Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Perundungan, Tekanan Akademik, hingga Konflik Keluarga Picu Anak Akhiri Hidup

Marsita Riandini • Rabu, 17 Juni 2026 | 16:22 WIB
 Yulia Ekawati Tasbita
Yulia Ekawati Tasbita

PONTIANAK POST- Maraknya kasus remaja yang memilih mengakhiri hidup menjadi peringatan bagi keluarga dan lingkungan untuk lebih peka terhadap kesehatan mental.

Berbagai persoalan yang dihadapi seorang remaja dapat menumpuk dari waktu ke waktu hingga memunculkan rasa putus asa dan kehilangan harapan.

Psikolog dari Persona Consulting, Yulia Ekawati Tasbita, mengatakan kondisi tersebut dapat dipicu oleh akumulasi berbagai masalah yang dialami remaja, baik di sekolah, di rumah, lingkungan pergaulan, maupun yang berasal dari dirinya sendiri.

Menurut Yulia, perundungan, tekanan akademik, hingga konflik keluarga menjadi faktor yang dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk mengakhiri hidupnya.

“Adanya akumulasi berbagai faktor dari permasalahan yang dialami anak saat di sekolah, di rumah, lingkungan bermain, bahkan dalam diri anak itu sendiri. Perundungan, tekanan akademik, atau konflik keluarga juga berpengaruh besar terhadap keputusan anak mengakhiri hidupnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tidak semua remaja memiliki kemampuan bertahan atau mekanisme koping yang baik ketika menghadapi tekanan.

Pada usia tersebut, kemampuan mengelola emosi dan menyampaikan perasaan kepada orang lain masih berkembang sehingga banyak yang memilih memendam masalahnya sendiri.

Akibatnya, tekanan yang terus menumpuk dapat berkembang menjadi depresi. Perasaan kesepian, tidak berharga, dan merasa tidak disayangi pun dapat muncul.

“Muncul perasaan kesepian, tidak berharga, tidak berguna, tidak ada yang menyayanginya sehingga munculah keinginan bunuh diri,” ujarnya. (*)

               

Perubahan Perilaku Perlu Diwaspadai

 

Yulia mengingatkan keluarga untuk memperhatikan perubahan perilaku yang terjadi pada remaja, baik secara fisik maupun psikis. Tanda-tandanya antara lain perubahan dari pribadi yang ceria menjadi murung, menarik diri dari lingkungan, hingga berkurangnya interaksi sosial. Selain itu, prestasi belajar yang menurun, hilangnya semangat, lebih sering sedih atau marah juga perlu mendapat perhatian.

Dalam kondisi tertentu, remaja dapat menunjukkan perilaku menyakiti diri sendiri. Gangguan nafsu makan yang menyebabkan tubuh menjadi kurus serta masalah tidur juga termasuk gejala yang perlu diwaspadai.

Menurut Yulia, sebagian remaja bahkan mengekspresikan perasaannya melalui tulisan dalam buku harian atau gambar yang dibuat berulang-ulang.

“Kenali perubahan perilaku pada anak, terutama ketika sudah menunjukkan tanda-tanda tersebut,” paparnya.

Yulia menilai salah satu kesalahan yang kerap dilakukan orang tua adalah menganggap remeh persoalan yang dihadapi anak. Padahal, setiap individu memiliki kondisi mental dan kemampuan menghadapi tekanan yang berbeda-beda.

Ia mengingatkan agar orang tua tidak menghakimi maupun meremehkan cerita yang disampaikan anak. “Mengatai anak lebay, begitu saja tidak bisa. Cengeng kamu. Begitu saja nangis. Hal-hal yang membuat anak tidak nyaman menerimanya,” ucapnya.

Sebaliknya, orang tua perlu menjadi pendengar yang baik dan berusaha memahami perasaan anak tanpa memberikan penilaian negatif. Dengan demikian, anak akan merasa dihargai, diterima, dan memiliki tempat yang aman untuk bercerita.

“Jika anak membutuhkan bantuan teman-teman profesional misalnya psikolog, psikiater terdekat maka bawalaah anak untuk mengonsultasikan kondisi yang dialaminya,” ucapnya.

Selain faktor lingkungan dan keluarga, aktivitas di media sosial juga turut memengaruhi kesehatan mental remaja. Penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat menjadi sumber stres yang terus bertambah.

Perundungan pun tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga dapat berlangsung di ruang digital. Kondisi tersebut bisa dialami remaja baik di perkotaan maupun pedesaan, meskipun dengan karakter persoalan yang berbeda.

“Namun biasanya persoalan yang dihadapi anak-anak di perkotaan lebih kompleks,” ujarnya.

Di Kalimantan Barat, akses layanan kesehatan mental bagi remaja masih belum merata, terutama di daerah-daerah yang jauh dari pusat kota. Yulia menjelaskan, masyarakat di Kota Pontianak relatif lebih mudah memperoleh layanan psikolog maupun psikiater karena jumlah tenaga profesional yang lebih memadai. Meski demikian, layanan serupa juga telah tersedia di sejumlah kabupaten meskipun masih terbatas.

“Meski begitu, psikolog, psikiater, lembaga psikologi juga telah tersebar di beberapa kabupaten meski jumlahnya terbatas,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan layanan edukasi dan informasi yang dapat diakses secara daring menjadi salah satu keuntungan saat ini. Namun, pemerataan layanan kesehatan mental hingga ke pelosok daerah masih menjadi tantangan.

“Layanan kesehatan mental di Kalimantan Barat belum merata untuk bisa terjangkau sampai ke pelosok daerah. Kalau pun ada, sifatnya masih terbatas,” pungkasnya.

Editor : Chairunnisya
#bunuh diri