Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

SARAPAN PAGI; Bubur Tahu Aseng, Tiga Dekade Menjaga Rasa di Sudut Pasar Flamboyan

Salman Busrah • Jumat, 19 Juni 2026 | 09:18 WIB
Aseng penjual Bubur Tahu sejak tahun 1990 di Pasar Flamboyan.
Aseng penjual Bubur Tahu sejak tahun 1990 di Pasar Flamboyan.

Matahari baru saja meninggi ketika sudut Pasar Flamboyan mulai dipenuhi lalu-lalang pembeli. Di tepi parit yang membelah kawasan pasar, di bawah payung warna-warni yang sudah tampak kusam dimakan usia, seorang pria tua berdiri di belakang gerobaknya. Tangannya bergerak cepat, seolah tak pernah lelah mengulang pekerjaan yang sama selama puluhan tahun.

Namanya Aseng.

Usianya 66 tahun. Namun dari gerakannya, sulit menebak bahwa ia telah memasuki masa yang oleh banyak orang disebut usia senja. Dengan cekatan ia mengambil mangkuk putih, menuangkan bubur tahu yang lembut, menyiramkan kuah manis hangat, lalu menyerahkannya kepada pelanggan yang datang silih berganti.

Aseng adalah satu dari sedikit pedagang bubur tahu yang masih bertahan di Pasar Flamboyan. Ia telah berjualan sejak pasar itu pertama kali berdiri. Tiga dekade berlalu, namun tempatnya nyaris tak berubah. Gerobak sederhana itu tetap berada di pinggir parit, menjadi bagian dari lanskap pagi Pasar Flamboyan yang tak terpisahkan.

Setiap hari, sebelum kebanyakan warga Pontianak terbangun dari tidurnya, Aseng sudah memulai perjalanan. Sekitar pukul empat subuh, ia mendorong gerobak dari rumahnya di Jalan D.I. Panjaitan menuju pasar.

Aseng dengan cekatan menyiapkan hidangan Bubur Tahu. Usia tak menghalanginya berjualan.
Aseng dengan cekatan menyiapkan hidangan Bubur Tahu. Usia tak menghalanginya berjualan.

 Jarak dan usia tak lagi menjadi alasan. Begitulah kehidupan yang dijalaninya selama bertahun-tahun.

Di tengah derasnya perubahan zaman, ketika banyak pedagang lama memilih berhenti atau beralih usaha, Aseng tetap setia menjaga gerobak dan resep leluhur yang telah menghidupi keluarganya.

Namun yang membuat pelanggan terus datang bukan semata karena nostalgia.

Melainkan rasa.

Semangkuk bubur tahu racikan Aseng menghadirkan kelembutan yang langsung terasa saat menyentuh lidah. Teksturnya halus seperti sutra, hangat, dan mudah lumer di mulut. Kuah manisnya tidak berlebihan, justru menghadirkan keseimbangan yang membuat rasa kedelai tetap dominan.

Aroma kedelai yang kuat menjadi ciri khasnya. Gurihnya terasa alami, bukan gurih yang datang dari tambahan perasa. Setiap suapan menghadirkan rasa bersih dan ringan, namun meninggalkan jejak yang membuat orang ingin menyendok lagi.

Tak heran banyak pelanggan mengaku sulit berpaling ke tempat lain.

Rahasia rasa itu ternyata terletak pada bahan baku.

Aseng tetap menggunakan kedelai impor dari Amerika Serikat. Menurutnya, biji kedelai tersebut memiliki ukuran lebih besar dengan kandungan lemak yang lebih tinggi dibanding kedelai biasa. Hasilnya adalah bubur tahu yang lebih lembut, lebih harum, dan memiliki rasa gurih yang khas.

Pilihan itu tentu tidak murah.

Bubur Tahu Aseng sudah ada sejak Pasar Flamboyan di bangun pada tahun 1990-an.
Bubur Tahu Aseng sudah ada sejak Pasar Flamboyan di bangun pada tahun 1990-an.

Ketika nilai tukar dolar melonjak, harga kedelai ikut merangkak naik. Beban biaya produksi semakin berat. Namun Aseng memilih bertahan dengan kualitas yang sama.

Ia enggan mengorbankan rasa yang selama ini menjadi alasan pelanggan datang kembali.

Pagi terus bergerak. Satu per satu mangkuk berpindah tangan. Di belakang gerobak, kantong-kantong bubur tahu yang siap dibawa pulang mulai berkurang jumlahnya.

Biasanya sekitar pukul 09.30, dagangan Aseng sudah habis.

Saat itulah ia kembali bersiap pulang, menutup satu lagi babak pagi yang telah dijalaninya selama puluhan tahun.

Di tengah gempuran makanan modern dan tren kuliner yang datang silih berganti, bubur tahu Aseng mungkin terlihat sederhana. Tidak ada kemasan mewah, tidak ada promosi media sosial, apalagi papan nama yang mencolok.

Yang ada hanyalah ketekunan seorang pedagang tua, resep yang dijaga dengan sepenuh hati, dan semangkuk bubur tahu hangat yang tetap mampu menghadirkan rasa nyaman bagi siapa saja yang menikmatinya.

Kadang-kadang, sarapan terbaik memang bukan yang paling mahal atau paling viral.

Melainkan yang dibuat dengan kesabaran, kejujuran, dan pengalaman selama puluhan tahun. Dan di sudut Pasar Flamboyan itu, Aseng masih setia menjaga semuanya.(mankeong)

Editor : Salman Busrah
#Sarapan pagi #bubur tahu #Kedelai #pasar flamboyan