan terhadap anak, DP3AKB Kalbar juga memiliki unit layanan yang memberikan pendampingan kepada korban.

Penanganan dilakukan mulai dari asesmen kondisi korban, pendampingan psikologis, hingga koordinasi dengan tenaga medis apabila diperlukan.

Marlyna menjelaskan, pendampingan awal dilakukan sesuai standar operasional prosedur selama dua minggu untuk melihat kondisi korban.

“Kami lakukan pendampingan, Kami analisis apakah membutuhkan psikolog atau tidak. Kalau setelah dua minggu kondisinya stabil, kami pulangkan. Tetapi kalau masih membutuhkan pendampingan, kita perpanjang,” jelasnya.

Ia menyebut, kasus yang paling banyak ditangani berkaitan dengan kekerasan terhadap anak, terutama kekerasan seksual yang dalam beberapa kasus dilakukan oleh orang terdekat.

“Kekerasan paling banyak. Terutama kekerasan seksual, sering kali dilakukan oleh keluarga terdekat, meskipun ada juga yang bukan,” ungkapnya.

Untuk mencegah kasus serupa terjadi, Marlyna mengingatkan pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak.

Menurutnya, perhatian, kasih sayang, dan ruang komunikasi menjadi kunci agar anak tidak menghadapi masalah sendirian.

“Komunikasi, kasih sayang, dan perhatian itu yang paling penting. Ketika anak merasa tidak punya tempat bercerita, itu bisa memicu mereka mengambil keputusan sendiri,” katanya.

Ia berharap, seluruh pihak mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah dapat bersama-sama membangun lingkungan yang lebih aman bagi anak.

“Yang paling penting bagaimana kita lebih peduli dan memperhatikan anak-anak,” tutup Marlyna. (*)

Editor : Chairunnisya
#anak #bunuh diri